
”Yank, Tunggu." Rangga memegang tangan Ku.
"Ngapain kamu mengikuti ku." Kata ku kesel.
"Aku minta maaf, nanti kita ulangi lagi dari awal ya, yank." Rangga memegang bahuku dan memeluk ku.
"Ya, yank." Aku membalas pelukan Rangga.
"Yuk, pulang."
Aku dan Rangga pulang terlebih dahulu. Hari ini sungguh melelahkan. Aku memejamkan mata ku. Tak lama kemudian sudah sampai di rumah.
Rangga menggendong Reina hingga ke kamar, walau tubuh Reina agak berat. Rangga tetap berusaha menggendong Reina. Sesampai di kamar Rangga meletakkan pelan-pelan Reina di ranjang, melepaskan sandal dan membersihkan kaki Reina yang kena pasir. Lalu, membersihkan sisa-sisa pasir yang berjatuhan di ranjang. Rangga menyelimuti dan mencium kening Reina.
Aku merasa ada yang basah di kening ku, aku terbangun.
"Kok kamu bangun, yank. Apa kamu mau minum?." Tanya Rangga.
"Iya, yank." Kataku serak abis bangun tidur. Rangga mengambil minum yang sudah tersedia di meja.
"Nih minum dulu." Rangga menyodorkan segelas air putih. Aku meminum hingga gelas kosong, lalu Rangga meletakkan kembali gelas di atas meja.
__ADS_1
Rangga duduk di samping Ku dan membelai Rambut Ku.
"Kamu tidur lagi, yank." Rangga memegang pipi ku.
"Aku dah ngga bisa tidur, yank." Kata ku menyenderkan kepala di bahu Rangga.
Tiba-tiba perut ku terasa sakit.
"Aw..., yank. Perut ku sakit." Aku mencengkeram tangan Rangga.
" Yank, kamu kenapa?." Rangga panik.
"Kita kerumah sakit." Rangga beranjak dari tidur dan menggendong ku menuju mobil. Pas waktu lewat di depan Para orangtua yang tadi asyik nonton Tv di ruang keluarga, menatap Rangga yang menggendong Ku keluar kamar.
"Reina kenapa, Rang?." Tanya Papa Sanjaya Panik.
"Perut Reina sakit, Pah. Mah." Rangga menuju mobil. Tiba-tiba ada air yang keluar, seperti air pipis.
"Mah apa ini." Aku panik.
" Itu air ketuban kamu sudah pecah, cepat-cepat bawa Reina masuk rumah sakit." Mama Vina Panik.
__ADS_1
"Mama siap kan keperluan Reina lahiran." Sigap Mama Rina beranjak ke kamar ku.
"Kalian duluan saja, nanti kita menyusul." Kata Papa Surya.
Kami(aku, Rangga, Mama Vina dan Papa Sanjaya) berangkat menuju. Di dalam mobil aku berteriak kesakitan dan menarik rambut Rangga.
"Hiks...Hiks... Sakit...Sakit... Ini gara kamu, yank." Aku menarik rambut dan memukul badan Rangga.
"Maaf, yank. Sakit ,yank." Rangga kesakitan.
"Sabar, sayang. Kamu tarik napas dan buang pelan-pelan dari mulut." Mama Vina menyuruh ku. Lucunya Papa Sanjaya dan Rangga juga ikutan narik napas dan buang ke mulut.
Tak lama kemudian, kami sampai di rumah sakit. Rangga menggendong ku hingga ke ruang bersalin. Karena ini rumah sakit merupakan rumah sakit peninggalan kakek ku. Jadi kami dengan mudah masuk tanpa pendaftaran terlebih dahulu.
Di Ruang Bersalin
Dokter Tya dan 3 orang suster datang menghampiri ku dan memeriksa ku. Aku sudah pembukaan 9 langsung Dokter Tya menyuruh ku menghadap ke kanan. Perut ku terasa sakit lagi. Dr. Tya memeriksa kembali pembukaan sudah 10.
"Rei, kamu tarik napas buang pelan-pelan dan ngejan. Tapi kamu jangan menutup mata." Dokter Tya menyuruhku. Aku mengikuti kata Dr. Tya.
Guys mohon dukungannya ya... jangan lupa vote, like dan komentarnya. Di tunggu... Biar Aku semangat...
__ADS_1