
Waktu pun telah berlalu. Anggit yang sudah tidak ada beban tentang perceraian dengan mantan suaminya bernama Leo Jantrika Hambalan, merasa terbebas dari jeratan belenggu konflik rumah tangganya dengan kehadiran perselingkuhan.
Kini Anggit tengah memantapkan diri dengan fokus untuk masa depannya.
"Permisi, Tuan, Nona, ada tamu yang ingin bertemu." Ucap Bi Marni yang kini sudah bekerja dengan aktif.
Hanya saja gagal untuk mengajak anaknya untuk tinggal bersama di rumah majikannya dengan alasan ingin kuliah di kampung halamannya.
"Malam-malam begini ada tamu? memangnya siapa Bi?" tanya Anggit dengan penasaran.
"Tuan Dion, Nona." Jawab Bi Marni.
"Oh, Kak Dion? katakan saja kalau aku dan Kak Anggit sebentar lagi menemui." Timpal Kavil.
"Baik, Tuan. Kalau begitu Bibi permisi."
Kavil mengangguk tanda mengiyakan.
Karena tidak ingin membuat tamunya menunggu, kakak beradik segera menemuinya.
__ADS_1
"Hei, Kak Dion. Sudah lama tidak pernah datang, apa kabarnya? tumben malam-malam begini datang."
"Ya, tumben aja datang. Mau ngajak pergi lagi nih?"
Anggit pun ikut menimpali, sedangkan Dion sendiri tertawa renyah.
"Kabar aku baik, seperti yang kalian lihat. Kalian sendiri bagaimana kabarnya? maaf jika baru punya waktu untuk main ke rumah, soalnya kemarin-kemarin aku sibuk di kantor." Jawab Dion, dan arah pandangannya tertuju pada Anggit, perempuan yang sangat disukainya dari dulu.
Kavil yang dapat memperhatikan Dion, pun tersenyum tipis tanpa sepengetahuannya.
"Ekhem!"
Kavil pun berdehem saat mendapati Dion yang terlihat memandangi kakak perempuannya.
Perlahan si Dion menghela napasnya.
"Begini, kedatangan aku kemari ada sesuai yang ingin aku sampaikan pada kalian, terutama pada Anggit." Ucap Dion yang akhirnya angkat bicara.
"Memangnya apa yang mau Kak Dion sampaikan kepada kami berdua? terutama kepada Kak Anggit."
__ADS_1
Anggit masih diam, dirinya memilih untuk fokus mendengarkan penyampaian dari Dion.
"Aku datang kesini sebenarnya ingin melamar Anggit, kakak kamu." Ucap Dion yang akhirnya berterus terang atas tujuannya datang ke rumah kediaman kekuatan Zardian.
Anggit langsung tertuju pandangannya ke arah Dion, seperti mimpi mendengarnya.
"Melamar Kak Anggit?" tanya Kavil memastikan, kemudian menoleh pada kakaknya.
Anggit yang mendapati adiknya menoleh ke arah dirinya, juga ikutan menoleh. Setelah itu, Kavil kembali ke posisinya.
"Aku sebagai adiknya tidak mau ikut campur, semua terserah pada Kak Anggit. Aku hanya bisa memberi saran jika Kak Anggit meminta pendapatku. Tetap saja, keputusan milik Kak Anggit." Jawab Kavil apa adanya.
Kemudian, Dion menatap Anggit yang terlihat seperti kebingungan mau menjawabnya apa. Terlalu cepat itu sudah pasti.
"Aku tidak meminta jawaban darimu sekarang, dan aku siap menunggu jawaban darimu kapanpun. Maafkan aku yang langsung melamar dengan cara dadakan seperti ini. Bahkan, pernyataan rasa cintaku padamu tidak aku sampaikan dihari sebelumnya. Kamu pasti tau kenapa aku melamar mu." Ucap Dion kepada Anggit.
"Yang dikatakan Kak Dion ada benarnya Kak. Bagaimana kalau Kakak pikirkan dulu sebelum memberi keputusan kepada Kak Dion." Timpal Kavil ikut bicara.
Anggit mengangguk.
__ADS_1
"Ya, aku butuh waktu untuk menjawab pertanyaan darimu. Maafkan aku yang belum bisa menjawabnya langsung." Kata Anggit yang akhirnya mau bicara.
Dion tersenyum tipis, sedikitpun tidak ada pemaksaan kepada Anggit. Pilihan yang diambil mau menerima atau menolak, tidak menjadi masalah bagi Dion. Juga, segala sesuatunya tidak perlu terburu-buru dan pemaksaan.