
"Guys, gimana abis ini kita ke Pantai Tanjung Benoa?."usul Alex.
"Benar tuh, mumpung kita masih di Bali." Seru Rio.
"Oke, gue setuju." Rangga menyetujui usul Alex.
"Tapi aku ngga bisa, Yank. Aku ngga bisa ninggalin Adlan dan Adline, Yank." Aku sedih. "Sebenarnya gue mau ikut, nasib-nasib jadi orangtua." Batin ku.
"Di ajak aja anak loe, gitu aja repot." Celetuk Adi.
Tok. Aku memukul Adi pakai sendok.
"Kalau ngomong enak banget, anak gue masih kecil. Kasihan kena matahari yang nyengat tau." Sewot ku.
"Aauuww. Sakit tau. Bini loe sadis banget KDRT nih. Hati-hati loe sama bini loe, nanti loe bisa-bisa loe di gorok." Ejek Adi.
"Apa loe bilang, sini gue gorok leher loe." Aku tambah emosi.
Cup. Rangga mencium bibir ku. Aku jadi terdiam dan merona.
"Ini yang bisa bini gue berhenti marah sama gue. Apalagi yang itu dia ngga akan berkutik." Bangga Rangga.
Setelah sarapan kami menuju Pantai Tanjung Benoa. Adlan dan Adline di titip sama para orangtua. Sesampai disana Aku foto selfi sendiri
Aku juga berfoto Rangga, Randy, Alex, Chika
__ADS_1
dan Audy naik parasailing.
Sedangkan Aku, Tania, Rio dan Adi Sea walker.
Melihat keindahan dalam laut dan memberikan makan ikan-ikan kecil. Aku sangat senang sekali. "Subhanallah, Sungguh indah ciptaan Mu, Ya Allah." Batinku terkagum-kagum.
Setelah puas bermain di Pantai Tanjung Benoa, berbagai wahana kami naiki. Karena hari sudah hampir senja kami kembali ke hotel. Kami bersih-bersih diri masing-masing. Kami ngumpul kembali di restoran untuk makan malam. Kali ini aku membawa Adlan dan Adline.
"Hai Ganteng Adlan dan cantik Adline keponakan Aunty Tania." Seru Tania mendekati ku dan Rangga yang sedang menggendong Adlan dan Adline.
"Hai Aunty Tania." Kata ku sambil melambaikan tangan Adlan.
"Boleh aku gendong, Rei." Tania minta izin gendong Adlan.
"Boleh nih." Aku memberi Adlan ke Tania.
"Aku juga mau." Chika yang tak mau kalah.
"Nih, hati-hati jangan sampai anak gue celaka." Sinis Rangga memberikan Adline.
"Iya, Deddy kamu galak. Kamu jangan kaya Deddy, ya. Adline cantik." Kata Chika yang gendong Adline.
__ADS_1
Kami bercanda-canda sampai tak terasa waktu sudah menujukkan jam 10 malam. Kami pun kembali ke kamar masing-masing.
"Yang, Berlibur bersama lebih menyenangkan, ya." Ucap ku memeluk Rangga yang sedang mengganti pakaian.
"Iya, Yank." Rangga membalikan badan dan memeluk ku.
"Aku punya sesuatu, tunggu disini." Rangga menuju meja dan membawa sebuah kotak hitam.
"Nih buat kamu." Rangga memberikan ku kotak hitam.
"Ini apa, Yank?." Tanya ku.
"Buka aja, Yank." Rangga memeluk ku. Aku membuka kotak hitam pelan-pelan dan terkejut melihat kalung mas putih liontin
love.
"Terimakasih, Yank." Aku memeluk Rangga.
"Kalung ini bertanda cinta ku selalu terikat cinta mu untuk selama-lamanya." Rangga memakaikan kalung di leher ku.
"So sweet banget suamiku ini." Aku mencubit gemes pipi Rangga.
"Sakit, Yank." Kata Rangga.
"Maaf, Yank. I Love you." Aku mencium bibir Rangga, lalu berlari keranjang.
__ADS_1
"Kamu sangat menggoda, Yank." Rangga mengikuti ku. Kami melakukan olahraga malam dengan penuh hasrat.
Hai reader jangan lupa komentar dan likenya. Baca juga novel ku judulnya "Penantian Tertunda." ya.