
Waktu telah berlalu, hari pun berganti. Anggitinasya Zardian yang sudah dinyatakan bercerai dengan Leo Jantrika Hambalan, keduanya sama sekali tidak pernah saling bertemu.
Leo yang bukan lagi suaminya Anggit, kesehariannya hanyalah di dalam ruangan khusus untuk dirinya, tetap masih berada dalam lingkungan di kediaman keluarga Hambalan. Juga, harus dilakukan penjagaan yang cukup ketat lantaran depresinya karena sebuah penyesalan yang terlalu dalam soal perselingkuhannya dulu bersama mantan kekasihnya.
Keduanya orang tuanya hanya memperhatikan putranya semata wayangnya penuh kesedihan saat melihat kondisi Leo yang begitu memprihatinkan.
"Pa, bagaimana ini? Leo sudah berubah total, bahkan dia sangat depresi. Setiap hari yang dipanggil hanya Anggit dan Anggit, Mama tidak tega melihatnya. Kalau sampai fatal, bagaimana?"
Sambil mengusap air matanya, ibunya Leo tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat putranya yang depresi.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk Leo, juga kita sudah mengobatinya ke luar negri, tetap saja tidak ada perubahan. Papa sendiri tidak bisa memaksakan Anggit untuk kembali bersama Leo, karena Anggit sudah terlanjur sakit hati. Entah lah, Papa hanya bisa pasrah, semoga ada jalan keluarnya untuk menyembuhkan putra kita satu-satunya, yakni penerus keluarga Hambalan." Jawab ayahnya Leo yang tidak punya pilihan selain pasrah atas keadaan putranya.
Leo yang seperti kehilangan kewarasannya, sedari tadi hanya bermain dengan boneka kesayangan milik mantan istrinya.
Keduanya sama-sama menangis saat melihat perubahan yang begitu drastis pada anaknya.
Lain lagi dengan Anggit, dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Kabar mengenai mantan suaminya benar-benar tertutup rapat oleh media manapun. Bahkan, kabar beritanya bahwa Leo telah pindah ke luar negri dan tidak lagi di tanah air.
Anggit yang tidak ingin mengorek tentang mantan suaminya, berusaha untuk tidak memikirkannya terus menerus.
Saat itu juga, Anggit tengah dikagetkan dengan suara bel pintu ruang kerjanya. Dengan cepat, langsung menekan tombol untuk membukakan pintu.
"Permisi Nona, maaf sudah mengganggu."
"Silakan masuk." Jawab Anggit saat mendongak.
"Baik, Nona." Ucapnya dan segera menghadap kepada Bos perempuannya.
"Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan, silakan."
"Di luar ada Tuan Dorman ingin bertemu Nona, apakah Nona ada waktu?"
__ADS_1
"Ada, suruh saja untuk menemui saya di ruangan ini. Tapi ingat, katakan pada orangnya jika waktu saya hanya sebentar saja, karena saya masih mempunyai kesibukan." Perintah Anggit untuk menyampaikannya kepada ayah dari mantan suaminya.
Tidak lama kemudian, Tuan Dorman datang bersama karyawan di kantor.
"Permisi, terimakasih sudah mengizinkan Papa untuk bertemu dengan kamu." Ucap Tuan Dorman.
Anggit yang tetap menghormati Tuan Dorman, segera bangkit dari posisinya dan mendekatinya.
"Silakan duduk, Pa. Maaf, waktu saya tidak lama, soalnya pekerjaan saya numpuk dan harus segera diselesaikan." Ucap Anggit mempersilakan duduk.
"Terima kasih," jawab Tuan Dorman dan segera duduk di sofa.
Kemudian, Anggit juga duduk di hadapan ayah dari mantan suaminya.
"Maaf jika saya lancang bicara, ada perlu apa Papa datang kemari?" tanya Anggit penasaran.
Tuan Dorman menarik napasnya, dan membuangnya dengan pelan. Berharap, usahanya untuk membujuk Anggit dapat diterima.
"Begini Nak, Papa ingin sekali mempertemukan Leo dengan kamu. Papa dan Mama benar-benar sudah tidak bisa menangani Leo. Kondisinya sekarang semakin memprihatinkan, setiap harinya hanya menyebut namamu dan namamu." Jawab Tuan Dorman yang tidak peduli jika seperti pengemis sekalipun.
Tuan Dorman yang lagi-lagi selalu mendapat penolakan dari mantan istri anaknya, hati kecilnya begitu kecewa saat tidak mempunyai kesempatan sedikitpun.
"Baiklah jika kamu masih tetap tidak bisa untuk menemui Leo, Papa tidak akan memaksakan kamu untuk bertemu dengannya." Kata Tuan Dorman yang menyerah atas permintaannya untuk membujuk mantan istri anaknya.
Tidak mendapat hasil apapun untuk dibawa pulang, akhirnya Tuan Dorman kembali pulang ke rumah dengan tangan yang kosong.
Dengan terburu-buru, Tuan Dorman berjalan begitu gesit untuk pulang ke rumah.
"Dion, kamu ada disini?" tanya Tuan Dorman saat memergoki Dion yang tengah berada di kantor milik keluarga Zardian.
"Saya ada perlu dengan Anggit, Tuan, hanya itu saja. Kebetulan juga saya ada acara, dan ingin mengajaknya untuk bertemu bersama rekan-rekan kerja, tidak lebih." Jawab Dion meyakinkannya.
__ADS_1
"Oh, saya kira ada pertemuan lain. Maaf saya sudah salah mengira, permisi." Ucap Tuan Dorman yang langsung berpamitan dan bergegas pergi untuk pulang.
Dion yang mengerti atas sikapnya Tuan Dorman, sama sekali tidak menggubris dan memilih untuk segera menemui Anggit.
Lain lagi Tuan Dorman yang tengah menaruh curiga, rasanya ingin mengetahui seberapa dekatnya Anggit dengan Dion. Meski pernah mendapat isu mengenai kedekatan mereka berdua, pikir Tuan Dorman hanya sekedar teman dimasa lalu.
"Andai saja Leo lebih peka dari dulu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Sangat disayangkan dengan kondisi kamu sekarang ini, Nak. Sungguh, kamu harus menerima akibatnya." Gumam Tuan Dorman yang mengakui akan kesalahan putranya sendiri.
Dion yang baru saja mendapat izin untuk menemui pimpinan perusahaan, cukup lega untuk bisa bertemu.
"Permisi," sapa Dion yang sudah berada di ambang pintu.
"Masuk," sahut Anggit tanpa ada basa basi apapun kepada Dion.
"Tumben kamu lagi sibuk, biasanya jam segini kamu sudah pulang. Apa perlu aku bantuin kamu? itupun ada komisinya." Ledek Dion yang tidak lagi canggung, juga tidak ada penghalang apapun untuk mendekatinya.
Kedekatan antara Dion dan Anggit, sedikit demi sedikit mulai berubah.
"Sudah menjadi kebiasaan kamu dari dulu, setiap mau membantuku selalu meminta komisi. Maaf, aku sedang penuh perhitungan." Jawab Anggit sambil menyibukkan diri dengan layar komputernya.
"Oh ya, ada perlu apa tadi Tuan Dorman datang ke kantor kamu ini?"
"Tidak ada perlu apa-apa, hanya memintaku untuk menemui anaknya, itu saja."
"Terus, apa jawaban kamu?"
"Aku gak bisa, aku tidak ingin mempunyai rasa belas kasihan dan ujungnya aku yang kalah. Aku ingin melupakan segala kenangan ku bersamanya, hanya itu. Aku takut jika akan terulang lagi, karena rasanya itu sangat menyakitkan ketika dibohongi dan dikhianati. Lebih lagi berada dalam satu atap, tentunya sangat menyakitkan. Maaf, aku jadi curhat." Jawab Anggit tanpa sadar sudah mengeluarkan sesuatu yang terpendam.
"Tidak apa-apa, aku bukan lelaki ember yang akan membocorkan ucapan kamu tadi. Oh ya, aku mau mengajakmu makan malam, bagaimana? mau ya? kalau kamu mau, nanti supir ku yang jemput." Ucap Dion sambil membungkukkan badan di hadapan Anggit.
"Kavil ikut juga, 'kan?"
__ADS_1
Dion menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Enggak, cuma kita berdua saja." Jawab Dion dengan jujur, juga tidak ada yang ditutup tutupi.