DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Ada yang kesal


__ADS_3

Anggit yang tengah meringkuk sambil memeluk guling, hampa terasa yang tengah ia rasakan tanpa adanya sang suami berada di sebelahnya.


Jangankan untuk memeluknya, tidur bersamanya pun tidak. Menangis tiada guna lagi untuk Anggit dalam menghadapi nasib buruk yang tengah menimpa dirinya. Pasrah, hanya itu yang mampu untuk dilakukannya.


Tidak ingin bangun kesiangan, Anggit bergegas untuk memejamkan kedua matanya dan terlelap dari tidurnya sambil memeluk bantal guling hingga pagi menyambutnya.


Saat terbangun dari tidurnya, lagi-lagi Anggit kembali teringat dengan suaminya. Bayangan bayangan keharmonisan hubungan rumah tangganya, kembali mengingatkan kenangan-kenangan indah bersamanya.


Tidak hanya sebuah pengakuan cinta, namun dengan sebuah perhatian telah ia dapatkan dari suaminya yang berawal dari sebuah perjodohan.


Perjodohan karena sesuatu balas budi, Anggit siap berlabuh mengarungi bahtera rumah tangga yang awalnya tidak mengerti apa itu cinta. Saat keduanya saling mengungkapkan akab perasaan satu sama lain, kini rupanya hanya sebuah pengkhianatan yang ia dapatkan.


Sakit hati yang diterima oleh Anggit tidak mampu mengembalikan ketulusannya.


Anggit membuang napasnya dengan kasar. Kemudian, ia segera bergegas untuk melakukan ritual paginya ketika baru bangun tidur. Setelah itu, Anggit memilih untuk menyibukkan diri pergi ke dapur agar pikirannya tidak terus-menerus memikirkan suaminya yang sudah beristrikan lagi.


"Selamat pagi, Nona." Sapa beberapa asisten rumah tengah menyapa ramah terhadap majikan perempuannya.


"Pagi juga, kok sepi, belum pada bangun?" jawab Anggit dan bertanya lantaran tidak mendapati suaminya maupun istri keduanya keluar dari kamar.


"Ekhem."


Leo pun mengagetkan istrinya maupun asisten rumah yang tengah bicara.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa mereka kepada majikan laki-lakinya.


"Pagi, lanjutkan pekerjaan kalian." Jawab Leo memberi perintah sambil berjalan mendekati istrinya.


Setelah itu, beberapa asisten rumah segera bergegas kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Leo kini sudah semakin dekat jaraknya dengan sang istri.


"Nanti malam aku akan ada pertemuan penting dengan rekan-rekan kerjaku, dan aku membutuhkan kamu." Ucap Leo langsung ke pokok intinya.


Anggit yang belum mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya, masih menatapnya bingung.


"Tidak perlu memandangiku seperti itu, karena aku tidak akan tertarik lagi denganmu." Kata Leo dengan terang-terangan di hadapan istrinya sendiri.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak mengharapkan kamu untuk tertarik padaku, tentu saja aku harus berpikir berkali-kali untuk mengharapkan kamu. Jadi, katakan saja apa yang kamu ucapkan barusan." Jawab Anggit sebisa mungkin untuk tegar, dan tidak memperlihatkan kesedihannya.


"Nanti malam aku ada pertemuan dengan rekan kerjaku, dan aku tidak mungkin mengajak Amora untuk menghadiri acara tersebut. Jadi, kamu yang akan menggantikannya."


Anggit tersenyum getir saat mendengar permintaan dari suaminya itu.


"Ya ya, sekarang aku baru mengerti. Terkadang hidup itu memang harus terbalik, agar bisa menilai diri kita sendiri itu seperti apa." Ucap Anggit sejenak menghela napasnya.


"Jangan banyak ceramah ataupun banyak bicara di hadapanku, lebih baik sekarang kamu persiapkan diri untuk nanti malam." Ucap Leo yang kini telah berubah tiga ratus enam puluh derajat.


Leo yang harus berangkat ke kantor, segera membersihkan diri. Sedangkan Anggit memilih untuk menyibukkan diri berada di dapur membantu menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya yang sering ia lakukan, hitung hitung agar badannya tidak berdiam diri dan memilih untuk melakukan aktivitas.


Saat Leo masuk ke kamar, rupanya Amora masih meringkuk dengan tidurnya yang pulas. Begitu juga dengan Azura, sama halnya yang tengah tidur dengan pulas seperti ibunya.


Leo yang tidak ingin mengganggu tidurnya, ia memilih untuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Meski tidurnya satu kamar dengan Amora, semua pakaiannya masih di kamar yang satunya, kamar yang ditempati bersama istri pertamanya.


Tidak ingin terlambat, Leo segera bersiap-siap untuk berangkat.


Ketika baru saja menuruni anak tangga yang paling akhir, dan terlihat baru saja keluar dari kamar yang ditempati bersama Anggit dulunya, Anggit tetap bersikap biasa-biasa saja saat berpapasan.


"Aku sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu." Ucap Anggit dihadapan suaminya.


"Tunggu sebentar, jangan berangkat dulu." Ucap Anggit menahannya, dan dirinya segera mengambil sesuatu di ruang makan.


Leo yang tidak ingin citra nama baiknya semakin buruk dimata keluarganya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat keluarganya murka dan mengambil alih jabatannya. Tentu saja menjaga hubungannya bersama istri pertamanya.


"Ini, aku sudah siapkan bekal untukmu. Aku tahu, jika kamu sangat sensitif jika makan di kantin. Jadi, aku membawakan bekal untuk kamu." Ucap Anggit yang sudah hafal betul mengenai suaminya.


Leo yang memang sering dibawakan bekal oleh istrinya, dirinya sama sekali tidak berani untuk menolaknya.


"Ya sudah kalau gitu, aku berangkat." Jawab Leo yang langsung bergegas berangkat ke kantor.


Anggit sendiri hanya mengangguk pelan, dan menatap pada punggung suaminya yang semakin jauh hingga tidak tampak lagi bayangannya sama sekali.


Setelah itu, Anggit segera bergegas diri untuk sarapan pagi sendirian. Kemudian dilanjut untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.


Saat berada di depan rumah, ternyata Dion sudah menunggunya.

__ADS_1


"Mari, Nona." Ucap Dion sambil membukakan pintu mobil untuk istri bosnya.


"Terima kasih," jawab Anggit tersenyum dan segera masuk ke mobil.


Setelah itu, Dion cepat-cepat masuk dan mengantarkannya sampai di kantor. Selama perjalanan masih seperti kemarin, Anggit tengah bersandar lagi di jendela kaca mobil. Dion yang dapat melihatnya, pun tetap fokus dengan setirnya.


Selama perjalanan keduanya sama sekali tidak ada yang membuka suara, lebih lagi Dion yang statusnya sebagai sekretaris Bos laki-lakinya dan juga sekaligus supir istrinya sang bos, tentunya menjaga jarak yang penuh kehati-hatian, meski keduanya adalah teman.


"Nona, kita sudah sampai." Panggil Dion kepada istri bosnya.


Anggit segera turun dari mobilnya.


"Jangan berlebihan, aku bisa turun sendiri tanpa harus kamu membukakan pintunya. Kamu langsung berangkat saja, terimakasih sudah mengantarkan aku." Ucap Anggit yang sekaligus menolak untuk dibukakan pintunya.


"Baik, Nona." Jawab Dion.


Anggit yang baru saja turun dari mobil, cepat-cepat segera masuk ke kantornya. Suasana masih tetap seperti biasa, sapaan sapaan ramah masih didapatkan oleh Anggit lewat semua karyawannya.


Dengan kebijakan yang tidak menyulitkan para karyawan, membuat semuanya merasa nyaman saat Anggit yang memegang kendali.


Lain lagi di rumah Leo, suasana masih sepi, lantaran Amora maupun putrinya belum juga bangun. Namun, karena badan terasa risih, Amora terbangun dari tidurnya.


"Suamiku kemana? kok sepi." Gumam Amora saat tidak mendapati suaminya di tempat tidur.


Saat itu juga, pandangannya tertuju pada jam yang menunjuk ke arah angka delapan, tentu saja membuat Amora terkejut.


"Aih! sial, kenapa bisa kesiangan begini sih." Ucapnya menggerutu, dan bergegas melakukan ritual di kamar mandi setelah bangun tidur.


Kemudian, Amora segera keluar.


Saat sampa di ruang keluarga, Amora juga tidak mendapati suaminya.


"Bi, suamiku dimana?" tanya Amora dengan gayanya yang sombong.


"Tuan Leo sudah berangkat ke kantor, Nona." Jawab salah seorang asisten rumah.


"Terus, si Anggit kemana?"

__ADS_1


"Sudah berangkat ke kantor juga, Non." Jawabnya.


Amora yang malas untuk bertanya lagi, dirinya langsung menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


__ADS_2