DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Masih sangat kecewa dan sakit hati


__ADS_3

Anggit yang masih menangis tersedu-sedu karena ulah suaminya yang tetap membela diri dengan alasan sang istri tidak bisa memberinya keturunan, tentu saja sangat menyakitkan.


Lebih lagi ketika dirinya meminta untuk berpisah, Leo menyatakan tidak akan menceraikan istrinya dengan alasan apapun. Tentunya membuat Anggitinasya semakin tertekan dan membuatnya semakin sakit hati.


Leo yang masih menghadap ke istrinya, langsung memeluknya kembali.


"Lepaskan! aku bilang, jangan peluk aku." Bentak Anggit dengan segala emosinya.


Leo sama sekali tidak memperdulikannya, dan semakin erat memeluk istrinya.


"Aku mohon, kita jangan berpisah. Aku tidak bisa melakukannya, aku memang sangat mencintai kamu, tapi aku juga tidak bisa melepaskan Amora. Mau bagaimanapun, Amora sudah memberiku seorang gadis kecil dan aku tidak bisa memisahkan Amora dengan Azura. Sayang, aku mohon maafkan kesalahan aku ini." Ucap Leo sambil memeluk istrinya, juga tak mampu untuk berpisah dengannya.


Anggit yang mendengarnya, mendadak tak berdaya dan hatinya terasa semakin sakit ketika harus menerima perempuan yang menjadi istri keduanya sang suami.


Madu, terlihat manis namun sangat pahit untuk dirasakannya. Bahkan, bisa menjadikan luka dan sulit untuk disembuhkan. Bibir bisa berkata ia, tetapi hatinya seolah tak mampu lagi untuk menerima rasa sakit itu.


Tubuhnya yang tadinya terlihat segar dan dengan polesan wajahnya menjadi ayu, seolah semuanya telah sirna dalam sekejap memandanginya.


Kehadiran seorang suami yang disambut dengan hangat, tiba-tiba mendadak menjadi panas yang menyengat hingga sampai ke ulu hatinya.


Leo yang baru saja melepaskan pelukannya, kini menatap wajah istrinya yang terlihat sembab karena menangis.


"Sayang, pahamilah perasaan aku ini. Tidak cuma kamu yang ingin bahagia, aku pun sama dan ingin bahagia bersamamu. Aku pastikan, Azura akan menjadi milikmu ketika waktu yang tepat, dan aku akan memisahkannya dengan ibunya." Ucap Leo meyakinkan istrinya, dan berusaha untuk membujuk.


Anggit hanya menatapnya saja, sama sekali tidak menjawab, lantaran ucapannya tidak akan pernah dibenarkan oleh suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu masih terus diam? Aku tahu ini sangat sakit untukmu. Tapi percayalah, setelah kita menemukan waktu yang tepat, kita akan bahagia bersama." Ucapnya lagi untuk lebih meyakinkan istrinya.


"Untuk apa aku menjawab pertanyaan kamu, tiada guna bagiku. Aku sangat kecewa padamu, juga aku merasa sakit hati karena kamu sudah membohongi aku. Mungkin bagimu untuk bahagia bersama, tapi tidak untukku. Aku sadar, aku memang banyak kekurangan dan tidak memberimu keturunan, aku sadar diri. Tapi yang membuatku kecewa, kenapa kamu tidak ingin berpisah denganku? bukankah akan lebih baik kita ini berpisah?"


"Tidak, aku tegaskan untuk tidak berpisah. Selamanya kamu adalah istriku, titik. Bahkan, aku akan menceraikan Amora setelah menemukan waktu yang tepat. Untuk sekarang ini mungkin aku tidak akan bisa memisahkan Amora dengan Azura, tapi tekadku sudah bulat dan akan tetap mengambil Azura."


"Kamu lelaki yang sangat egois, maunya kamu sendiri yang menang dan bahagia. Sedangkan aku, juga Amora yang harus menerima rasa sakit hati itu." Tegas Anggit saat merasa bosan mendengar permintaan dari suaminya yang benar-benar semakin muak untuk diterima.


Saat itu juga, Anggit langsung bangkit dari posisinya dan berdiri didepan cermin. Terlihat jelas jika kedua matanya terlihat sembab, juga napasnya yang merasa semakin sesak untuk bernapas.


Leo yang tidak ingin kehilangan istrinya, langsung memeluknya dari belakang. Naas, tenaga Amggit kali ini cukup kuat dan juga kerasa. Dengan dorongan sekuat tenaganya, rupanya sang suami terpental dan terjatuh.


"Aw!" pekik Leo sambil meringis saat ada rasa sakit yang ia rasakan di bagian punggungnya dan sikunya ketika menghantam lemari pakaiannya.


Leo sendiri sama sekali tidak marah, meski bagian punggungnya merasa sakit karena menghantam lemari pakaian.


Kemudian, Leo segera bangkit dan mendekati istrinya untuk meminta maaf atas perbuatannya yang memaksa diri untuk memeluk.


"Tidak apa-apa, aku akui memang aku yang sudah bersalah. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf. Tapi aku akan tetap memohon padamu untuk memaafkan aku, dan masih menerimaku menjadi suami kamu." Jawab Leo tetap berusaha untuk membujuk istrinya agar tidak meminta untuk berpisah, juga akan tetap hidup bersama.


Leo sendiri tidak peduli mau dikata apa, sekalipun mau dibilang lelaki paling egois. Tujuannya tetap sama, bahwa dirinya akan tetap pada keputusannya.


Anggit mencoba untuk mengatur napasnya, meski terasa berat dan juga sangat sesak. Bahkan, rasa sakit itupun masih belum bisa ia abaikan.


"Aku membutuhkan waktu untuk berpikir, dan tidak semudah mengatakan cinta sepertimu. Jadi, aku masih belum bisa memberimu keputusan." Ucap Anggit yang merasa dilema atas apa yang dirasakannya.

__ADS_1


Saat itu juga, Anggit teringat akan keluarganya, juga kepada adik laki-lakinya.


"Baiklah, kalau kamu ingin menenangkan pikiran kamu. Aku tidak akan mengatakannya lagi, tapi aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Bahkan sekalipun kamu ingin menggugatnya, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk berpisah denganku." Kata Leo yang tetap bersikukuh dengan keputusan yang diambil.


Anggit yang merasa malas untuk berbicara, kembali diam dan tidak menanggapinya.


Hari mulai gelap, matahari yang terang mulai tak menunjukkan cahayanya dan berganti dengan cahaya malam hari.


Karena mengetahui bahwa istrinya masih sangat kecewa pada dirinya. Leo meminta asisten rumah untuk mengantarkan makan malamnya ke kamar.


Tidak lama kemudian, apa yang diperintahkan kepada asisten rumah, sudah tersaji sesuai perintahnya.


"Oh ya, Bi. Setelah ini, Bibi ajak Amora dan Azura untuk makan malam. Katakan padanya kalau aku belum bisa menemani makan malam, aku sedang ada kesibukan." Ucap Leo memberi perintah pada asisten rumahnya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nona." Jawabnya dan bergegas untuk keluar, Leo mengangguk.


Sedangkan Anggit sama sekali tidak menoleh dan masih duduk di depan cermin. Pelan-pelan Leo mendekatinya.


"Sayang, kita makan dulu. Kamu pasti lapar, dan tidak baik jika kamu menyakiti diri kamu sendiri. Kalau kamu yang sakit, siapa yang rugi, kamu dan aku." Ucap Leo membujuk istrinya untuk makan malam.


"Makan aja sendiri, aku masih kenyang. Kenapa kamu merasa rugi? bukankah kamu akan merasa beruntung jika aku jatuh sakit dan pergi untuk selama-lamanya, dan kamu bisa hidup bahagia bersama selingkuhan kamu itu, yang sudah memberimu anak." Jawab Anggit dengan suara yang terasa sangat dongkol.


"Sayang, sudahlah jangan kamu bahas itu lagi. Sudah aku katakan, pilihanku tetap sama kamu." Ucap Leo sambil membungkukkan badannya sambil menyandarkan dagunya di atas pundak milik istrinya..


Anggit menyeringai dengan perasaan kesal, juga benci dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2