DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Berani melawan


__ADS_3

Anggit yang masih dengan kekesalannya, masih dengan posisinya. Kemudian, Leo duduk disebelahnya.


"Apa perlu aku mandiin kamu, cepat bersihkan badanmu." Ucap Leo sambil berbaring di depan istrinya.


Sedangkan Anggit yang memang sudah risih dengan kondisinya yang acak kadul karena ulah suaminya, segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lain lagi dengan Leo, justru tengah tersenyum puas saat sudah menaklukkan istrinya.


Anggit sendiri yang masih berada di dalam kamar mandi, cepat-cepat untuk membersihkan badannya. Kemudian setelah selesai mandi, dilanjut mengeringkan rambutnya.


Setelah itu, Anggit kembali ke tempat tidur dan berbaring di sebelah suaminya. Awalnya merasa enggan, tapi tidak mempunyai tempat lain, dan akhirnya tidur bersama hingga keduanya terlelap dari tidurnya.


Berbeda lagi dengan Amora, justru dirinya tengah gelisah memikirkan Leo yang tak juga pulang ke rumah. Kesal, dongkol, geram, ingin rasanya marah, tapi apa dayanya yang hanya sebagai istri kedua layaknya selir.


"Sialan! kenapa juga handphone nya dimatikan segala, ini semua gara-gara Anggit. Coba aja kalau dia mati, pasti aku tidak akan seperti ini. Apapun caranya, aku harus segera menyingkir dia." Umpatnya penuh dengan kekesalannya.


Tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Amora kembali lanjut tidurnya hingga pagi menyambutnya.


Leo dan Anggit yang juga belum terlihat sama sekali di rumah, rasanya ingin meluapkan emosinya.


Kini, Amora dan putrinya tengah menikmati sarapan paginya hanya berduaan saja. Sedangkan Leo bersama Anggit baru saja keluar dari kamar hotel.


"Hei! Bro." Panggil Antonio yang kebetulan keluar juga dari kamar hotelnya, dan segera menghampirinya.


"Kenapa, An?"


"Tidak apa-apa, Bro. Kamu mau pulang, 'kan?"


"Ya iya lah, memangnya mau tinggal di hotel terus, jangan gila kamu."


Antonio tertawa kecil mendengarnya.


"Ya udah hati-hati, sampai bertemu lagi di lain kesempatan. Silakan kalau mau pulang duluan, aku sedang menunggu supirku datang." Ucap Antonio.


"Ya sudah, aku pulang duluan. Sampai jumpa, bye." Jawab Leo dan menggandeng istrinya pulang.


Antonio yang belum beranjak pergi, masih tengah memandangi kepergian Leo bersama istrinya. Setelah tidak tampak lagi bayangannya, dirinya kembali ke kamar hotelnya untuk mengambil tas kecilnya yang semalam ia bawa.


Dalam perjalanan pulang, Leo tengah fokus menyetir mobilnya dan sekilas menoleh pada istrinya.

__ADS_1


"Kamu istriku, dan kini statusmu bagai wanita simpanan ku, karena biar tidak bosan saat bersamamu." Ucap Leo dengan entengnya.


Anggit yang mendengar ucapan suaminya, langsung menoleh pada suaminya.


"Kamu memang sudah gila, istri sendiri bagai wanita simpanan, sedangkan selingkuhan kamu jadikan ratu. Kamu benar-benar sudah gila dan menggila." Tuduh istrinya penuh kekesalannya.


Leo sendiri justru tertawa kecil mendengar perkataan dari istrinya.


"Begitulah caraku agar aku tidak merasa bosan mempunyai istri kedua, tetap saja kamu akan aku prioritaskan, dan kemanapun aku pergi, kamu yang akan selalu menemaniku." Ucap Leo tanpa ada rasa bersalah sedikitpun kepada istrinya.


Diam, hanya itu yang akhirnya Anggit lakukan daripada harus menjawab segala apa yang diucapkan oleh suaminya.


Leo yang juga tidak ingin terus berdebat dengan istrinya, segera menambah kecepatannya agar cepat sampai di rumah.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai di depan rumah. Kemudian, keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke rumah.


"Papa ...!" teriak Azura saat mendapati ayahnya pulang di pagi hari.


Anggit yang malas berhadapan dengan Amora, memilih untuk langsung masuk ke kamar.


Leo yang baru mendapat sambutan dari putrinya, langsung menggendongnya.


Amora yang masih merasa kesal, juga dongkol, tengah memasang wajah kesalnya. Sedikitpun tidak mau tersenyum ketika Leo pulang ke rumah.


Kemudian, Leo menurunkan putrinya.


"Azura bermainnya sama mbak mbak yang ada di rumah ya? Papa mau ke kamar dulu, ok." Ucap Leo membujuk putrinya.


"Ya, Pa, tapi nanti main bareng Zura ya Pa?"


Leo mengangguk.


"Ya, sayang." Jawab Leo dan tersenyum.


"Kamu antar Azura sama asisten rumah, aku ke kamar duluan." Ucap Leo memberi perintah kepada Amora.


Masih dengan perasaan dongkol, Amora terpaksa melakukannya, mau bagaimanapun Azura adalah putrinya sendiri.


Sampainya di dalam kamar, Leo melepaskan jaket dan segala jenis lainnya yang ia kenakan dan menyisakan celana kolor dan hendak mengenakan kaos oblongnya.

__ADS_1


Amora yang baru saja masuk ke kamar, rupanya melihat jelas ada bekas sesuatu di bagian lengan suaminya, maupun dada bidangnya.


"Apa ini? ha! kamu melakukannya dengan Anggit? jawab!"


Leo yang mendapat bentakan dari Amora, tidak merespon.


"Dia istriku, dan aku berhak melakukan apapun terhadap dirinya, termasuk bermain di atas tempat tidur. Apa kamu lupa, aku sudah mengatakannya padamu. Karena dengan cara seperti itulah aku bisa melakukannya dengan istriku sendiri, sekalipun memberontak dan bersikap kasar padaku, tapi aku puas." Jawab Leo dengan enteng dan tanpa ada rasa bersalah pada siapapun.


Amora yang mendengarnya, pun langsung melayangkan sebuah tamparan kepada Leo. Sayangnya, Leo lebih sigap menyambar tangan Amora dan mencengkram tangannya cukup kuat.


Amora meringis kesakitan, dan Leo menatapnya dengan tajam.


"Kau tidak perlu melakukan hal kasar padaku, karena aku bisa memberimu ancaman, serta mengusir kamu dari rumah ini, paham. Bahkan, kamu akan aku jadikan gelandangan di luaran sana." Ucap Leo yang juga tengah dikuasai oleh emosinya, serta memberi ancaman untuk Amora.


Amora sendiri yang geram, terpaksa harus tunduk pada Leo demi sesuatu yang ia rencanakan.


'Lihat saja, sebentar lagi kau akan tunduk padaku, Leo.' Batin Amora dengan menahan kekesalannya.


Leo yang malas menghadapi kekesalan Amora, akhirnya pergi ke kamar yang ditempati Anggit.


Sedangkan di dalam kamar, Anggit yang tidak mempunyai kegiatan dihari minggu, menyibukkan diri dengan laptopnya. Sebuah pesan telah ia terima dari teman sekolahnya dulu.


"Lalira memintaku untuk melakukan pertemuan, boleh juga. Lagi pula ini hari minggu, waktuku untuk menyegarkan pikiranku." Ucapnya lirih sambil memandangi laptopnya.


Leo segera meraihnya, dan melihat apa yang sedang dilakukan istrinya itu.


"Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk keluar, apapun alasannya. Batalkan acara yang kamu janjikan dengan teman kamu itu." Ucap Leo yang mulai melarang kemana perginya sang istri.


Anggit langsung mendongak dan menatap kesal pada suaminya.


"Kalau aku tidak boleh pergi, aku suruh ngapain? melihat keharmonisan kamu saat bermesraan dengan perempuan mur_ahan itu, ha!"


PLAK!


Leo langsung menampar istrinya saat Amora dikatakan perempuan mu_rahan.


"Amora bukan perempuan mur_ahan, dia sudah memberiku keturunan, tidak sepertimu." Tuduh Leo dengan terang-terangan.


"Sebenarnya maunya kamu itu apa? ha! Aku ingin itu salah, ingin yang lainnya masih saja salah. Kamu ya, benar-benar suami paling kejam dan juga egois. Kamu hanya mementingkan ego mu, tapi tidak denganku sebagai istrimu. Kalau kamu merasa Amora sempurna, ceraikan aku sekarang juga. Maka kamu tidak ada beban mengenai diriku, dan aku tidak peduli jika aku harus mengecewakan adikku, termasuk kedua orang tuaku sekalipun, karena aku tidak takut untuk menjadi miskin, paham." Jawab Anggit yang sudah kehilangan kesabaran untuk menghadapi sikap suaminya.

__ADS_1


Leo yang baru saja berdebat dengan Amora, kini dirinya juga harus berdebat dengan Anggit. Tentu saja otaknya semakin terasa mendidih dan rasanya ingin meledak.


__ADS_2