
Pagi hari Leo yang terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sedikit menyisakan rasa pusing dan juga badan yang terasa pegal-pegal.
Saat membuka kedua matanya, Leo mengamati isi ruangan kamar yang ditempati bersama istri pertamanya. Kemudian, pelan-pelan bangkit dari posisinya.
Amora yang baru saja masuk ke kamar dimana suaminya tidur, segera mendekati suaminya.
"Sudah siang, apa kamu tidak kerja?"
Leo yang mendapat pertanyaan dari Amora, pun menoleh padanya.
"Aku sudah dipecat jadi pimpinan di kantor, dan sekarang aku hanya menjadi karyawan biasa, kenapa?"
Leo menatap istrinya dengan intens.
Amora benar-benar sangat terkejut ketika mendengar jawaban dari suaminya.
"Apa, kamu di pecat di perusahaan milik orang tuamu sendiri?" tanya Amora seperti tengah dikerjai oleh suaminya.
Leo menganggukkan kepalanya di hadapan istri keduanya.
"Kamu tidak perlu melucu di depanku, bilang aja kalau kamu itu sedang mengerjai aku. Aku tahu siapa kamu, suka memberi kejutan yang tak terduga." Ucap Amora dengan tawa kecilnya saat menganggap jawaban dari suaminya hanyalah lelucon.
"Terserah kamu mau percaya denganku atau tidak, yang jelas aku bukan bos lagi. Sama seperti Anggit, dia juga dipecat dari perusahaan yang ia pimpin. Sekarang terserah kamu, mau menerima kondisiku yang seperti ini atau tidak, semua ada pada dirimu. Mulai sekarang aku akan memecat semua pekerja yang ada di rumah ini, aku hanya menyisakan satu, dua, tiga, ya hanya tiga orang." Jawab Leo yang sudah buntu dengan apa yang harus ia pikirkan.
Amora yang lagi-lagi mendengarnya, pun seperti mendapat cambukan yang cukup kuat menghantam pada bagian tubuhnya.
"Tidak, aku tidak percaya sama ucapan kamu. Aku yakin bahwa kamu hanya ingin mengerjai ku." Ucap Amora masih belum juga percaya.
Leo yang memang belum siap untuk menjadi karyawan biasa, memilih untuk libur.
"Terserah kamu jika masih belum percaya dengan ku. Aku mau sarapan, ajak Azura juga. Hari ini waktuku hanya di rumah, dan aku ingin menikmati hari liburku ini bersamamu dan Azura."
__ADS_1
Amora yang merasa mendapat buah simalakama hanya menelan ludahnya kasar. Tanpa berucap lagi, Amora segera menemui Azura untuk mengajaknya sarapan pagi.
Belum juga mendaftarkan Azura sekolah, nasib Amora tidak kalah tragisnya seperti Anggit.
'Sial! kenapa aku harus mengalami nasib yang seperti ini. Seharusnya aku senang karena Anggit angkat kaki dari rumah ini, tetapi keluarga Hambalan justru memecat suamiku begitu saja. Kalau seterusnya akan terus begini, bisa-bisa aku akan sia-sia mengejarnya, yang ada aku akan hidup susah.' Batin Amora yang mulai merasa resah dan juga dongkol.
"Mama, Ma, Mama." Panggil Azura pada ibunya berulang-ulang.
Amora sendiri masih melamun dan tengah memikirkan sesuatu. Bahkan, saat putrinya memanggilnya pun sama sekali tidak menyahut.
"Mama!" panggil Azura dengan suara yang cukup kedengaran keras sambil menepuk lengan ibunya.
"I-iya sayang, Papa sudah nunggu di ruang makan. Yuk, kita sarapan." Ajak Amora kepada putrinya.
"Ya Ma, ada Tante cantik juga kan Ma?"
"Tante Anggit sudah pindah rumahnya sayang, jadi gak tinggal bareng kita lagi. Ya udah yuk kita sarapan, kasihan Papa sudah menunggu." Jawab Amora beralasan.
"Lain waktu kan bisa, sayang. Untuk akhir akhir ini tante Anggit sedang sibuk, jadi kita harus ngertiin. Jugaan kan adiknya Papa, jadi masih bisa bertemu." Jawab Amora meyakinkan putrinya.
Azura sendiri hanya nurut dengan apa yang dikatakan ibunya. Amora yang tidak ingin suaminya menunggu lama, segera mengajak Azura untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi, Papa." Sapa Azura yang sering ia lakukan saat pagi menyapa ayahnya.
"Pagi juga gadis kecilnya Papa, udah bangun nih." Jawab Leo membalas sapaan dari Azura.
"Ya dong, Zura harus bangun pagi, soalnya kan, bentar lagi Zura mau sekolah. Kata Papa tidak boleh bangun kesiangan, nanti bisa telat dan dapat hukuman." Ucap Zura saat duduk berhadapan dengan ayahnya.
Leo tersenyum pada Azura, meski senyumannya terasa getir, lantaran tengah dirundung masalah rumah tangganya.
"Ya udah yuk, kita sarapan dulu. Setelah sarapan kita bermain di taman belakang, soalnya hari ini Papa lagi libur kerja, gimana? Azura senang kan, kalau hari ini Papa libur kerja?"
__ADS_1
"Ye ... asik, Papa libur kerja ... Zura sangat senang sekali, soalnya bisa bermain sama Papa dan Mama." Jawab Azura dengan ruang, Leo dan Amora tersenyum tipis pada Azura agar tidak menaruh curiga.
Sedangkan di tempat lain, Anggit yang tidak bersemangat saat bangun tidur, hanya duduk santai di balkon. Pandangannya begitu luas sambil melamun.
Rumah tangga yang ia bina bersama suaminya selama sepuluh tahun lamanya, kini meninggalkan luka yang begitu sakit dan sangat menyakitkan.
"Ternyata aku salah menilai orang dari kebaikannya, justru hanya membekas luka. Sungguh aku sangat bodoh dan tidak tahu diri, seharusnya aku tidak menjadi wanita lemah, dan seharusnya aku kuat menjalaninya. Tapi, kenyataannya aku telah diperdaya oleh suamiku sendiri." Gumamnya sambil melihat jalanan yang dilalui banyaknya kendaraan yang lalu lalang.
Anggit membuang napasnya dengan kasar, berharap beban yang sedang ia tanggung, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam menentukan keputusan.
Karena sudah waktunya untuk sarapan pagi, Anggit merasakan perutnya yang keroncongan. Tidak ingin membuat adiknya khawatir, Anggit segera bergegas keluar dari kamar dan menemui adiknya.
Saat sudah berada di ruang keluarga, Anggit merasa kesepian di rumah mendiang kedua orang tuanya. Rumah yang mempunyai banyak cerita, juga rumah mempunyai banyak kenangan, kini seolah kenangan itu telah pudar, namun sangat dirindukan.
Anggit meneteskan air matanya, seolah dunianya gelap dan tak berpenghuni.
"Kakak sudah bangun?" tanya Kavil yang tiba-tiba mengagetkan kakaknya.
Anggit yang dikagetkan langsung menoleh pada sumber suara. Dengan terpaksa Anggit mencoba tersenyum di hadapan adiknya, tapi ia lupa jika kedua matanya tengah meneteskan air mata. Cepat-cepat langsung mengusap air matanya yang sempat membasahi kedua pipinya.
"Kakak tidak perlu berbohong di hadapan ku." Ucap Kavil dan mendekati kakaknya.
Kemudian, Kavil merangkul sang kakak dengan meletakkan tangan kanannya diatas pundak sang kakak.
"Aku mengerti bagaimana rasanya diposisi Kakak, pasti sangat terpukul dan juga sakit hati menerima kenyataan ini. Percayalah denganku, Kakak akan temukan kebahagiaan, bukan kebohongan." Ucap Kavil mencoba untuk meyakinkan kakaknya, juga memberi semangat untuknya.
Anggit menganggukkan kepalanya, tanda mengerti dengan apa yang diucapkan adiknya.
"Kamu adiknya Kakak yang penuh perhatian, sama seperti Papa. Kakak benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini, pikiran Kakak benar-benar sangat buntu." Jawab Anggit masih terasa pusing dengan masalah yang sedang ia hadapi.
"Kakak cukup tenangkan dulu pikirannya, jangan paksakan diri untuk menentukan keputusan. Setelah merasa sudah yakin, silakan Kak Anggit memilih keputusan yang akan diambil." Ucap Kavil mengingatkan, juga memberi nasehat kecil untuk kakaknya.
__ADS_1
Anggit mengangguk tanda mengerti.