DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Penuh kesal


__ADS_3

Tapi, saat kembali mencernanya, tiba-tiba Anggit teringat akan karir adik laki-lakinya.


"Nona kenapa?"


Anggit menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Bi." Jawab Anggit dengan lesu.


"Sekarang sudah waktunya untuk sarapan pagi, alangkah baiknya jika Nona sarapan terlebih dahulu. Jika Nona terus-terusan memikirkan hal yang dapat mengganggu kesehatan, sangat disayangkan." Ucap Bi Mira mengingatkan.


Anggit mengangguk, kemudian Bi Mira mengajak duduk di sofa untuk sarapan pagi.


Anggit yang awalnya malas untuk mengisi perutnya, dengan terpaksa menuruti ajakan Bi Mira.


Seperti bagai terpenjara dalam sangkar emas, rumah sendiri yang lebar dan juga luas, bagai dalam ruangan yang begitu sempit dan juga panas, terasa sulit untuk bernapas.


Sedangkan di taman belakang, Leo tengah bermain dengan Azura, dan disusul oleh Amora yang berusaha keluar dari kamar.


Semua asisten rumah yang melihat kehadiran Amora, tidak lepas untuk berbisik membicarakan keberadaannya. Amora sendiri tidak peduli, karena merasa dialah pemenangnya bisa memberi Leo keturunan.


Sampainya di taman belakang, Amora segera menghampiri Leo yang tengah mengawasi putrinya.


"Sayang, bahagianya putri kita ya." Ucap Amora sambil memeluk Leo dari belakang.


Leo pun terkejut dibuatnya, ia langsung menoleh ke belakang.


"Lepaskan, jangan bikin masalah. Keadaan emosinya Anggit belum stabil, butuh waktu untuk meyakinkannya lagi." Kata Leo yang sebenarnya merasa bingung harus bersikap yang bagaimana.


Satu sisi dirinya dan Amora mempunyai seorang gadis kecil, sedangkan Anggit mempunyai keterikatan hubungan pernikahan yang dilarang keras untuk bercerai. Tentunya, merasa dilema itu sudah pasti. Lebih lagi statusnya Amora dulunya adalah kekasihnya, karena tidak adanya restu, Leo diminta untuk menikahi Anggit.


"Sudahlah sayang, kamu tenang aja. Toh kalau ditutup-tutupi juga bakal ketahuan, lagi pula dulu katanya kamu gak cinta. Terus, kenapa kamu mendadak jadi seperti ini?"


"Ceritanya panjang, dan kamu tidak akan pernah mengerti." Jawab Leo sambil menatap Amora dengan serius.


Tiba-tiba Azura sudah berdiri didekat mereka berdua.


"Papa sama Mama sedang ngomongin apa sih? kok seperti mau bertengkar? Papa, jangan membuat Mama menangis ya?"


Leo segera berjongkok, dan diikuti oleh Amora yang juga ikutan berjongkok.


"Tidak, sayang. Papa tidak akan membuat Mama menangis, Azura jangan khawatir. Sekarang sudah waktunya untuk sarapan pagi, bagaimana kalau kita sarapan pagi dulu. Setelah itu, Azura boleh bermain lagi bareng Mama." Jawab Leo untuk meyakinkan gadis kecilnya.

__ADS_1


"Yang dikatakan Papanya Azura itu benar, sayang. Azura jangan khawatir, Papa Leo sangat baik. Jadi, sekarang kita sarapan dulu ya sayang." Ucap Amora ikut menimpali dan meyakinkan putrinya, Azura pun mempercayai dan mengiyakan.


Setelah itu, Leo dan Amora, juga Azura, mereka bertiga bergegas masuk ke rumah dan segera mencuci tangannya. Kemudian, duduk di ruang makan.


Azura yang merasa bahagia karena tidak lagi jauh dari ayahnya, begitu bersemangat saat sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.


Lain lagi dengan Anggit, dirinya masih di dalam kamar yang ditemani asisten rumahnya.


Berkali-kali mengaduk bubur, Anggit belum juga menghabiskan sarapannya. Tatapannya masih tertuju dengan layar laptopnya yang terhubung dengan CCTV.


Bi Mira yang ikutan melihatnya, pun ikut merasakan sedihnya yang dirasakan oleh majikannya.


"Mereka kelihatannya sangat bahagia ya, Bi. Tetapi tidak dengan saya, yang harus menerima kenyataan pahit ini. Apa Anggit sanggup jika setiap harinya melihat kebahagiaan mereka, bahagia yang sempurna, juga kebahagiaan yang selalu diinginkan oleh setiap rumah tangga." Ucap Anggit yang masih terus memperhatikan suaminya yang tengah menikmati sarapan paginya.


Anggit meneteskan air matanya, merasakan sakitnya dibohongi, di selingkuhi. Sedangkan sekarang ini, dirinya masih harus melihat kemesraannya. Ditambah lagi dengan hadirnya Azura, membuat Anggit merasa sudah lengkap penderitaannya.


"Nona, alangkah sebaiknya jika Nona tidak sering melihat mereka lewat CCTV. Bibi takut, kesehatan Nona akan terganggu, Bibi tidak ingin melihat Nona terus menerus bersedih." Jawab Bi Mira ikut merasakan sedih dengan apa yang sedang dialami majikannya.


Anggit sama sekali tidak menjawab, dirinya langsung meletakkan mangkuknya yang masih ada buburnya. Kemudian, Anggit mematikan laptopnya.


"Bereskan mejanya, Bibi boleh keluar sekarang juga." Perintah Anggit yang sedang tidak ingin ada yang mengganggu pikirannya yang sedang tidak karuan.


Bi Mira yang takut jika majikannya tiba-tiba kembali meluapkan emosinya, cepat-cepat segera keluar dari kamar.


"Sudah selesai sarapannya ya, Bi?" tanya Leo ketika melihat Bi Mira membawa nampan.


"Sudah, Tuan. Tapi ..."


"Tapi kenapa, Bi?" tanya Leo yang berdiri.


"Nona Anggit tidak mau menghabiskan buburnya, hanya dua sendok saja yang masuk ke perutnya Nona, Tuan. Selebihnya hanya diaduk-aduk saja, Tuan." Jawab Bi Mira dengan jujur.


"Dih! manja banget sih, tinggal makan aja harus pakai drama." Gumam Amora, tetap saja dapat didengar oleh Bi Mira maupun Leo sendiri.


"Amo, diam lah." Sahut Leo dengan penekanan.


Amora sendiri hanya menunjukkan wajah kesalnya.


"Ya udah, Bibi boleh kembali ke dapur. Oh ya, sekalian bereskan meja makan." Perintah Leo pada Bi Mira.


"Baik, Tuan." Jawab Bi Mira dan bergegas membereskan meja makan.

__ADS_1


"Dan kamu Amora, temani Azura." Ucap Leo memberi perintah kepada Amora.


"Papa mau kemana?" tanya Azura ingin tahu dengan ayahnya.


"Papa mau menemui tante Anggit, Azura bersama Mama dulu ya." Jawab Leo sambil berpamitan untuk menemui istrinya.


"Zura ikut ya, Pa." Pinta gadis kecil itu.


Leo tersenyum pada Azura.


"Jangan sekarang, tante Anggit sedang tidak enak badan. Jadi, nanti saja kalau keadaannya sudah membaik. Baru deh, Azura boleh menemui tante Anggit." Jawab Leo beralasan, sekilas melirik ke arah Amora.


"Tante Anggit sakit? kasihan sekali, tapi kenapa bisa marah sama Mama ya?".


Lagi-lagi Leo kembali tersenyum pada putrinya.


"Makanya Papa meminta Azura sama Mama dulu ya. Nanti Papa temani Azura lagi, ok." Jawab Leo mencoba untuk merayunya.


"Benar ya, Pa."


"Ya, sayang. Ya udah, kamu sama Mama Amo dulu ya."


"Siap! Papa, bilangin sama tante Anggit, semoga cepat sembuh dan mau bermain sama Zura." Ucap gadis kecil itu yang tidak mengetahui atas kebenarannya.


Leo mengangguk dan tersenyum sambil mengusap pipinya Azura.


"Dan kamu Amo, temani Azura dulu." Perintah Leo kepada istri keduanya.


"Ya, jangan lama-lama." Jawab Amora dengan nada kesal.


Leo mengangguk dan segera bergegas menemui istri pertamanya.


Saat itu, Anggit yang mengetahui bahwa suaminya hendak masuk ke kamar, langsung mematikan laptopnya.


Sampainya di dalam kamar, Leo kembali menutup pintunya, dan ikut duduk disebelah istrinya. Pandangannya tertuju pada laptop yang ada di depan istrinya, tepatnya di atas meja.


"Bagaimana kalau kamu berhenti bekerja di kantor, agar kamu bisa bersantai di rumah. Kamu pasti sangat kecapean, kasihan dengan kesehatan kamu." Ucap Leo yang langsung membuka obrolan.


Anggit langsung menoleh pada suaminya.


"Aku tidak mau, dan aku lebih nyaman berlama-lama berada di kantor daripada harus di rumah. Lagi pula ada istri keduamu, untuk apa aku harus di rumah." Jawabnya masih dipenuhi dengan rasa kesal.

__ADS_1


"Bukan begitu, maksud aku biar Amora yang menggantikan kamu."


"Kau sudah gila! setelah mengambil bahagiaku, sekarang kau mau ambil karirku. Tidak! aku tidak akan mau, apapun alasannya." Bentak Anggit semakin memanas hatinya, bahkan untuk panggilan saja sudah berubah.


__ADS_2