
Seperti biasa, Anggit bangun pagi selalu menyiapkan bekal untuk suaminya bekerja.
"Bi, tolong ya taruh di mobilnya suami saya." Ucap Anggit memberi perintah pada asisten rumahnya.
"Baik, Non." Jawab Bi Mira dan menerima perintah dari istri bosnya.
Kemudian, Anggit kembali masuk ke kamar untuk membersihkan diri setelah beberes menyiapkan bekal untuk suaminya kerja.
Saat membuka pintu kamar, Anggit mendapati suaminya tengah bersiap-siap dengan penampilan kerjanya.
'Das_ar lelaki serakah. Tidur bersama istri kedua, ketika bangun sudah berada di kamar istri pertama.' Batin Anggit dengan geram.
Saat masuk ke kamar, Anggit sama sekali tidak bersuara, dirinya sendiri bergegas menuju kamar mandi.
"Ini apa?" tanya Leo sambil menunjukan kertas undangan pada istrinya.
Anggit langsung menghentikan langkahnya saat hendak ke kamar mandi.
"Undangan acara reunian bersama teman-teman sekolah aku dulu, kenapa? kamu mau ikut juga?"
"Gak, aku sendiri ada pertemuan dengan rekan kerjanya Papa. Kalau kamu mau berangkat, berangkat saja. Tapi tidak dengan Dion, nanti kamu akan dianter sama Pak Rudi." Ucap Leo sambil mengenakan jam tangan.
"Oh,"
"Kenapa? mau komplain?"
"Enggak, cuman aneh aja. Biasanya kamu mempercayakan Dion untuk mengantarkan aku juga menjemput ku, tapi kenapa menjadi berubah pikiran? kamu sedang tidak cemburu, 'kan?"
"Cuih! cemburu dengan Dion? bukan levelku."
"Oh,"
"Kenapa lagi?" tanya Leo yang jaraknya semakin dekat antara Leo dan Anggit.
Dengan berat hati, Anggit tersenyum getir saat melihat sikap aneh dari suaminya.
"Tidak apa-apa, aku mau mandi. Oh ya, aku sudah siapkan bekal untukmu. Aku meminta sama Bi Mira untuk menyiapkannya di dalam mobil, kamu cukup sarapan saja. Kamu tidak perlu menungguku, nanti aku bisa sarapan pagi sendiri." Ucap Anggit begitu santainya, lantaran dirinya mendapatkan kesempatan untuk pergi ke acara reunian.
__ADS_1
Leo yang tidak ingin terlambat berangkat ke kantornya, bergegas keluar dan sarapan pagi. Sampainya di ruang makan, rupanya sudah ada Amora dan Azura yang tengah menunggu.
"Papa lama banget sih ke kamar mandinya, Zura kan capek nunggunya." Ucap Azura sambil menikmati rotinya.
Leo tersenyum mendapati pertanyaan dari putrinya.
"Maafin Papa ya sayang, soalnya Papa harus kerja keras agar segala kebutuhan Azura terpenuhi. Kan kata Azura mau daftar sekolah, jadi Papa harus giat bekerjanya. Ya udah yuk, kita habiskan dulu sarapan paginya, setelah itu Papa harus cepat-cepat berangkat ke kantor." Jawab Leo memberi penjelasan sebaik mungkin dan agar dapat dimengerti.
"Janji ya Pa, Papa kerja hanya untuk Azura dan Mama Amo." Ucap Azura setelah menghabiskan rotinya, juga susu.
"Ya sayang, Papa janji. Ya udah kalau gitu sarapannya Azura dihabiskan dulu. Besok kalau Papa tidak ada kesibukan, Azura akan Papa daftarkan sekolah anak anak, bagaimana?"
"Papa gak bohong, 'kan?"
"Ya sayang, makanya habiskan dulu sarapannya. Setelah itu, Papa mau berangkat kerja. Azura kan mau sekolah, jadi nurut ya sama Papa." Ucap Leo pada Azura membujuk.
Azura begitu semangat dan juga lahap saat menghabiskan sarapan paginya. Sedangkan Amora hanya mendengarnya dengan kesal, lantaran harus tunduk dan dilarang mempunyai rasa cemburu terhadap istri pertamanya.
Setelah selesai sarapan, Leo segera bergegas berangkat ke kantor. Saat itu juga, Anggit baru saja masuk ke ruang makan dengan penampilannya yang sudah rapi.
"Tante cantik baru bangun ya, Zura udah selesai makannya."
"Sayang, aku kita anterin Papa sampai didepan rumah." Ajak Amora kepada putrinya, Azura mengiyakan dan meninggalkan ruang makan bersama ibunya.
Anggit yang sendirian menikmati sarapan pagi, tidak lagi seperti dulu yang ditemani suaminya. Beberapa kunyahan, akhirnya dapat menghabiskan sarapan paginya.
Leo yang sudah pergi dan juga Azura yang tengah diurus oleh asisten rumah, Amora segera menghampiri Anggit yang baru saja selesai sarapan pagi.
"Hei! perempuan man_dul, awas saja kamu ya, kamu pikir bisa merebut cintanya Leo, gak akan bisa, sekalipun perhatian darinya." Ucap Amora dengan berani, dan ada rasa takutnya sama sekali.
"Ambil saja suamiku, aku juga sudah gak butuh." Jawab Anggit dengan tegas, dan langsung menyambar tasnya, serta bergegas pergi ke kantor.
"Awas saja kamu, perempuan sombong. Aku pastikan bahwa akulah yang akan menjadi nyonya Leo di rumah ini." Gumamnya dengan percaya diri.
Anggit yang tengah diantar oleh Pak Rudi, merasa suasananya berbeda.
"Pak, memangnya kenapa bukan Dion yang menjemput saya, Pak?" tanya Anggit penasaran.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Leo untuk menggantikan sekretaris Dion." Jawab Pak Rudi.
"Bapak yakin sedang gak bohongi saya?"
Pak Rudi menggelengkan kepalanya sambil fokus menyetir.
"Nona janji ya, jangan membocorkannya sama Tuan Leo."
"Ya, memangnya kenapa Pak?"
"Dion sudah dipecat untuk menjadi supir Nona, dan hanya menjadi sekretarisnya Tuan Leo."
"Oh, kirain apa. Ya udah gak apa-apa, makasih ya Pak."
"Ya Nona, sama-sama." Kata Pak Rudi sambil fokus menyetir.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Anggit telah sampai di kantor. Seperti biasa, Anggit selalu mendapat sapaan ramah dari semua karyawannya ketika bertemu maupun berpapasan.
Saat sudah di ruang kerja, Anggit fokus dalam mengerjakan tugasnya, dan juga tanggung jawab sebagai pimpinan. Tiba-tiba ingatannya kembali dengan ancaman yang diberikan oleh suaminya, yakni hancurnya karir sang adik.
"Apa benar yang dikatakan Papa, bahwa yang membantu perusahaan Papa sepenuhnya adalah Kakek Hambalan?" gumamnya sambil berpikir untuk mencari kebenarannya.
Rasa curiga terus berada dalam benak pikirannya. Namun, karena tidak ingin semakin setres untuk memikirkan hal yang lebih rumit lagi, Anggit segera mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Tidak terasa waktu yang sudah ia lewati sudah menunjukkan jam istirahat, Anggit segera makan siang. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang harus segera selesai.
"Akhirnya selesai juga pekerjaanku." Ucapnya lirih dan melihat jam di ponselnya.
"Masih jam tiga sore, juga masih ada waktu untuk bersantai." Sambungnya lagi dan menyibukkan diri dengan ponselnya.
Karena tidak ada kegiatan setelah menyelesaikan pekerjaannya, Anggit mencoba menghubungi temannya untuk memastikannya lagi. Setelah merasa cukup lega, Anggit segera membereskan meja kerjanya dan bergegas pulang.
Sedangkan di tempat lain, tengah duduk bersantai sambil merencanakan sesuatu.
"Lihat lah, malam ini akan menjadi malam yang sangat spesial." Ucap seseorang sambil duduk di kursi goyangnya sambil memainkan sebatang rokok yang ada pada jari-jari tangannya, juga mulutnya yang memainkan asap rokok di dalam ruangan.
Lain lagi dengan Leo, entah ada angin apa, dirinya merasa penat saat menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Si_al! pers_etan semua." Umpatnya dengan penuh kesal, juga tiba-tiba menggebrak meja kerjanya, dan tangan kirinya memijat pelipisnya.