DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Rasa ingin tahu


__ADS_3

Leo yang benar-benar penat memikirkan karirnya dan nasib selanjutnya, kini tengah menuju ke suatu tempat yang menurutnya dapat menghilangkan rasa penat di kepalanya.


"Ada apa kamu memanggilku kemari? ada masalah? tumben tumbennya menghubungiku, aku kira kamu akan lupa."


"Jangan banyak tanya padaku, sekarang juga kamu pesankan minuman untukku." Jawab Leo sambil menatapnya.


"Aku tidak akan memesankan kamu minuman, yang ada kamu akan hilang kendali."


"Aaaah! pelit amat kau ini, cepat pesankan aku minuman beberapa botol saja, dan kamu temani aku minum sekarang juga."


"Apa kamu sedang gila? aku dengar bahwa istrimu tertangkap basah olehmu, benarkah?"


"Ya! kenapa?"


"Tidak apa-apa, ini minumlah."


"Sial! aku tidak butuh minuman yang seperti ini, bodoh. Pers_etan juga denganmu." Ucap Leo dan langsung membuka tutup botol minuman bersoda. Setidaknya tenggorokannya tidak kering saat meluapkan emosinya.


Teman yang ada didekatnya justru tertawa kecil saat mendengar umpatan dari Leo. Kemudian, Leo menenggaknya lagi dan meletakkan botol minumannya.


"Aku butuh uang, dan aku kesini mau pinjam uang sama kamu."


"Kamu tidak sedang mendadak miskin, 'kan?"


"Aku miskin sekarang, puas kamu."


"Berapa yang kamu butuhkan? katakan saja asal ada jaminannya."


"Muka muka pemalak juga kamu ini, bukannya bantu, masih diminta jaminan. Apa kamu sudah tidak waras?"


"Kamu itu bodoh, mau maunya pinjam uang sama aku, untuk apa?"


"Putriku butuh biaya yang besar, dan tidak mungkin juga jika aku mengatakannya dengan jujur kalau aku sedang jatuh miskin."


"Putrimu?"


"Ya, anak dari istri keduaku."


"Apa! kamu punya istri dua?"


Leo yang mendapat pertanyaan dari temannya, ia langsung menoleh.


"Ya, aku punya istri dua. Aku juga ingin seperti mu yang mempunyai penerus." Jawab Leo dan menghabiskan minumannya.

__ADS_1


"Kau serius?"


Leo mengangguk.


"Serius lah, untuk apa bohongi kamu." Jawab Leo dengan serius.


"Memangnya istri kedua mu siapa?" tanyanya penasaran.


"Amora, mantan kekasihku dulu yang tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuaku, termasuk kakekku."


Seketika temannya pun terkejut mendengarnya.


"Amora?" tanyanya untuk memastikan.


"Ya, kamu juga mengenalinya. Pernikahan ku yang kedua memang tersembunyi, dan aku baru memperkenalkannya pada istri pertamaku karena desakan dari Amora. Mau tidak mau aku harus membawanya pulang dan tinggal dalam satu rumah." Jawab Leo yang akhirnya berterus terang.


"Jadi, Amora istri keduamu?"


"Kenapa? kamu tidak percaya?"


"Bukan begitu, Bro. Oh ya, dari pada kamu hutang sama aku, bagaimana kalau aku tawarkan kamu untuk masuk ke perusahaan Antara Group. Aku dengar sih, pemiliknya membutuhkan seseorang yang bisa mengelola perusahaannya. Kalau kamu berminat, aku akan memperkenalkan kamu dengannya." Ucapnya.


"Kamu serius, Lan?"


"Ya lah, ngapain bohongin kamu."


Kilan mengangguk.


"Ya, pemiliknya masih tersembunyi. Tapi aku rasa bahwa kedua orang tuamu tahu, karena perusahaan yang kamu pimpin itu bukannya milik Antara Group?"


"Ya, benar. Kedua orang tuaku pernah mengatakannya padaku, jika perusahaan yang aku pimpin adalah bagian dari keluarga Antara."


"Baiklah, nanti aku akan konfirmasikan lagi sama kamu. Tapi, soal diterima atau tidaknya sih, aku tidak tahu. Secara kamu baru saja diberhentikan sama ayahmu, semoga aja masih ada kesempatan untukmu."


"Tidak usah, kakek dan papaku pasti akan menentang ku, lupakan saja."


"Bentar, aku mau hubungi orang kepercayaan dari keluarga Antara. Kamu diam aja dulu, ok." Ucap Kilan sambil merogoh ponselnya.


Setelah sambungan telepon terhubung, Kilan langsung mengatakan inti pokoknya.


Kilan menggelengkan kepalanya.


"Maaf Bro, tidak bisa. Orang tuamu menentang keras untuk menerima mu kembali." Ucap Kilan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku pun sudah menyangka tidak akan bisa."


"Gini aja, kamu akan bekerja di perusahaan ku, bagaimana? kebetulan aku sedang mencari karyawan, kamu mau?"


"Serius?"


"Serius, tapi maaf jika aku belum bisa memposisikan kamu untuk menjadi sekretaris ku. Kamu tetap harus melalui tahap dan proses, gimana? kamu gak keberatan 'kan?"


"Ya, gak apa-apa. Setidaknya aku tidak nganggur, itu aja sih."


"Ya lah, lagi pula kamu akan tetap diterima sebagai penerus keluarga Hambalan. Secara kamu itu anak semata wayang, dan satu-satunya penerus keluarga Hambalan. Yang pasti kamu tidak akan jatuh miskin, dan yang dilakukan oleh orang tuamu ini benar sengaja ingin membuatmu jera." Ucap Kilan yang dapat mengira atas apa yang menimpa temannya.


"Aku rasa juga gitu." Jawab Leo dan membuang napasnya dengan kasar.


"Oh ya, terus gimana dengan Antonio? aku dengar kalian itu mengajak kerja sama, gimana kabar selanjutnya?"


"Aku mengundurkan diri, karena sudah tidak bisa menanam saham bersamanya, karirku sudah hancur." Jawab Leo terasa berat untuk mengungkapkannya dengan jujur.


"Sabar Bro, semua tidak instan. Oh ya, aku masih ada kepentingan, maaf ya. Untuk soal pekerjaan, kamu datangi langsung kantorku, atau gak kamu hubungi aku dulu jika mau datang."


"Siap, aku pasti datang. Ya udah, aku juga mau pulang. Sampai ketemu lagi besok, thanks." Jawab Leo yang juga berpamitan untuk pulang, Kilan mengangguk.


Setelah sudah mendapat jalan keluar, Leo segera bergegas pergi dari tempat pertemuan. Begitu juga dengan Kilan yang masih mempunyai kesibukan di kantornya, ia pun segera kembali ke tempat kerjanya.


Lain lagi dengan Anggit, dirinya masih menikmati keseruannya di pantai bersama adiknya hingga sore hari.


Kavil yang tidak ingin melihat kakaknya terus-terusan bersedih, sebisa mungkin untuk membuatnya ceria dan tertawa.


Anggit yang tengah menyusuri tepian pantai, pandangannya tertuju pada ombak yang terlihat begitu cantik dengan sinar matahari yang hampir tenggelam.


Anggit terus berjalan menyusuri tepian pantai sendiri, namun Kavil tetap mengawasinya.


"Aw!" pekik Anggit saat pandangannya mulai silau dan tanpa disengaja menabrak seseorang.


"Dion, kamu ada disini?"


"Ya Nona, saya sedang berlibur. Maaf untuk yang semalam. Tapi Nona tenang saja, saya akan mengusut tuntas mencari dalangnya sampai ketemu. Saya pastikan tidak akan lama pelakunya tertangkap, semoga saja." Jawab Dion tetap bersikap sopan, meski sekarang bukanlah bosnya.


"Semoga saja pelakunya segera ditemukan, dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mungkin memang ada yang tidak suka denganku, atau kamu, atau suamiku sendiri." Ucap Anggit berusaha untuk terlihat tenang.


"Kak Dion, ada disini juga?"


"Ya Kav, aku sedang berlibur. Kebetulan juga aku sedang dapat cuti, jadi mau menikmati hari liburanku inj. Ya udah ya, aku duluan. Nona Anggit, Kavil, sampai bertemu lagi dilain kesempatan." Jawab Dion sekaligus berpamitan, Anggit dan Kavil pun segera meninggalkan pantai tersebut.

__ADS_1


Anggit yang teringat akan jebakan di dalam kamar hotel, rasa penasarannya pun mulai berpikir untuk mencari titik temunya.


'Siapa ya kira-kira pelakunya? setega itukah menjebak ku dengan Dion? tidak mungkin juga jika pelakunya Dion. Memang sih, aku pernah menolaknya waktu sekolah, tapi aku rasa itu tidak akan mungkin. Terus, pelakunya siapa? apakah rekan-rekan kerjanya suamiku?' batin Anggit yang dipenuhi dengan perasaan gundah.


__ADS_2