
Paginya Leo bersama ayahnya, juga dengan kakeknya tengah bersiap-siap berangkat ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
Leo yang masih berdiri di depan cermin, pandangannya begitu bengis saat mengingat kenangan bersama Amora. Bahkan, perlakuan kasar tehadap istrinya sendiri yang tidak bersalah pun harus mendapat imbasnya.
Dengan kuat Leo mengepalkan kedua tangannya, seolah dirinya begitu bodoh untuk di kelabui. Sungguh merasa diejek dan juga sangat terhina ketika dibohongi selama bertahun-tahun.
Saat itu juga, pandangan Leo terarah pada sebuah bingkai besar yang terdapat foto pernikahannya bersama Anggitinasya.
Ingatannya kembali disaat dirinya tengah cidera tidak bisa berjalan, tiba-tiba ada seorang perempuan yang mau menerima perjodohan. Awalnya menolak, lambat laun perasaan itu ada. Tapi kini semua telah sirna dengan mudahnya menggoreskan luka pada istrinya yang menerima kekurangan dari suaminya.
Pelan-pelan Leo berjalan mendekati bingkai foto itu, kemudian mengusapnya dengan tangannya.
"Maafkan aku, Anggit, maafkan aku ini yang sudah dibutakan oleh cinta dan naf_su. Aku yang tidak tahu diri dengan kekurangan ku sendiri, tapi justru menuduh dirimu yang banyak kekurangan. Sedangkan aku sendiri yang banyak kekurangan daripada kamu." Ucapnya sambil menatap foto pernikahannya.
"Jadikan semua yang kamu hadapi ini adalah cambuk dan pelajaran untukmu, masih ada kesempatan untukmu berubah. Mana hanya bisa mendoakan, semoga masalahmu segera terselesaikan." Ucap ibunya yang sudah berada di dekat putranya.
"Ma, apakah Anggit mau memaafkan aku dan mau menerimaku lagi?" tanya Leo seperti kehilangan.
"Mama tidak bisa menjamin untuk menerima kamu lagi, tapi apa salahnya jika kamu mencoba untuk mendekatinya lagi dan merayunya lagi dengan caramu sendiri memperlakukan istrimu." Jawab ibunya mencoba untuk memberi saran kepada putranya.
Leo mengangguk tanda mengerti, dan segera pamit dengan ibunya.
"Ma, aku berangkat dulu. Doakan aku ya Ma, semoga semuanya dapat diproses dengan cepat." Ucap Leo yang langsung memeluk ibunya, dan melepaskan kembali dan bergegas berangkat bareng ayahnya dan juga kakek Hambalan.
Selama perjalanan, Leo terus memikirkan Anggit. Penyesalan yang sudah menyakiti hati isterinya, juga sudah mengabaikan kesetiaan sang istri maupun perhatian serta kesabaran istrinya, Leo merasa pesimis untuk mendapatkan maaf darinya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Leo bersama sang ayah dan kakek, segera masuk kedalam untuk memberi keterangan.
Cukup lama dalam memberi penjelasan maupun keterangan dan juga beberapa bukti yang sudah berada di tangannya, setidaknya tidak dengan tangan kosong.
Ketika sudah memberi keterangan, Leo merasa lega karena semua bukti diterima.
"Akhirnya mereka berdua dinyatakan bersalah." Ucap Leo setelah membuang napasnya dengan kasar.
Karena penasaran, Leo bersama sang ayah dan kakek menemui Antonio dan Amora secara bergantian karena tempatnya yang terpisah.
"Kamu ini terlalu ceroboh, Antonio. Kamu sama seperti ayahmu, ambisi yang dibesarkan tanpa melihat diri sendiri. Sekarang nikmati buah dari yang kamu tanam dari orang tuamu, dan juga atas perbuatan kamu sendiri. Ingat, yang membunuh ayahmu itu bukanlah saya, tetapi kecerobohan ayahmu sendiri." Ucap Tuan Dorman kepada Antonio.
Antonio langsung meludah.
"Setidaknya aku puas menghancurkan rumah tangga putramu, dan aku tidak merasa rugi karena putramu tidak akan pernah lupa dengan penyesalannya." Jawab Antonio dan tertawa puas seperti orang gila.
__ADS_1
Leo yang mendengarnya, pun geram dibuatnya. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran si Antonio berada di dalam sel tahanan.
Tidak ingin semakin memanas kondisinya, kakek Hambalan langsung menarik tangan Leo untuk meninggalkan tempat tersebut.
Kemudian, Leo menemui Amora yang tengah berada sel tahanan. Leo yang melihatnya pun seperti ingin menerkam musuh.
"Rupanya kau telah bekerja sama dengan Antonio, benar-benar ke_parat kau ini. Tujuh tahun lamanya kamu membohongiku, dan sekarang kau rasakan akibatnya berada dalam jeruji besi ini hingga maut memanggilmu." Ucap Leo pada istri keduanya.
"Aku tidak peduli sekalipun aku harus mati didalam penjara, dan aku puas karena rasa sakit hatiku kepada keluargamu terbalaskan, dan sekarang kamu selamat menikmati penyesalan kamu terhadap Anggitinasya." Jawab Amora tanpa merasa bersalah apapun, justru terlihat senang saat melihat Leo yang tengah emosi.
"Kau!" dengan tatapannya yang tajam, salah satu tangannya siap untuk melayangkan sebuah tamparan, namun tidak dapat untuk dilakukannya.
Saat itu juga, Tuan Dorman menghalangi putranya yang terlihat tengah emosi dan hendak melakukan sesuatu pada Amora.
"Sudah! hentikan. Kamu tidak ada gunanya menghajar Amora, anggap saja dia adalah sebuah bencana untukmu. Ayo kita pergi dari sini, biar ketukan palu yang akan menjatuhkan hukuman kepadanya, juga Antonio." Ucap Tuan Dorman sambil menarik putranya dibantu oleh kakek Hambalan untuk mengajaknya pulang.
"Sudah! ayo kita pulang, perempuan seperti dia tidak pantas untuk kamu ladenin." Timpal kakek Hambalan sambil menarik cucunya.
Leo terpaksa nurut ajakan ayahnya dan kakek Hambalan pulang, meski sebenarnya ingin menghajar Amora maupun Antonio. Namun, apa gunanya jika hanya akan menambah beban pikiran untuk meladeni perbuatan istri keduanya bersama Antonio yang ia anggap tekan kerjanya yang baik, tetapi kenyatannya jauh dari prasangka baik.
.
.
.
Di rumah kediaman keluarga Zardian, Anggit tengah ditemani asisten rumah di dapur.
"Permisi Nona,"
"Ya Mbak, ada apa?"
"Ada tamu mencari Nona."
"Siapa?" tanya Anggit penasaran.
"Tuan Dion, Nona."
Seketika terkejut mendengar nama yang disebutkan.
"Dion?"
__ADS_1
"Ya, Tuan Dion teman sekolah Nona."
"Oh, ya Mbak. Tolong buatkan minum ya, dan katakan suruh nunggu sebentar." Ucap Anggit sedikit bingung harus bagaimana saat menemuinya.
Karena tidak ingin membuat lama menunggu, Anggit segera menemui.
"Maaf, aku sudah membuatmu menunggu." Ucap Anggit yang kini giliran dirinya yang menjadi malu, lebih saat kejadian di hotel, Anggit benar-benar seperti tida punya nyali.
"Tidak apa-apa, Nona."
"Jangan panggil aku Nona, panggil saja Anggit seperti dulu sebelum aku menikah. Juga, kamu bukan lagi sekretaris suamiku."
Dion tersenyum mendengarnya.
"Aku kesini sebenarnya ingin bertemu dengan Kavil juga, tapi katanya Kavil sedang keluar, jadi aku meminta sama asisten rumahmu untuk memanggilmu."
"Memangnya kamu ada perlu apa datang kesini? sampai-sampai ingin bertemu aku dan juga adikku."
Saat itu juga, Kavil pun pulang.
"Hei, Kak Dion udah datang?"
"Ya, baru aja."
"Maaf, aku tadi sedang pergi servis mobil. Oh ya, gimana ada apa?"
"Sebentar." Jawabnya, dan membuka tas kerjanya untuk mengambil sesuatu yang akan diberikan kepada Anggit ataupun Kavil.
Anggit dan adiknya tengah memperhatikan Dion yang terlihat sibuk dengan berkas-berkas dari tasnya.
"Ini, berkas dan surat penting untuk kalian." Ucap Dion sambil menyodorkan berkas kepada Kavil.
"Terima kasih ya Kak, sudah membantu kami." Ucap Kavil pada Dion.
Anggit masih menyimpan rasa penasaran, hanya bisa menjadi pendengar setia.
"Sama-sama, aku pun mengucapkan terima kasih padamu karena sudah mempercayakan aku untuk menanganinya."
"Andai saja tidak ada rasa belas kasihan, mungkin Kak Dion sudah menjadi suaminya Kak Anggit. Tapi sayangnya yang dikasihani tidak tahu diri." Ucap Kavil yang lupa jika sang kakak ada di dekatnya.
Saat itu juga, Anggit langsung menoleh pada adiknya. Kavil yang keceplosan hanya nyengir kuda sambil menatap wajah sang kakak.
__ADS_1
"Kamu jangan ngaco kalau ngomong, Kav. Ya udah ya, aku pulang. Anggit, aku pulang dulu. Sudah ya, aku masih banyak kerjaan. Kamu tidak perlu menanggapi ucapan dari Kavil, dia suka ngaco kalau ngomong."
Saat itu juga Dion yang langsung memotong ucapan dari Kavil, dan langsung bergegas untuk pulang.