
"Pantas saja, si Neng ini sudah ada pemiliknya menolak lamaran saya sampai dua kali." Kata Asep yang datang bersama Pak Kades.
"Maafkan saya, Sep dan Pak Kades." Kataku meminta maaf.
"Ngga apa-apa, Neng. Mungkin kita belum berjodoh." Asep menerima lapang dada.
"Iya, Neng. Maaf Nyonya, saya tidak tau kalau anda istri dari Tuan Rangga dan saya hampir mengusir Anda." Pak Kades meralat.
"Ngga apa-apa, Pak." Kata ku ramah.
"Pak dan Ibu Paijo sangat berterimakasih sudah merawat istri dan anak saya selama ini. Ini saya ada rezeki buat Bapak dan Ibu, tolong di terima." Rangga mengeluarkan cek kosong.
"Maaf kami ikhlas, Neng. Sudah kami anggap sebagai anak kami." Pak Paijo membalikkan Cek ke Rangga.
"Gini aja Bapak dan Ibu bersedia membantu memajukan perkebunan saya." Rangga ngga abis akal, karena dia ingin balas budi atas kebaikan Ibu Kokom dan Pak Paijo.
__ADS_1
"Sudah Ibu dan Bapak terima aja ini pantas, buat Bapak dan Ibu." Kataku memegang tangan Ibu Kokom.
"Baik kalau Tuan Rangga dan Neng memaksa. Saya terima membantu mengelola perkebunan." Kata Bapak Paijo.
Pak Kades, Asep dan Alex kembali kerumah Pak Kades, sedangkan Rangga masih melepas Rindu. Rangga tidak henti-hentinya memelukku.
"Yank, Jangan kabur lagi ya. Kalau ada masalah atau aku nakal kamu langsung tegur aku dan kita selesai hari itu juga, Aku ngga mau berlarut-larut seperti kaya gini lagi." Rangga makin memeluk ku.
"Yank, Aku ribet nih kalau kamu kaya gini." Aku mulai risih di peluk Rangga.
"Tapi janji dulu kamu jangan pergi lagi." Rangga menatap ku.
"Ngga akan pernah, Yank. Kamu Cinta, hati dan jiwaku, ngga akan pernah wanita di yang dapat menggantikan mu. Kamu satu-satunya wanita yang di hati ku, I Love you forever my wife." Rangga men**** bibirku. Aku membalas ciumannya, karena sudah lama kami ngga melakukannya. Ketika tangan Rangga masuk kedalam pakaianku, Aku langsung mendorong Rangga.
"Aku masih nifas, Yank." Kataku.
__ADS_1
"Yah, puasa lagi dong. Padahal si Tole sudah bangun, terpaksa main sendiri. Kamar mandi dimana, Yank." Rangga berdiri.
"Di dekat dapur, Yank." Aku tersenyum melihat Steven Rangga sudah bangun. Rangga bergegas menuju kamar mandi yang di tuju Reina.
Keesokan Pagi
Aku terbangun melihat Rangga tertidur pulas di samping ku dan memelukku.
"Kamu tetap masih ganteng, walau kamu nyebelin. Aku tetap mencintai mu, entah aku begitu cepat memaafkan mu. Kenapa kamu terlambat menemukan ku." Aku menusuk-nusuk dada Rangga, hingga Rangga terbangun.
"Kamu kenapa menusuk dada ku, apa kamu mau merasakan kehangatan Steven." Goda Rangga membuat pipi ku merah merona.
"Apaan si, sana mandi." Aku mendorong tubuh Rangga, karena menutup muka ku yang merah.
"Hei, dengar. Yank. Maafin aku lama menemukan kamu, karena kamu pandai sekali bersembunyi. Desa ini sangat terpencil dan susah di jangkau untuk GPS, jadi aku susah menemukan mu." Rangga menuju kamar mandi.
__ADS_1
Alex dan Asep datang kerumah Ibu Kokom dan Pak Paijo. Mereka minum kopi dan cemilan yang sudah di sediakan Ibu Kokom.
"Aku masih ngga nyangka, si Neng menikah sama Tuan Rangga. Padahal mobilnya sudah ada tandanya." Asep mengambil bakwan goreng.