DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Penasaran


__ADS_3

Waktu yang dilewati oleh Anggit tidak terasa lewat satu minggu lamanya dirinya tinggal di rumah mendiang kedua orang tuanya.


Begitu juga dengan Leo, pagi pergi ke kantor, dan pulang ke rumahnya. Sedangkan untuk malam harinya, Leo pulang ke rumah mendiang mertuanya untuk menemani istrinya.


Namun kini Anggit harus pulang ke rumah yang dimana sudah menjadi tempat tinggalnya sejak menikah. Dengan terpaksa Anggit ikut suaminya pulang ke rumah, karena tidak mungkin juga jika dirinya harus menolak. Tentu saja, akan menjadi keributan besar jika tiba-tiba mengatakan sejujurnya kepada adik laki lakinya.


"Kalau ada sesuatu yang Kakak butuhkan, atau ada hal lainnya, Kakak hubungi Kavil. dua puluh empat jam siap memberi waktuku untuk Kakak." Ucap Kavil sebelum kakaknya pulang.


Anggit tersenyum akan sebuah perhatian dari saudaranya.


"Ya Kav, terima kasih atas perhatian kamu kepada Kakak. Jaga diri kamu baik-baik, jika ada apa-apa, hubungi Kakak. Sama seperti mu, Kakak juga bertanggung jawab atas diri kamu. Ya udah Kakak pulang dulu, semangat untuk menggapai mimpimu. Jangan lupa juga, segera perkenalkan calon istrimu pada Kakak. Segeralah menikah, agar kamu ada teman di rumah." Jawab Anggit, sebelum pulang dirinya juga berpesan kepada adiknya.


"Kakak tenang saja, kalau sudah waktunya untuk menikah, Kavil akan segera memperkenalkan calon istri kepada Kakak." Ucap Kavil.


"Kalau sudah, kami pamit dulu. Untukmu Kavil, cepatlah menikah, agar kami segera mendapatkan keponakan. Ya udah kalau gitu, kita berdua pamit pulang." Timpal Leo ikut bicara.


"Doakan saja Kak Leo, semoga segera menemukan calon istri yang baik seperti Kak Anggit. Satu lagi, Kavil titip Kak Anggit sama Kak Leo, jangan bosan bosannya untuk memberi perhatian kepada Kakakku. Juga, jangan sakiti hatinya." Ucap Kavil berpesan kepada kakak iparnya.


"Kamu tenang saja, Kakak kamu akan aman bersama Kakak." Jawab Leo dengan entengnya, bahkan tidak terpikirkan sedikitpun atas kesalahan yang sudah ia perbuat kepada istrinya.


Kavil yang percaya dengan kakak iparnya, pun mengangguk dan tersenyum.


"Hati-hati untuk kalian berdua diperjalanan, semoga selamat sampai rumah." Ucap Kavil.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Anggit dan Leo segera pulang ke rumah. Kini tinggallah Kavil yang menempati rumah sendirian, dan hanya ditemani oleh beberapa asisten rumah saja.


Suasana sepi itu sudah pasti, lantaran tidak ada lagi senda gurauan dari kedua orang tuanya saat tengah menikmati jam santai. Mau bagaimanapun, Kavil tidak mungkin untuk menolak takdir. Sebisa mungkin Kavil menerimanya dengan lapang, dan juga tidak larut dalam kesedihannya yang terus menerus.


Cukup lama dalam menempuh perjalanan menuju rumah, akhirnya Anggit sampai juga di rumah yang ia tempat bersama suaminya. Juga, ditempati bersama madunya.


Amora yang mendapati suaminya pulang bersama istri pertamanya, langsung menyambutnya sambil bergelayut manja seperti kekurangan perhatian.


Anggit yang merasa jijik melihatnya, langsung bergegas masuk ke kamarnya. Sedangkan Leo tidak bisa berbuat apa-apa dengan apa yang dilakukan oleh Amora.


"Dimana Azura? kok gak kelihatan."


"Azura baru saja tidur, habisnya nungguin kamu gak pulang pulang. Jadi, sedikit ngambek dianya. Tapi ya udah lah, kamu sudah pulang ini." Jawab Amora sambil melepaskan jaket yang dikenakan oleh suaminya, dan juga membantunya melepaskan baju kemejanya dengan tangannya yang tengah membangunkan ga_irah suaminya.


Lebih lagi waktunya pun sudah malam, membuat Leo semakin terbawa suasana. Bahkan, dengan sigap, Amora melepaskan piama tidurnya dan menyisakan pakaian yang begitu min_im, membuat Leo seperti bayi yang kehausan dan menuntutnya lebih.


Anggit yang sudah malas untuk melihat rekaman CCTV di setiap ruangan, dirinya memilih untuk mengabaikannya. Dengan perasaan yang hancur berkeping keping, Anggit menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah melakukan ritualnya sebelum tidur.


Kemudian, Anggit merentangkan kedua tangannya dan menatap langit-langit kamarnya yang pernah dihuni bersama suaminya. Tapi kini, semua bak ditelan bumi.


Baru saja mau memejamkan kedua matanya, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu kamarnya. Saat itu juga, Anggit segera bangkit dari posisinya untuk membukakan pintunya.


"Bibi, ada apa?" tanya Anggit saat baru saja membuka pintu.

__ADS_1


"Maaf Nona, jika Bibi sudah mengganggu Nona istirahat. Ini, Bibi hanya mau menyampaikan pesan ini untuk Nona, tadi ada yang mengirim surat undangan ke rumah teruntuk Nona Anggit. Ini terimalah." Jawabnya, dan menyodorkan sebuah undangan kepada istri bosnya.


"Oh undangan, terima kasih ya Bi. Kalau begitu Bibi boleh istirahat." Ucap Anggit saat menerima surat undangan.


Setelah itu, asisten rumah segera kembali ke tempat tidurnya. Sedangkan Anggit yang penasaran, segera membukanya.


"Tumben dapet surat undangan, acara apa ini? bikin penasaran aja." Gumamnya dengan rasa penasaran saat menerima surat undangan yang tidak dikenalinya.


Dengan seksama Anggit membukanya dan membacanya dengan sangat teliti. Alangkah terkejutnya saat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di surat undangan. Senyum merekah tengah terpancar lewat kedua sudut bibirnya.


"Aku kura surat undangan apa, kirain suamiku lebih dulu memberiku surat cerai, gak taunya undangan reunian. Tapi, kenapa tadi Dion gak bilang sama aku ya. Apa mungkin karena takut dengan suamiku? bisa jadi. Eh tunggu, di hotel? yang benar saja, kenapa gak di restoran atau di Cafe gitu. Tapi gak apa-apa lah, jugaan acaranya malam." Ucapnya sambil memperhatikan isi dalam surat undangan tersebut.


Anggit masih bertanya-tanya lantaran acara yang begitu mendadak, juga yang membuatnya penasaran adalah harus mengadakannya di hotel.


Rasa penasaran yang terus menghantui pikirannya, Anggit masih berpikir. Karena tidak ingin terus memikirkannya, Anggit segera menghubungi salah satu teman sekolahnya untuk memastikan surat undangan yang ia terima.


Setelah panggilan telponnya tersambung, Anggit segera menanyakan soal surat undangan kepada temannya. Sambil bernapas lega, akhirnya Anggit dapat jawaban yang pasti.


"Aku kira bohongan, jadi aku sedikit penasaran. Tapi benar kan, acaranya di hotel?"


Saat menerima jawaban yang sama dengan yang tertera disurat undangan, Anggit tidak lagi penasaran. Kemudian, Anggit memutuskan panggilan telponnya.


"Ternyata benar acaranya di hotel, semoga saja aku dapat izin untuk pergi ke acara itu. Sudah lama juga tidak pernah bertemu dengan teman sekolah." Gumamnya sambil meletakkan surat undangan di atas meja.

__ADS_1


Karena malam semakin larut, Anggit kembali naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat dan melupakan masalah berat dalam rumah tangganya.


Rasa kantuk yang tidak lagi dapat di tahan, akhirnya Anggit terlelap dari tidurnya.


__ADS_2