
Tidak ingin pikirannya menjadi kacau saat mengerjakan tugasnya di kantor, sebisa mungkin untuk tidak terus-menerus memikirkan suaminya yang tengah bersama istri keduanya dan putrinya yang menjadi kebanggaannya.
Cukup lama dirinya berkutat dengan layar komputernya, tidak terasa sudah waktunya untuk istirahat, juga waktunya untuk makan siang.
Suara ketukan pintu rupanya tengah mengagetkannya, Anggit segera membuka pintunya dengan sekali menekan tombol yang ada di sudut meja kerjanya.
"Permisi, Nona." Ucap salah satu OB di kantornya dengan membawakan makan siang.
"Letakkan saja di atas meja, dan kamu boleh kembali ke tempat kerjamu." Jawab Anggit dengan seulas senyumnya yang ramah.
Setelah makan siang sudah diantar, Anggit segera pindah ke sofa untuk menikmati makanannya sendirian dengan suasana hati yang tengah gundah.
Karena tidak menyiksa fisiknya, susah payah untuk tidak selalu memikirkan sesuatu yang dapat mengancam kesehatannya.
Baru saja menyuapi mulutnya beberapa suapan, sudah dikagetkan dengan deringan ponselnya. Anggit langsung melihatnya, nama kontak siapa yang sudah mengganggu makan siangnya.
"Kavil, tumben sekali anak itu." Gumamnya saat melihat kontak nama yang sangat dikenalinya, siapa lagi kalau bukan adik laki-lakinya.
"Ya Kav, ada apa kamu menelpon Kakak?" Jawab Anggit sambil mengunyah sisa makanan yang belum sempat tertelan.
Dengan serius, Anggit mendengar ucapan dari adiknya yang bernama Kavil.
"Kamu tidak perlu menjemput Kakak, soalnya sudah ada Dion yang sekarang menjadi supirnya Kakak. Mendingan kamu langsung pulang saja. Oh ya, salam buat Mama dan Papa. Hari minggu depan Kakak usahakan pulang ke rumah, kamu jangan memberitahu Mama sama Papa, ok." Jawab Anggit menolak tawaran dari adik laki-lakinya.
Saat itu juga, tanpa disadari Anggit terisak ketika harus menyembunyikan kebenaran yang sudah terjadi dengan pernikahannya.
Sedangkan yang ada diseberang telpon, Kavil begitu kaget saat mendengar dengan suara lirih jika kakaknya seperti tengah menangis.
Kavil berulang kali memanggil kakaknya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Anggit yang dikagetkan, langsung terkesiap dan mengusap wajahnya.
"Kakak tidak kenapa-napa, ini kakak sedang makan, kebetulan sambalnya pedes banget. Jadi, kedengaran kek orang yang sedang menangis. Ya udah ya, kakak mau makan dulu." Kata Anggit yang beralasan demi menutupi kebenaran.
__ADS_1
Kavil yang percaya begitu saja, mengiyakan dan memutus sambungan telepon.
Anggit yang merasa lega karena tidak ketahuan sama adiknya, buru-buru segera menghabiskan makannya. Kemudian setelah itu, Anggit kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan di lokasi lain, Leo bersama Amora dan Azura tengah menikmati liburannya walau hanya sebentar.
"Pa, Zura lapar." Panggil Azura pada Leo dan mengatakan jika dirinya merasa lapar.
Leo yang mendengarnya, pun segera mengajak putrinya untuk makan siang.
"Ya udah kalau gitu, kita cari tempat untuk makan siang, bagaimana?"
"Asik ..., ayam bakar ya, Pa." Pinta Azura dengan makanan kesukaannya.
"Azura, kok ayam bakar terus sih, sayang. Bagaimana kalau kita pergi ke restoran? makanannya enak-enak di sana." Timpal Amora memberi rayuan pada putrinya.
Azura justru menggelengkan kepalanya.
"Zura lebih suka dengan ayam bakar, dan dengan minuman jus buah yang menyegarkan. Kalau Mama tidak mau, Mama bisa pergi ke restoran. Tapi tidak sama Papa, titik." Kata Azura yang menolak ajakan dari ibunya.
Setelah itu, mereka bertiga segera mencari warung makan yang menjual ayam bakar.
"Kamu gak perlu ngambek gitu dong, sudah kek anak kecil aja. Nanti setelah makan siang, aku akan mengajak kamu dan Azura ke Mall untuk berbelanja kebutuhan kamu dan putri kita." Ucap Leo merayu Amora dengan segala iming-iming.
Amora yang orangnya suka shoping dan fashion, tentunya sangat menyukai dengan hal belanja. Berbeda dengan Anggit, justru dirinya lebih menyukai kesederhanaan dan bukan kemewahan.
Setelah mendapatkan iming-iming dari Leo, Amora tersenyum sumringah saat apa yang diinginkannya mudah untuk digapai. Kemudian, ketiganya segera menuju warung makan.
Lain lagi dengan Anggit yang kini kembali disibukkan dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan, dengan fokus mengerjakan tugasnya.
Waktu yang dijalaninya, pun akhirnya sudah waktunya untuk pulang. Anggit sendiri segera membereskan meja kerjanya, dan bergegas pulang.
Saat baru saja berada di ruang tunggu, Dion menghampirinya.
__ADS_1
"Nona, mari kita pulang." Ucap Dion dengan posisi sedikit membungkukkan badan, lagi-lagi Anggit merasa risih dan malu ketika temannya yang menjadi supirnya.
Anggit mengangguk dan segera naik ke mobil.
Dalam perjalanan pulang, Anggit kembali bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun sesuatu.
Dion yang dapat melihatnya, sedikitpun tidak mengganggunya sampai di depan rumah. Entah kenapa ada sesuatu yang kebetulan, yakni sang suami bersama istri keduanya dan Azura baru saja sampai dengan waktu yang sama pula.
"Nona, kita sudah sampai di depan rumah." Panggil Dion sambil memperhatikan bosnya yang juga baru saja lubang dengan waktu yang bersamaan, lebih lagi dengan perempuan lain dan gadis kecilnya.
Anggit langsung menyempurnakan kesadarannya, dan melihat disekelilingnya. Tanpa disengaja, Anggit dapat melihat sang suami yang baru saja turun dari mobil.
'Oh, pantes aja si Anggit tadi menangis. Rupanya Bos Leo beneran membawa perempuan itu bersama putrinya, kasihan sekali dia.' Batin Dion saat sudah mengetahui kenapa istri bosnya mendadak tidak bersemangat.
Saat itu juga, Dion buru-buru segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istri bosnya.
Anggit yang mengetahui jika suaminya baru saja pulang, dengan sekuat hatinya untuk tetap terlihat tegar di hadapan Leo dan Amora.
Ketika turun dari mobil, Leo maupun Amora, juga Azura arah pandangan mereka bertiga tertuju pada Anggit yang baru saja turun dari mobil.
"Tante cantik ...!" teriak Azura yang langsung berlari mengejar Anggit tengah berdiri didekat mobil.
Leo maupun Amora benar-benar tidak menyangkalnya, rupanya Azura langsung berteriak memanggil Anggit.
"Tante cantik, kok gak pernah kelihatan sih. Tante dari mana? kerja ya? Zura mempunyai banyak cerita loh, nanti Tante cantik jadi temannya Zura ya?"
Anggit hanya membalasnya dengan senyum, tidak tahu harus menyikapinya dengan cara apa, sedangkan hati dan jiwanya sedang rapuh.
"Azura, Tante Anggit baru saja pulang, pasti sangat capek. Jadi, Azura jangan ganggu dulu, kasihan Tante Anggit." Ucap Leo untuk mengganti topik atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Azura.
Anggit hanya senyum tipis saat mendengar alasan yang dilontarkan oleh suaminya sendiri. Sedangkan Dion sendiri memilih segera pulang daripada harus mendengar pembicaraan yang membuatnya emosi saat teman dekatnya dulu harus disakiti.
"Ya udah deh, Zura gak akan gangguin Tante cantik. Tapi janji ya, Tante jadi temannya Zura." Kata Zura yang masih menatap wajah ayu milik Anggit.
__ADS_1
"Maafkan Tante ya, Zura. Janji deh, nanti Tante bakal jadi temannya Zura. Kalau gitu Tante masuk ke kamar dulu ya, duluan Tante." Ucap Anggit dengan senyumnya yang manis, meski sebenarnya sangat pahit untuk ia rasakan.
Cepat-cepat si Anggit segera masuk ke kamar.