
"Siapa pria bertopeng itu sangat mirip dengan Rangga." Batin Ku. Aku lihat mereka saling hajar menghajar, ku lihat Rangga yang di kursi roda juga ikut dalam pertarungan.
"Berhenti..., kalian menyerah saja. Kalau ngga wanita ini akan Gue bunuh." Teriak Ervan, menodong pistol ke leher ku. Pandangan ku masih buram.
"Lepasin istri Gue." Pria bertopeng terlihat cemas.
"Iya, itu suara Rangga. Tapi kenapa ada di Pria bertopeng itu." Batinku. Dengan sisa tenaga ku. Aku mencengkeram Stevennya Ervan, hingga Ervan kesakitan dan melepas pistol. Aku mengambil pistol dan ku berikan kepada Pria bertopeng. Lalu aku sudah tak sanggup dan tak sadarkan diri.
Reina terjatuh di lantai. Pria bertopeng itu menembak kaki dan tangan Ervan, hingga Ervan tak dapat bangun.
"Sudah untung Gue ngga bunuh Loe, karena Gue ngga mau anak-anak Loe kehilangan sosok sang ayah." Pria Bertopeng mendekati Ervan.
"Siapa Loe sebenarnya?." Ervan menahan kesakitan. Lalu Pria itu melepas topengnya.
"Loe, berarti yang disana?." Ervan gelagapan.
"Itu Leo anak buah Arkana, sekarang Loe Gue minta taubatlah. Kasihan anak dan istri Loe." Kata Rangga berdiri dan menuju Istrinya yang sedang terbaring di lantai.
"Ini benar kamu, sayang." Aku bangun dan melihat Rangga di depan ku.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku sangat merindukan mu." Rangga memeluk ku dan aku meneteskan air mata.
"Selama ini berarti dugaan aku, benar kalau dia bukan kamu, sayang." Aku menangis pecah.
"Iya aku tau, sudah kamu jangan bicara terlebih dahulu. Kamu istirahatlah dulu, Yank." Rangga mengendong ku. Aku menatap Rangga, aku seperti mimpi bisa ketemu Rangga kembali. Lama-kelamaan mata ku mulai mengantuk dan aku memejamkan mata perlahan-lahan.
Keesokan Pagi
Aku membuka mata dan melihat sekeliling, merasa asing dengan tempat ini. Aku duduk dan bersandar.
"Ini dimana?, apa yang terjadi kemarin? kemarin aku melihat Rangga. Aaarrrggghhh... kepala aku pusing banget." Aku memijat kepala ku.
"Jadi ini benar kamu, Sayang." Aku memeluk Rangga.
"Iya, Sayang. Aku sangat merindukan kamu." Rangga mencium kening ku.
"Selama ini kamu berada dimana?." Aku menatap Rangga.
"Nanti aku ceritakan, sekarang kamu sarapan dulu. Aku udah memasak buat kamu." Rangga mengambil sarapan dan menyuapi ku.
__ADS_1
Setelah sarapan dan mandi, Rangga mengajak ku ke taman dan Rangga menggenggam tangan ku.
"Sayang, ayo ceritain semuanya sama aku." Aku memeluk dan menatap Rangga.
Rangga menceritakan semuanya kepada ku, aku mendengarnya air mata menetes. Rangga memeluk ku.
"Hey, kamu kok jadi menangis si. Lihat aku ngga apa-apa dan masih tetap terlihat ganteng." Ucap Rangga PD.
"Ih, nyebelin. Aku khawatir kamu malah kepedean." Aku mencubit perut Rangga.
"Auww... Kamu tetap aja galak, aku suka malah tambah suka. I Love you my wife..." Rangga memelukku dan mencium kilas bibirku.
"Walau kamu sangat nyebelin, tapi aku cinta sama kamu." Aku menenggelamkan wajah ku di dada bidang Rangga yang sangat di rindukan.
"Kita pulang, yuk. Yank, kasihan anak-anak." Kata ku melepas pelukan.
"Tunggu sebentar, aku pengen buat dede buat Chayra." Rangga menggendong ku dan menuju kamar.
Kami melakukan hasrat yang sudah lama terpendam, kami saling berbagi kasih. Hingga waktu sudah sore, kami tumbang sama di ranjang.
__ADS_1