Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Menikmati Waktu Berdua


__ADS_3

Rangga memelukku dari belakang sambil menikmati pemandangan perkebunan.


"Yank, kamu ngga pernah cerita kalau kamu mempunyai perkebunan." Aku membalikan badan dan menghadap Rangga.


"Itu karena sepenuhnya bukan punya ku tapi Alex, karena dia tau aku sedang frustasi ngga menemukanmu." Rangga mencium tanganku.


"Ooo..."


Rangga memelukku.


"Nikmatnya waktu berdua, kita seperti pacaran." Rangga terkekeh.


"Malu umur sudah kepala 3." Kata ku.


"Walau sudah kepala 3 ketampanan ku tetap umur belasan tahun, hahahaha..." Rangga PD.


"PD sekali anda, asal kamu tau kamu yang aku sudah melahirkan anak saja masih banyak bujangan yang mengejar aku." Kata ku ngga mau kalah.


"Masa, aku ngga percaya." Rangga memegang dagu ku.


"Ngga percaya, baiklah. Asep sini, kalau saya belum mempunyai suami. Apa kamu mau mendekati saya dan melamar saya?." Kataku dan menyuruh Asep mendekat.


"I-iya, Neng. Saya akan melamar sampai dapat." Asep sebenarnya gugup.

__ADS_1


"Kurang ajar Loe, apa bosan hidup." Rangga kesal dan menarik kerah kemeja Asep.


"Kami apa-apa si, tadi kan kamu sendiri yang kepedean dengan tampaman mu tadi." Aku menarik tangan Rangga.


"Iya, maaf. Aku terlalu mencintaimu dan ngga mau berbagai yang lain." Rangga menunduk seperti anak kecil yang bersalah.


"Ternyata tuan Rangga sangat mencintai istrinya." Warga 1.


"Iya, mereka sangat serasi. Cantik dan ganteng." Warga 2.


"Kita juga beruntung mempunyai majikan seperti tuan Rangga dan Alex mereka tidak pernah memandang rendah sama kita." Warga 3.


"Semua warga disini di perbolehkan bekerja di perkebunan dan perternakan mereka, mereka sangat baik." Warga 4.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


"Anak Mommy, dah bangun. Maaf ya bu, aku jadi ngerepotin ibu." Aku memeluk Ibu Kokom.


"Ngga sama sekali ngerepotin kok, malah ibu merasa bersyukur kalian ada disini. Ibu merasa jadi seorang orangtua dan nenek." Ibu Kokom tangan kanan memegang pipi dan sedangkan yang kiri memegang Chayra dari gendongan.


"Bu dan Pak Paijo besok kami akan pulang, kalau ibu dan Pak Paijo berkenan bisa ikut kami ke Jakarta." Rangga duduk di depan ku.

__ADS_1


"Bagaimana dengan warung dan perkebunan kata Pak Paijo?." Kata Pak Paijo.


"Gampang itu Pak, nanti disana Ibu dan Bapak membantu saya untuk membesarkan anak-anak kami." Rangga sopan.


"Iya Bu, Pak. Aku ngga tega meninggalkan kalian, karena kalian sudah saya anggap sebagai orangtua kandung saya. Mau ya Bu, Pak." Aku memujuk Ibu Kokom dan Pak Paijo.


"Baiklah, tapi kami ngga mau merepotkan kalian." Pak Paijo.


"Ngga sama sekali Pak." Kata Rangga.


Aku menggendong Chayra untuk memberi ASI dan menuju kamar, Rangga mengikuti ku.


Ketika aku memberi ASI Chayra, mata Rangga tidak sama sekali berkedip. Aku melempar Rangga dengan bantal.


"Dasar suami mesum." Aku membalikan badan.


"Bis Chayra enak banget minumnya, aku juga pengen. Yank." Rangga naik ke kasur.


"Aku masih Nifas, Yank." Aku kesal.


"Iya, lebih baik aku tidur." Rangga memunggungi ku.


"Sabar, Yank." Kata ku, aku menaruh Chayra yang sudah tidur di samping Rangga.

__ADS_1


"Iya, Yank. Aku akan menunggu kapan pun itu, asal kamu jangan menggoda ku. Karena aku ngga bisa tahan nanti, apalagi sekarang kamu tambah seksi dan cantik. Membuat ku tambah cinta dan ingin memakan mu. Hahaha..." Rangga menatap ku.


__ADS_2