DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Ada yang menyesal karena menyia-nyiakan


__ADS_3

Setelah pamit pulang, kini tinggallah Anggit dan adiknya yang tengah duduk di ruang tamu.


"Kakak tidak perlu bingung untuk memberi jawaban kepada kak Dion. Aku rasa Kakak bisa memberi keputusan untuk diri Kakak sendiri." Ucap Kavil.


"Kakak gak tahu Kav, Kakak harus jawab apa." Jawab Anggit yang merasa dilema.


"Kakak sudah lama berpisah dengan Kak Leo, apa Kakak masih mencintai Kak Leo?"


"Kakak tidak tahu, Kakak benar-benar belum bisa berpikir." Jawab Anggit yang merasa bingung.


"Kalau Kakak masih mencintai Kak Leo, yang ada Kakak akan teringat dengan masa lalunya. Apa itu tidak menyakitkan buat Kakak? kenapa gak sama Kak Dion, yang jelas-jelas mencintai Kakak dari dulu, juga sampai sekarang saja masih melajang." Kata Kavil yang akhirnya memberi pendapat kepada kakaknya.


"Bukan masalah mantan suami kakak. Tapi entah kenapa Kakak takut akan terulang lagi, hanya itu saja Kav." Ucap Anggit yang akhirnya mengakuinya.


"Kak Dion orangnya tulus, mencintai Kakak sudah sejak dulu. Lantas, apa yang membuat Kakak Ragu?"

__ADS_1


"Kakak takut, kalau Dion hanya mau membalaskan dendamnya karena dulu Kakak pernah menolaknya." Jawab Anggit yang dipenuhi dengan kekhawatiran.


"Gak mungkin Kak Dion mempunyai pikiran yang seperti itu, jelas-jelas Kak Dion saja belum menikah. Hal yang mustahil untuk tidak menikah hanya ingin balas dendam sama Kakak, sangat tidak masuk akal." Kata Kavil yang sedikitpun tidak mencurigai Dion.


"Kakak mau istirahat dulu ya Kav, akan Kakak pikirkan lagi." Jawab Anggit yang akhirnya memilih kembali ke kamarnya.


"Ya Kak, lebih baik Kakak pikirkan aja dulu. Lagian juga masih ada waktu untuk berpikir, agar tidak timbul penyesalan setelah memberi keputusan." Ucap Kavil.


"Ya udah ya, Kakak mau istirahat. Oh ya, besok Kakak mau izin untuk tidak berangkat ke kantor."


"Ya Kak, tidak apa-apa."


"Hei, Dion. Tumben mampir ke sini, ada angin apa kamu?"


Dion tertawa renyah ketika mendengar pertanyaan dari temannya.

__ADS_1


"Aku lagi suntuk aja Do, sudah sana buatkan aku kopi panas, juga pahit."


"Bentar, aku suruh dulu karyawan ku." Kata Aldo dan meminta salah satu karyawannya untuk membuat membuatkan kopi pahit, juga panas sesuai yang diminta Dion.


Aldo langsung mengajak Dion ke tempat yang lebih sepi, dan tidak berisik.


"Gimana hubungan kamu dengan mantan istrinya Leo, Bro? kata kamu mau menikahinya, sudah diterima belum?"


"Aku baru melamarnya malam ini, tapi belum ada keputusan apapun darinya. Aku masih memberinya waktu untuknya, juga aku tidak akan melaksanakannya." Jawab Dion berterus terang.


"Semoga saja cintamu tidak bertepuk sebelah tangan, sangat menyakitkan kalau sampai itu terjadi." Ucap Aldo, kemudian menepuk punggung Dion menyemangati.


"Semoga saja, Do. Aku hanya berharap untuk tidak di tolak yang kedua kalinya. Mungkin jika sampai ini ditolak, aku tidak akan lagi tinggal di kota ini lagi." Jawab Dion yang juga dipenuhi kekhawatiran jika dirinya gagal mendapatkan Anggit, perempuan yang sangat disukainya itu.


Tidak sadari oleh keduanya, rupanya obrolan yang sedari tadi itu tengah didengar oleh mantan suaminya Anggit. Tentunya sangat menyakitkan untuk dirinya.

__ADS_1


Perempuan yang sudah ia sia-siakan, rupanya sudah ada lelaki yang dari dulu menyukainya dan masih berharap untuk memilikinya. Leo benar-benar menyesali atas sca_ndal perselingkuhannya dengan Amora.


Rasa sakit yang diterima istrinya tidak jauh beda dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.


__ADS_2