
2 Minggu Kemudian
Rangga sudah tahap penyembuhan, walau dia tetap di kursi roda.
"Sudah dua minggu, kenapa perban seluruh tubuhnya tidak di lepas?. Setiap ganti perban aku tak boleh lihat Dan semenjak Rangga bangun dari koma dia enggan bicara dengan ku, sebenarnya apa yang terjadi?." Batin ku, aku memegang dagu dan berpikir.
"Pagi Nyonya, ini saat Tuan Rangga ganti perban. Saya mohon Nyonya segera keluar terlebih dahulu." Kata Dokter.
"Tapi, Dok. Saya istrinya, masa saya ngga boleh lihat suami saya ganti perban." Kata ku menatap curiga Dokter.
"Luka Tuan Rangga sangatlah mengerikan, bila Nyonya lihat nanti Nyonya bisa jatuh pingsan." Kata Dokter.
"Setiap Aku ingin lihat Dokter selalu bicara seperti itu, mmhhhmmm..." Aku menghela napas dan dengan berat hati aku pergi keluar ruangan.
"Ini sangat mencurigakan, siapa dia sebenarnya? Aku merasa yang berbaring itu bukan Rangga. Dimana Rangga berada?." Aku mondar-mandir dan memegang dagu.
"Sekarang Nyonya bisa masuk." Suster mempersilahkan.
__ADS_1
"Begini Nyonya, Tuan akan saya bawa ke rumah sakit di singapura untuk pengobatan luka-luka tuan Rangga. Karena disana peralatannya canggih untuk mengatasi luka-luka tuan Rangga." Dokter menjelaskan.
"Kenapa harus mendadak, Dok?." Tanya ku.
"Saya sudah melihat luka-luka tuan Rangga yang sangat parah dan peralatan disini sangat terbatas, kemungkinan luka-luka tuan untuk penyembuhannya sangat lama dan wajah tuan Rangga tidak seperti dulu lagi." Dokter menjelaskan lagi.
"Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan keluarga saya dulu." Aku mengambil ponsel dan menghubungi Orang tua ku dan Rangga. Mereka menyetujui Rangga berobat disana dan mereka melarang ku ikut, karena Chayra masih membutuhkan ku. Aku pun mengiyakan.
Aku mempersiapkan kebutuhan Rangga selama disana, Aku menatap Rangga.
"Sayang, aku selalu mendoakan. Agar kamu cepat sembuh dan kita dapat berkumpul kembali, maaf aku tidak bisa ikut kesana. Kasihan Chayra masih membutuhkan ASI, Kamu ngertiin kan. Aku akan merindukanmu, I Love you my husband." Aku menetes air mata, tubuh ini ngga mau memeluk dan mencium Rangga. Aku hanya bisa menatap dan memegang tangannya.
"Bos Tuan Rangga sudah mau pergi." Kata anak buah 1
"Baik, kita kesana dan atur strategi, bilang juga ke yang lain kita ketemu di markas besar." Kata Arkana berdiri dan menuju markas.
Rangga dan rombongan bukannya menuju bandara, tapi ke markas. Sahabat-sahabatnya merasa aneh.
__ADS_1
Di markas besar, Rangga dan rombongan disambut Arkana dan anak buahnya.
"Selamat datang kembali... Leo anak buah ku." Arkana tersenyum.
"Maksudnya apa, Ar?. Dan kenapa kau manggil Rangga Leo?." Alex bingung.
"Leo coba kamu buka perban mu, kamu sudah seperti lontong." Ledek Arkana. Leo membuka perban di wajah. Mata sahabat-sahabatnya Rangga Terbelalak dan ngga percaya.
"Dimana Rangga berada?." Randy mendekati Leo.
"Hai, Bro. Apa kalian kangen sama Gue?." Tiba-tiba Rangga datang dengan wajah tersenyum. Dia sangat sehat dan tak ada luka sama sekali, begitu juga dengan Asisten Alvin.
"Jadi selama ini Loe, sembunyi." Ucap Rio.
"Iya, Bro. Duh gue kangen kalian." Rangga memeluk Sahabat-sahabatnya.
"Gimana kabar dengan istri dan anak-anak gue, Gue sangat merindukan mereka." Rangga melepas pelukan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Selama ini Reina ngga mau meluk dan cium, katanya dia merasa yang berbaring itu bukan Loe." Randy menjelaskan.