DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Tidak terima


__ADS_3

Leo yang memaksa diri untuk melepaskan selang infus, tidak peduli dengan kondisinya yang masih butuh perawatan.


"Leo! hentikan." Bentak ibunya saat melihat putranya tengah menarik paksa selang infusnya.


"Anggit Ma, Anggit." Jawab Leo yang tetap melepas selang infusnya secara asal.


"Ya Anggit, kenapa dengan Anggit, Nak?"


"Dia sedang pergi bersama Dion, Ma. Aku harus mengejar mereka, dan tidak aku izinkan si Dion merebut istriku." Jawab Leo yang sudah tidak sabar untuk mengejar kemana perginya sang istri.


"Tapi kondisi kamu masih belum pulih, Nak. Sudah lah jangan kamu paksakan diri untuk menemui istrimu. Biar Mama yang akan menyuruh seseorang untuk mengawasi mereka." Ujar ibunya yang takut kondisi anaknya akan semakin menurun.


Saat itu juga, ibunya segera menekan tombol. Berharap akan ada dokter segera datang untuk menangani putranya yang sudah melepaskan selang infusnya.


Leo yang juga dengan kondisi yang lemah, akhirnya nurut perkataan ibunya.


Sedangkan di tempat lain, Anggit dan Dion masih saling diam, keduanya merasa malu saat kejadian barusan.


Lagi-lagi Kavil kembali menoleh ke belakang.


"Kalian berdua itu kenapa sih? perasaan udah kek tomy and jerry aja kalian ini. Kak Anggit, Kak Dion, ngobrol sih kenapa."


"Kakak lagi sariawan, juga mau batuk keknya. Jadi mendingan Kakak diam aja." Jawab Anggit beralasan.


"Ini minum, agar tenggorokan kamu tidak kering." Timpal Dion dan menyodorkan sebotol air mineral kepada Anggit.


Tentu saja kaget dan langsung menoleh dengan reflek.


"Makasih," jawab Anggit yang akhirnya terpaksa menerimanya, lantaran karena alasannya yang dibuat-buat.


'Sialan, kenapa mesti cepat tanggap gini sih, aih.' Batin Anggit mengerutuki diri sendiri.


Karena sudah membuat alasan, dengan terpaksa Anggit meminumnya.


"Aw!" Anggit memekik saat supir mobil mengerem mendadak. Tentunya air mineral yang ia pegang tumpah dan membasahi pakaiannya.


Dengan sigap, Dion menyodorkan tissue kepada Anggit.


"Maaf, Nona." Ucap supirnya Dion merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Pak, namanya juga mengerem mendadak. Nanti juga kering sendiri kok, Pak." Jawab Anggit sambil mengelap pakaiannya dengan tissue.

__ADS_1


Kavil sendiri hanya memandangi dua insan yang sama-sama malu.


"Pak Ramil, kita pergi ke butik dulu ya Pak." Perintah Dion kepada supirnya.


"Baik, Tuan." Jawab Pak Ramil dengan anggukan.


Anggit langsung menoleh.


"Mau ngapain ke butik?" tanya Anggit penasaran.


"Mau mengganti pakaian kamu yang basah, tidak baik jika masih kamu kenakan." Jawab Dion sambil menatap Anggit, kali ini tatapan dari Dion lain dari sebelumnya.


Tatapannya kali ini bukan lagi seperti sekretaris suaminya, tetapi lain dari yang lain.


Anggit yang tidak ingin terbawa suasana, langsung menatap lurus ke depan.


"Sudahlah Kak, nurut aja sama ajakan Kak Dion. Lagian apa iya Kak Anggit mau makan malam dengan pakaian basah begitu? Gak 'kan? nanti bisa-bisa adiknya dikirain gak punya perhatian sama kakaknya, gimana? jatuh dong harga diriku ini Kak." Rayu Kavil sambil menatap kakaknya dan tidak lupa berkedip tanda kode untuk menyetujuinya.


Anggit yang sedikit geram dengan sikap adiknya, hanya bisa menahan gregetan.


"Ya ya ya, terserah kalian berdua saja." Ucap Anggit yang akhirnya menyerah.


"Nah gitu dong, jadi kan gak harus berdebat, ya gak Kak Dion?"


"Kalian berdua ini ya, jangan-jangan bener nih kalau kamu, kamu, kong kali kong." Tuduh Anggit sambil menunjuk satu persatu antara Kavil dan Dion.


"Nah kan, cerewetnya sudah kambuh."


"Kav ...!"


Dengan geram, Anggit mengangkat tangannya yang terlihat seperti mau menjewer telinga adiknya.


Saat itu juga, Dion langsung menahannya.


"Kita sudah sampai di butik, ayo kita turun." Ucap Dion sambil memegangi lengan milik Anggit yang sudah diangkat, dan tangannya yang siap menjewer.


Kemudian, Dion melepaskan tangannya sambil menatap wajah perempuan yang sudah lama tidak menemui momen bersama dengan senda gurauannya dimasa lalu.


"Ya ya ya, aku akan turun." Jawab Anggit segera turun.


Saat sudah turun dari mobil, diikuti oleh Dion dan berjalan beriringan. Sedangkan Kavil sendiri memilih untuk tetap berada didalam mobil bersama Pak Ramil.

__ADS_1


Saat tidak mendapati sang adik, Anggit baru menyadari tidak berjalan bareng adiknya. Seketika dirinya langsung menoleh ke belakang.


"Kavil mana?" tanya Anggit saat tidak melihat adiknya.


"Kavil menunggu di mobil bareng Pak Ramil, kenapa?" jawab Dion dengan santai.


"Kurang ajar bener itu anak, berani-beraninya tidak ikut." Gerutu Anggit dengan geram.


"Sudahlah, lagian juga cuma ganti baju 'kan? ayo cepetan masuk."


Anggit yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau akhirnya nurut dengan ajakan Dion.


Sedangkan dilain tempat, Leo yang tengah fokus dengan layar ponselnya, dirinya benar-benar memperhatikan istrinya yang dilihat bersama Dion sejak turun dari mobil. Tentu saja hatinya terasa panas saat melihat istrinya bersama lelaki lain lewat video secara live oleh anak buahnya.


Leo semakin terbakar oleh api cemburu, bahkan lupa saat berselingkuh dengan mantan kekasihnya dulu. Juga dengan terang-terangan membawa selingkuhannya di hadapan istrinya sendiri.


Leo masih memperhatikan videonya dengan sangat jeli, bahkan tidak ada yang terlewatkan meski dengan salah satu tangannya yang sudah mengepal kuat dan siap untuk melayangkan tinjuan.


Berbeda dengan Dion dan Anggit, kini keduanya sudah berada di dalam butik. Tanpa sepengetahuan Anggit, anak buah Leo tengah mengawasinya.


Namun tidak dengan Dion, yang pura-pura tidak mengetahui jika dirinya tengah diikuti oleh seseorang.


"Selamat datang, Tuan. Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong gantikan pakaian calon istri saya ini sebagus mungkin, secantik mungkin. Awas saja kalau penampilannya buruk." Jawab Dion dengan santai.


"Baik, Tuan. Kalau begitu, Tuan silakan duduk dan menunggu kami selesai menggantikan pakaian untuk calon istrinya Tuan." Jawabnya, Dion pun hanya mengangguk.


Saat itu juga, Anggit langsung menoleh pada Dion sambil menatapnya penuh tanda tanya.


"Kamu bilang apa tadi? calon istrimu?" bisik Anggit sedikit melotot pada Dion.


"Ini hanya pura-pura saja, agar kamu mendapatkan pelayanan yang bagus dari butik yang baru ini, karena belum lama ini launching." Jawab Dion begitu santainya.


Anggit hanya menelan ludahnya.


"Anggap saja ini adalah pelaris butik aku yang baru buka, dan kamu tamu yang beruntung." Sambungnya lagi, sedangkan Anggit hanya menelan ludahnya dengan kasar.


Dengan terpaksa, Anggit akhirnya nurut untuk mengganti pakaiannya meski sedikit ada perasaan geram dengan Dion.


Berbeda dengan Leo, geramnya seolah hendak mengeluarkan taring dan menerkam musuh.

__ADS_1


"Sial! awas saja kamu Dion, aku tidak akan diam setelah keluar dari rumah sakit ini. Aku pastikan kamu akan gagal dapatin istriku, dan aku tidak akan membiarkan kamu merebut istriku. Mentang-mentang kamu orang yang tajir, aku pun tidak akan kalah dari mu. Mau bagaimanapun aku dan Anggit belum bercerai, dan kamu bisa aku tuntut karena sudah merebutnya dariku." Gerutu Leo dengan penuh kesal saat melihat istrinya tengah bersama lelaki lain.


__ADS_2