DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Seolah dunianya runtuh


__ADS_3

Leo yang masih berusaha untuk membujuk istrinya, berharap sedikit demi sedikit emosinya pun mulai mereda.


"Sayang, ayo kita makan dulu. Jangan sampai kamu mengabaikan kesehatan kamu, nanti kamu bisa jatuh sakit. Aku suapi ya, bentar aku ambilkan dulu." Ucap Leo yang bergegas mengambilkannya.


Anggit masih diam dan juga tidak merespon. Sedangkan Leo sendiri tidak peduli dengan istrinya masih kesal sekalipun membencinya.


Setelah mengambilkan porsi, kembali duduk di dekat istrinya.


"Sayang, buka mulutnya, a' aaa." Bujuk Leo sambil memberi kode dengan dirinya membuka mulutnya.


Anggit langsung menoleh dan menatap suaminya.


"Aku masih kenyang, dan juga aku belum ingin makan. Kalau kamu ingin makan, habiskan saja." Jawab Anggit menolak.


Leo menghela napasnya panjang, begitu sulit dan sangat susah untuk membujuk istrinya.


"Sayang, aku tidak ingin kalau kamu sakit. Ayolah kita makan, jangan sampai aku mendapat marah dari keluarga kamu. Kalau kamu sakit, adikmu pasti akan memarahiku."


"Bukan urusanku jika keluargaku akan marah besar padamu, termasuk adik laki-lakiku sendiri." Jawab Anggit dengan menatap suaminya dengan tatapan penuh kebencian.


"Jangan begitu dong, sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, percayalah denganku." Ucap Leo memohon.


"Mau sampai kapan, kamu akan terus mengatakan hal yang sama kalau kamu akan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."


"Sampai kamu mau memaafkan aku. Dengan kamu yang mau menerima suapan dariku, itu sudah cukup. Terimalah perhatian aku ini, sayang. Ini, ayo makan." Kata Leo sambil menatap istrinya penuh harap sambil menyodorkan sendok di depan mulut istrinya.


Anggit masih menatap suaminya.


Dengan terpaksa, Anggit membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya. Sedangkan Leo tersenyum lega, lantaran sang istri mau menerima suapan darinya.


'Tetap saja, aku tidak akan memaafkan kamu begitu saja. Kamu boleh curang, tapi aku juga bisa lebih curang lagi untuk membuatmu merasakan sakitnya sepertiku.' Batin Anggit sambil mengunyah makanan.


Leo merasa senang karena usahanya berhasil untuk membujuk istrinya.


"Terima kasih ya, sayang. Ini, makan lagi. Aku akan menyuapi kamu sampai porsinya habis." Ucap Leo bersemangat untuk menyuapi istrinya.

__ADS_1


Sedangkan Anggit membalasnya dengan senyum yang tipis, seolah setengah terpaksa.


Sedangkan di dalam kamar yang satunya, rupanya Amora tengah kesal karena Leo tidak mengajaknya makan bersama.


"Sial! kurang ajar sekali dia, berani-beraninya membedakan aku dengan istrinya. Awas saja kamu, aku bakalan merebut diri kamu dari istrimu." Gerutu Amora penuh kesal.


"Mama, Mama ngomong apa sih, Azura gak ngerti deh. Mama marah sama Papa ya? memangnya Papa Azura kemana, Ma?"


Amora bergegas berjongkok di hadapan putrinya dan memegangi kedua lengannya.


"Tidak apa-apa, Azura. Papa sedang sibuk, jadi gak bisa diganggu. Kamu tenang aja, Papa Azura akan tetap menjadi Papanya Azura." Jawab Amora beralasan dan merayu putrinya agar tidak memberinya banyak pertanyaan.


Azura mengangguk mengerti.


"Ya udah kalau gitu, kita makan malam dulu yuk. Nanti kalau Azura gak mau makan, kalau sakit, bagaimana?"


"Iya deh, Azura mau makan bareng Mama. Tapi, bareng Tante tadi juga kan, Ma?"


Amora tersenyum getir.


"Sibuk semua ya, Ma."


Amora mengangguk dan tersenyum, berharap putrinya akan mempercayainya.


"Ya udah, ayo kita makan malam dulu." Ajak Amora kepada putrinya, serta berusaha untuk membujuknya.


'Untuk saat ini aku akan mengalah, tetapi tidak untuk kedepannya. Apapun caranya, aku akan berkuasa di rumah ini, dan akulah yang akan menjadi nyonya Leo Jantrika Hambalan.' Batin Amora dengan penuh percaya diri bahwa dirinya akan menjadi nyonya di rumah keluarga Hambalan.


Sampainya di ruang makan, Azura begitu heboh saat melihat beberapa menu makanan di atas meja. Kemudian, Amora mengambilkannya untuk putrinya dan untuk dirinya sendiri.


"Coba ada Papa, pasti kita gak kesepian. Tapi, Mama bilang kalau Papa sedang sibuk, juga Tante yang cantik itu juga sibuk, sepi jadinya."


"Sudah, jangan ngomong terus, gak baik ketika makan sambil bicara. Habiskan dulu makanannya, baru bicara." Jawab Amora dan meminta putrinya agar tidak banyak bicara ketika sedang makan.


Sedangkan di dalam kamar, Anggit baru saja selesai makan malamnya dengan sang suami. Leo sendiri akhirnya merasa lega, rupanya bujukannya tidak sia-sia.

__ADS_1


"Nah, gini dong, kan kenyang jadinya. Setelah ini kamu mau minta apa, nanti aku akan turuti." Ucap Leo sambil mengembalikan piringnya di atas meja, kemudian kembali duduk didekat istrinya.


"Aku gak minta apa-apa sama kamu. Lagi pula percuma juga, aku sudah tidak berselera untuk meminta sesuatu padamu." Jawab Anggit masih dengan kekesalannya.


Leo meraih tangan istrinya dan menciumnya.


"Katakan saja, sayang. Apa yang kamu inginkan, katakan saja, tapi bukan soal perceraian kita. Apapun rengekan kamu, aku gak akan izinkan kamu sama sekali. Kamu akan tetap menjadi istriku, dan istriku untuk selamanya."


Anggit yang merasa jijik ketika mengingat perselingkuhan suaminya, langsung melepaskan tangannya.


"Aku ingin istirahat, jangan menggangguku." Jawab Anggit yang sedang tidak ingin ada yang mengganggunya.


Leo yang mengerti akan perasaan istrinya, tetap bersikukuh untuk tidak meninggalkannya di dalam kamar sendirian.


"Aku gak akan keluar dari kamar ini sampai diri kamu benar-benar membaik. Sekarang lebih baik istirahat saja, aku akan menemanimu."


"Aku sedang tidak membutuhkan teman di dalam kamar, aku lebih nyaman sendirian." Kata Anggit, dan bergegas bangkit dari posisinya.


Begitu juga dengan Leo, dirinya segera berdiri.


"Pokoknya aku gak akan keluar dari kamar ini, sama sepertimu. Ya udah, kamu istirahat, aku mau mandi dulu." Ucap Leo yang langsung menuju kamar mandi.


Anggit sendiri tidak menanggapinya, dirinya memilih tiduran di atas tempat tidur. Berharap, penat yang ada di kepalanya akan sedikit mereda.


Sambil meringkuk, Anggit kembali menangis, namun tidak dengan suara tangisan yang keras. Susah payah menahan rasa sesak di dadanya saat teringat rasa sakit itu, yakni pengakuan dari suaminya.


Semakin rasa sakit itu dirasakannya, semakin penat pula untuk memikirkannya. Anggit memilih untuk beristirahat, berharap semuanya adalah mimpi buruknya.


Tidak lama kemudian, Leo keluar dari kamar mandi dan mendekati istrinya, melihat apakah sudah tidur, pikirnya..


'Maafkan aku, sayang. Ini semua memang salahku, tapi aku juga tidak bisa terus terusan yang hampa tanpa hadirnya seorang anak. Maafkan aku yang harus membagi waktu, juga cinta.' Batin Leo sambil memperhatikan istrinya yang tertidur.


Kemudian, Leo duduk disebelahnya, dan mengusap air mata istrinya yang telah membasahi kedua pipinya.


"Tidurlah, sayang. Maafkan aku yang sudah melukai hatimu, juga sudah egois." Ucapnya lirih, dan mengecup keningnya seperti kebiasaannya.

__ADS_1


__ADS_2