
Selama dalam perjalanan pulang, Anggit bersandar di jendela kaca. Ingatannya pun kembali saat menolak ajakan suaminya untuk kembali. Namun, rasa sakit yang ia terima begitu menyakitkan dengan sebuah pengkhianatan. Lebih lagi berselingkuh, sungguh tak bisa untuk dilupakan.
Tidak disadari juga, Anggit meneteskan air matanya.
"Menangis lah jika itu bisa membuatmu lega, ini tisunya." Ucap Dion sambil menyodorkan tisu pada Anggit.
Anggit menerimanya dan mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
Kavil yang tidak mau mengganggu kakaknya, lebih memilih untuk diam.
Dion yang tidak ingin obrolannya dapat didengar oleh Kavil, sedikit menggeser posisi duduknya didekat Anggit.
"Kalau kamu masih menyukai suami kamu, pikirkan lagi. Jangan sampai kamu membohongi diri kamu sendiri, dan jangan sampai kamu akan menyalahkan diri kamu sendiri karena hati dan pikiranmu tidak selaras." Bisik Dion di dekat Anggit.
Saat itu juga Anggit langsung menoleh.
"Makasih sudah mengingatkan, keputusan aku untuk berpisah dengannya itu sudah aku pikirkan dari awal. Prinsip aku satu, tidak akan mengulangi sesuatu yang sudah menjadi luka. Namanya luka akan terus terlihat, meski luka itu sembuh, tapi hati kecil terkadang tidak selaras dengan ucapan." Jawab Anggit berusaha untuk tetap tenang.
"Ini minum dulu, biar pikiran kamu sedikit tenang. Jangan khawatir, tidak akan tumpah." Ucap Dion sambil menyodorkan minuman.
"Makasih minumannya, dan juga sudah mengingatkan aku." Jawab Anggit dan kembali menatap lurus ke depan.
Dion yang melihat Anggit tengah dilema, rasanya ingin sekali memeluknya. Namun itu tak akan mungkin ia lakukan, lantaran Anggit bukanlah siapa-siapanya, melainkan istrinya orang.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di depan rumah. Anggit dan Kavil segera turun.
Karena kesulitan untuk membuka sabuk pengaman, yang turun duluan si Kavil. Sedangkan Anggit masih dibantu Dion.
"Makasih makan malamnya, aku turun." Ucap Anggit saat menoleh pada Dion.
"Ya, sama-sama. Maaf juga jika makan malamnya berantakan, dan juga mengecewakan mu untuk mengajakmu jalan-jalan." Jawab Dion sambil menatap wajah ayu miliknya Anggit.
"Aku turun, sampai bertemu lagi." Ucap Anggit berpamitan dan bergegas turun.
Dengan reflek, Dion meraih tangannya. Anggit dibuatnya terkejut dengan sikap Dion.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Gak ada apa-apa, eh maaf sudah lancang pegang tangan kamu." Jawab Dion yang langsung melepaskan tangannya yang sudah memegangi tangan Anggit.
"Oh, ya udah aku turun."
"Iya, sampai bertemu lagi. Jika masih diizinkan, aku akan mengajakmu jalan-jalan di lain waktu."
Anggit mengangguk, dan bergegas turun.
"Maafkan aku Anggit, sebenarnya aku ingin mengatakannya langsung padamu, tapi aku belum mempunyai nyali. Aku tahu ini terlalu cepat, dan aku tidak ingin kamu akan salah menanggapinya." Gumamnya.
"Kalau Tuan Dion menunda waktu, yang ada Tuan sendiri akan kecewa. Sebaiknya Tuan segera jujur pada Nona Anggit, jangan sampai Tuan hanya bisa menahan perasaan. Juga, kejujuran dimasa lalu agar segera tersampaikan." Timpal Pak Ramil ikut bicara, juga mengingatkan bosnya agar tidak membuang waktunya dengan sia-sia.
"Ya Pak, nanti setelah mereka dinyatakan bercerai, aku akan mengatakan langsung padanya." Jawab Dion.
"Nah gitu dong, mari kita pulang, Tuan." Ucap Pak Ramil yang langsung melajukan mobil untuk pulang.
Berbeda dengan Leo, hatinya begitu hancur saat harus menerima jawaban dari istrinya. Rasa sakitnya yang penuh penyesalan akibat kesalahan sendiri.
Rambutnya yang sudah acak-acakan, juga pakaian yang tidak lagi rapi, terlihat jelas tengah frustrasi. Leo terus menyusuri jalanan, hingga lupa kemana harus pergi.
Jalannya yang seperti orang mabok, membuatnya tidak terkontrol dan seperti orang gila dengan penampilannya yang acak-acakan.
"Leo! kamu kenapa, Bro?" panggil Dian saat melihat Leo tengah berjalan dipinggiran jalan seperti orang frustrasi, mabok, dan juga gila.
"Anggit, Anggit istriku." Ucapnya menyebut nama istrinya berkali-kali.
"Ya, Anggit memang istrimu, tapi kamu kenapa?"
"Aku cinta dia, cinta dia, dia dia dia istriku." Ucapnya ngelantur dan asal berucap.
"Waduh! badan kamu panas banget." Ucap Dian saat memegangi keningnya.
"Anggit istriku, cintaku, jangan tinggalkan aku." Ucapnya terus menyebut namanya.
__ADS_1
Dian yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya segera mengantarkannya ke rumah Anggit tinggal. Dian juga mengetahui jika Anggit pulang ke rumah mendiang orang tuanya sejak beredarnya video viral.
'Kasihan sekali nasibmu, Leo. Gara-gara perempuan lain, kamu harus mengkhianati istrimu. Benar nasehat itu, jangan berani-beraninya menyembunyikan sesuatu, pasti juga bakal ketahuan.' Batin Dian sambil mengendarai mobilnya menuju rumah dimana Anggit tinggal.
Sampainya di depan pintu gerbang, Dian menjelaskan bahwa dirinya rekan kerja sekaligus temannya Leo.
"Maaf, Nona Anggit tidak menerima Tuan Leo untuk masuk kedalam." Ucap seorang satpam menolak.
Setelah tidak disetuju dari pemilik rumah, salah satu satpam rumah tidak mengizinkannya untuk masuk.
"Aku ada dimana ini?" tanya Leo dengan pikirannya yang kacau.
"Didepan rumah istrimu, Bro." Jawab Dian saat mendapati temannya sudah turun dari mobil.
"Ka-mu le-bih ba-aaik pulang saja, a-aku mau menunggu is-triku yang a-kan mengizinkan aku masuk." Ucap Leo dengan suaranya yang terbata-bata karena efek minuman.
"Tapi Bro, kamu itu mabok. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, bagaimana? aku akan antar kamu pulang ke rumah orang tuamu saja kalau begitu. Ayo, kita pulang."
"Enggak, a-ku akan tetap di-si-ni. Kamu pergi, pergi pergi pergi." Jawab Leo sambil menunjuk nunjuk pada Dian sedikit mendorong tubuhnya dengan jari telunjuknya.
Dian yang merasa kasihan melihat kondisi temannya yang frustrasi, rasanya tidak tega melihatnya.
"Pak satpam, mohon lah dengan sangat. Saus mohon untuk membujuk Nona Anggit agar mau menemui suaminya, kasihan teman saya. Kalau tidak mau, tolong untuk adiknya agar mau menemuinya. Saya mohon, berilah kesempatan untuk bertemu dengan salah satu keluarga istrinya." Ucap Dian memohon dan memelas kepada satpam demi temannya.
Leo yang pikirannya semakin tidak karuan karena efek minuman, tengah berjongkok sambil menahan rasa pusing dikepalanya.
"Minggir,"
Kavil akhirnya pun datang setelah mengamati lewat CCTV bersama kakaknya. Sedangkan Anggit yang tidak mau masalah semakin panjang, tetap menolaknya.
"Temannya Kak Leo, 'kan? antar Kak Leo pulang sekarang juga. Kalau masih tidak mau, ini nomor ponsel keluarganya. Nanti akan aku bantu masuk ke mobil."
"Baik, aku akan menghubungi keluarganya." Jawab Dian yang akhirnya tidak bisa menolak perintah dari Kavil.
Leo yang keseimbangan, akhirnya mulai sempoyongan saat hendak bangkit dari posisinya yang hampir saja jatuh pingsan karena efek minumannya. Saat itu juga, Kavil langsung menangkap tubuhnya dan dibantu Dian masuk ke mobil.
__ADS_1
"Bawa pulang ke rumah orang tuanya saja, hati-hati dalam perjalanan." Ucap Kavil yang kini mulai tegas dan tidak ada belas kasih kepada kakak iparnya.