
Baru saja keluar dari toilet, Leo mencoba untuk mencari keberadaan sekretarisnya. Beberapa kali mengamati isi dalam ruangan hotel, tidak mendapatkan sosok Dion.
"Kamu sedang mencari siapa, Bro?" tanya Antonio saat mendapati Leo tengah celingukan.
"Tidak ada, aku hanya penasaran sama seseorang yang baru saja berpapasan. Oh ya, kamu sendiri mau ngapain? kebelet juga?"
Antonio tertawa kecil.
"Ya, aku juga mau pergi ke toilet. Ya udah ya, aku tinggal dulu." Jawab Antonio dan bergegas pergi dari hadapan Leo.
"Ok Bro, silakan, ya udah aku duluan." Ucap Leo, dan segera menemui rekan-rekan kerjanya.
Sambil berjalan, kedua matanya terus mengamati disekitar ruangan yang ia lewati.
"Jadi penasaran dengan Dion, untuk apa dia bekerja siang dan malam, apakah masih kurang gaji sekretaris?" gumam Leo penuh tanda tanya.
Saat itu juga, pandangan Leo tertuju pada sosok laki-laki yang ada di sudut ruangan.
"Bukankah itu Dion?" gumamnya lagi dan mendekatinya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh sekretarisnya.
Dengan penuh hati-hati, Leo mengamatinya dengan serius, apa yang sedang Dion kerjakan.
"Oh ternyata benar, dia memang bekerja di hotel ini. Syukurlah jika dia tidak mempunyai keterlibatan dengan orang lain." Gumamnya saat melihat dan mendengar pembicaraan Dion dengan tamu hotel.
Tidak ingin terlihat seperti orang yang sedang mengintai, Leo segera kembali ke ruangannya bersama rekan-rekan kerjanya setelah merasa lega saat mendapat jawaban tentang Dion.
Di lain sisi ruangan yang jaraknya tidak jauh dari suaminya berkumpul, Anggit yang tengah berkumpul dengan para istri dari rekan-rekan kerja suaminya, lebih banyak diam daripada mengobrol.
"Kamu masih sibuk di kantor ya, Nggit?" tanyanya sambil menikmati cemilan.
"Ya, aku tidak mempunyai kesibukan lain seperti kalian yang ada sang buah hati, aku sendiri masih tetap sibuk di kantor." Jawab Anggit tetap bersikap santai, meski rumah tangganya yang sudah berantakan.
"Kamu yang sabar ya, semoga segera menyusul untuk memiliki sang buah hati. Aku lihat dari sosok suami kamu sih, sepertinya suami idaman, dan tidak menuntut apapun darimu, termasuk memiliki anak. Maaf, bukannya aku ingin memojokkan kamu, tidak ada."
Anggit tersenyum padanya.
"Tidak apa-apa, aku dan suami baik-baik saja. Kami tetap bersabar untuk memiliki momongan, mungkin saat ini belum saatnya. Jadi, kami berdua pasrah dan tetap berusaha. Untuk soal hasilnya, semua itu ada pada keberuntungan. Mungkin jika memang tidak bisa, mungkin ada keberuntungan lain untuk kami." Jawab Anggit sekuat hati dan berusaha untuk tetap tegar dihadapan para wanita yang lainnya.
"Kamu dan suami kamu benar-benar hebat, bisa saling mengerti satu sama lain." Ucap yang satunya lagi ikut menimpali.
Anggit sendiri hanya tersenyum saat mendapat pujian dari para istri rekan-rekan kerja suaminya.
"Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya terus, kasihan Anggit. Yang terpenting kita doakan, semoga Anggit dan suami bahagia selalu, juga segera diberi momongan." Timpal yang satunya lagi memberi penyemangat untuk Anggit, selaku istri rekan suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku ya, Anggit. Bukan maksud aku untuk memojokkan kamu." Ucapnya.
"Tidak apa-apa Reneta, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Oh ya, ayo dilanjutkan lagi obrolan kita tadi." Jawab Anggit tetap bersikap tenang di hadapan yang lain.
Sedangkan waktu untuk menikmati makan bersama, pun sudah tampak jelas di atas meja yang sudah tersaji.
Sedangkan untuk para suami, masih sibuk dengan obrolan seriusnya mengenai saham yang akan dikelola. Bahkan, semuanya memiliki rencana yang sama untuk menjadikannya lebih sukses lagi.
"Bagaimana, dil?" tanya Antonio kepada rekan-rekan kerjanya.
Sedangkan Leo masih sibuk melamun.
"Hei Bro, ngelamun terus, laper Lu?"
"Enak saja, aku udah makan tadi bareng istriku sebelum berangkat kesini. Aku cuma khawatir saja, bukannya untung nanti aku jadi buntung." Jawab Leo yang cemas memikirkan ancaman keluarganya, termasuk kakeknya yang begitu ketat dalam mengawasi dirinya.
"Cemas kenapa kamu, Bro? bukankah ini rencana kita untuk menjadi sukses, juga seperti keinginan kamu untuk menaikkan pertumbuhan kurva di perusahaan kamu."
"Ya sih, tapi ini taruhannya sangat besar. Jika gagal, maka aku akan mendapatkan ancaman berat dari kakekku."
"Kamu itu ngomong apa sih Bro, kamu kan pewaris tunggal, tentu saja sukses atau tidaknya tidak ada yang dirugikan selain keluarga kamu sendiri." Ucap Dian ikut menimpali.
"Masalahnya aku itu ..." seketika, Leo tercekat dalam kalimat yang hampir saja lolos begitu saja.
"Masalahnya kenapa lagi, Bro? kok berhenti ngomongnya."
Leo membuang napasnya dengan kasar.
"Masalahnya aku akan menjadi sekretarisnya ayahku sendiri, mau ditaruh dimana mukaku ini." Jawab Leo dengan berbagai alasan.
"Kalau aku sih mendingan jadi sekretarisnya ayah sendiri dari pada pusing mimpin perusahaan yang harus berkembang setiap tahunnya." Kata teman satunya lagi yang mulai mengompori Leo, sekalian meledeknya.
"Sialan, kamu ini. Harga diriku yang ada langsung tercoreng di hadapan semua karyawan ku, paham kalian."
"Ya ya ya, terserah kamu saja, mau ikut bergabung lagi atau tidak. Pikirkan baik-baik, karena kita tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bergabung dengan pimpinan Natara Group."
"Ayolah, kita kerja sama lagi. Anggap saja main lotre, bisa gagal dan juga bisa menang." Ucap Antonio ikut menimpali.
"Baiklah, aku akan ikut. Tapi ingat, jangan sampai gagal. Karena aku tidak mengeluarkan saham yang sedikit, melainkan banyak."
Antonio maupun yang lainnya tertawa kecil saat mendengarnya.
"Ketawa lagi kalian ini." Ucap Leo mendengus.
__ADS_1
"Gimana gak ketawa, emang Lu doang yang ngeluarin saham banyak, tentu saja kita pun sama. Sudahlah, ayo kita makan. Lihat tuh, makanannya sudah siap, sekalian kita nikmati kebersamaan ini sampai puas." Jawab Antonio.
Leo hanya mengangguk dan bergegas bangkit dari posisinya menuju tempat untuk makan bersama. Begitu juga dengan para istrinya masing-masing, juga ikutan berkumpul untuk makan bersama.
Anggit yang sudah duduk disebelah suaminya, menjadi pusat perhatian rekan-rekan kerja suaminya. Merasa risih itu sudah pasti, lantaran merasa tidak nyaman untuk dilihat.
"Ayo kita makan, nikmati kebersamaan kita ini." Ucap Antonio yang memulai untuk mengajak makan bersama.
Satu persatu tengah mengambil menu kesukaannya masing-masing, begitu juga dengan Anggit yang tidak lepas untuk melayani suaminya sebagai mana dirinya adalah istrinya.
Sedangkan Antonio yang tidak mempunyai pasangan, mengambil porsi untuk dirinya sendiri. Namun, tetap saja masih sempat untuk memperhatikan Anggit sambil menikmati makanannya.
'Kenapa Antonio memperhatikanku seperti itu, ada apa dengannya?' batin Anggit sambil melayani suaminya.
Karena tidak mau semakin pusing dan menambah beban pikirannya saja, Anggit mengabaikan pikirannya tentang Antonio.
'Semoga saja tidak ada sesuatu yang direncanakan Antonio terhadap diriku maupun suamiku. Cukup suamiku sendiri yang sudah menyakiti diriku, tidak untuk orang lain.' Batin Anggit sambil mengunyah makanan.
Leo yang sama sekali tidak merasakan ada yang memperhatikan, tetap menikmati makanannya.
Cukup lama semuanya menikmati porsi makanannya masing-masing, tidak terasa sudah sudah selesai makannya.
Setelah makan bersama, dilanjut untuk mengobrol basa-basi saat berkumpul bersama istrinya masing-masing.
"Jangan banyak minum, kesehatan kamu bisa menurun." Bisik Anggit mengingatkan suaminya yang hendak meminumnya.
"Brisik, jangan cerewet kamu." Jawab Leo yang tetap bersikukuh.
Sedangkan yang lainnya satu persatu berpamitan untuk pindah ke kamar hotel yang sudah dipesan sebelumnya.
"Leo, sudahlah bawa istrimu ke kamar hotel. Sudah lewat tengah malam juga ini, aku pun sama dan memilih untuk menginap." Ucap Dian sambil bangkit dari posisi duduknya.
"Ya Bro, menginap saja di hotel, aku duluan." Sambung teman yang satunya, juga teman yang lainnya termasuk Antonio ikut menginap di hotel.
Kini tinggallah Leo dan Anggit yang masih di posisinya, yakni belum berpindah tempat seperti teman yang lainnya.
Saat itu juga, dering telpon milik Leo tengah mengagetkan dirinya.
"Maafkan aku, Amo. Aku tidak bisa pulang malam ini, dan aku akan menginap di hotel ini. Kamu langsung tidur saja dan tidak perlu menungguku." Jawab Leo saat mendapat pertanyaan dari Amora.
Leo yang malas menanggapinya, langsung mematikan ponselnya, dan memasukkan kembali ke kantong jasnya.
"Amora?"
__ADS_1
"Ya, gak penting. Sudah malam, ayo kita pindah ke kamar hotel. Sudah lewat tengah malam juga, tidak mungkin kita akan pulang di jam segini." Jawab Leo dan langsung menarik tangan istrinya.