
Anggit yang tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti ajakan suaminya, dengan terpaksa ia harus menginap di hotel bersama sang suami.
Dengan perasaannya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, Anggit mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Tanpa disadari oleh keduanya, rupanya masih ada sosok yang tengah memperhatikan Anggit dan Leo berjalan masuk ke kamar hotel.
Sampainya di dalam kamar hotel, Anggit duduk di tepi ranjang sambil mengatur pernapasannya.
Leo sendiri melepaskan jasnya, juga sepatunya. Setelah itu dilanjut melepaskan jam tangannya sambil duduk di dekat istrinya.
"Sudah malam dan waktunya untuk istirahat, istirahatlah. Satu lagi, aku tidak mau kamu jatuh sakit, juga mendapat omelan dari kedua orang tuaku, sekaligus kakek Hambalan yang selalu memberi pembelaan kepadamu." Ucap Leo yang kini mendadak berubah menjadi dingin, sedingin waktu mereka berdua dipertemukan.
Anggit sama sekali tidak menjawab, dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.
Leo yang tengah menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, sejenak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kenangan bersama istrinya kembali mengingatkan masa lalunya saat dirinya dipertemukan dengan Anggit, gadis cantik yang dengan terpaksa menerima perjodohan orang tuanya.
"Geser, aku mau tidur." Ucap Anggit yang hanya mengenakan pakaian seadanya.
Tidak peduli jika pakaian yang ia kenakan terlalu minim, lagi pula yang sedang tidur bersama dirinya adalah suami sendiri. Tidak mungkin juga jika mengenakan pakaian yang baru saja ia pakai saat pertemuan bersama rekan-rekan kerja suaminya.
Masa bodoh jika suaminya akan marah, yang dipikiran Anggit dirinya dapat tidur dengan nyaman.
Leo yang memang lelaki normal dan juga yang bersama dirinya adalah istrinya, tentu saja merasa tergoda dengan istri sendiri.
Leo yang tidak ingin otaknya travelling, bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Namun sebelumnya Leo melepaskan celana panjangnya dan menyisakan celana kolor tanpa kaos oblong.
Anggit yang sudah meringkuk sambil memeluk guling dan juga berselimut tebal untuk menutupi bagian tubuhnya agar tidak kedinginan.
Saat Leo baru saja keluar dari kamar mandi, pandangannya tertuju pada sesuatu yang membuatnya tergoda.
'Sial! kenapa aku mesti terjebak dalam situasi seperti ini.' Umpatnya dalam hati saat merasa mendapat kesialan.
Leo yang merasa kantuk, segera naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah istrinya yang tengah membelakangi dirinya.
__ADS_1
Anggit yang sebenarnya belum tidur, dirinya hanya berpura-pura diam agar kelihatan lelap dalam tidurnya.
'Semoga saja suamiku tidak meminta haknya, sungguh aku tidak sanggup menerima lelaki yang sudah menyakitiku.' Batin Anggit yang masih terjaga kesadarannya.
Dengan berani, Leo memeluk istrinya dari belakang.
DEG!
Detak jantung Anggit sulit untuk dinormalkan, terlalu kencang detak jantungnya.
"Layani aku malam ini, atau aku akan melakukannya dengan paksa." Ucap Leo tidak peduli jika memaksakan istrinya untuk memberi haknya.
Anggit yang masih memejamkan kedua matanya, ingin rasanya berubah menjadi tuli dan tidak bisa bicara, bahkan lupa ingatan sekaligus.
Leo mulai nakal dengan tangan kanannya, dan wajahnya menelusuri bagian leher jen_jang milik istrinya.
"Jangan sampai aku menjadi murka padamu. Aku tahu kalau kamu itu belum tidur, dan aku yakin bahwa kesadaran kamu itu masih terjaga." Ucap Leo sambil menciumi bagian leher jen_jang istrinya.
"Kamu pikir aku ini seorang budak yang harus tunduk padamu, tidak. Aku memang istri sah mu, tapi kamu sudah bermain wanita dibelakang ku. Jadi maaf, aku tidak bisa melayani kamu." Jawab Anggit dengan berani, tidak peduli jika suaminya akan murka sekalipun.
Bagi Anggit rasa sakit yang diberikan oleh suaminya tidak mudah baginya untuk memberinya maaf, juga berdamai.Tidak peduli jika harus menolak, yang terpenting dirinya selamat dari suaminya.
Dengan cepat, Anggit langsung bangkit dari posisinya dan segera duduk dengan menutupi bagian tubuhnya selimut yang tebal.
Leo yang mendengarnya, pun otaknya mendadak terasa mendidih saat permintaannya ditolak mentah-mentah oleh istrinya sendiri.
Saat itu juga, Leo langsung bangkit dari posisinya.
"Bilang apa tadi, kamu tidak mau melayaniku? ha!"
Dengan kuat, Leo mencengkram kedua tangan istrinya sambil menatapnya tajam dengan segala emosinya yang memuncak.
__ADS_1
"Ya! aku tidak mau melayani laki-laki yang sudah berkhianat dibelakang ku, dan aku tidak sudi untuk berbagi lelaki pada perempuan lain, puas." Jawab Anggit dengan berani dan menatap tajam pada suaminya sendiri.
PLAK!
Leo langsung menampar pipi kiri milik istrinya dengan kuat, dan tentunya begitu sakit dan panas untuk dirasakannya.
Tidak terima, Anggit langsung membalasnya. Naas, dengan sigap Leo langsung menangkis tangan istrinya.
Seperti orang yang kese_tanan, Leo tengah dibutakan dengan amarahnya saat mendengar penolakan dari istrinya sendiri.
Dengan brutal, Leo langsung memaksa istrinya untuk melayani dirinya.
"Lepaskan! jangan kamu lakukan itu, aku tidak mau." Bentak Anggit sambil memberontak pada suaminya dengan sekuat tenaganya.
Leo yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, langsung merobek segala sesuatu yang melekat di tubuh istrinya.
Lagi-lagi Anggit terus memberontak meski harus menggigit tangan suaminya, serta menjambak rambutnya sekalipun.
Leo yang sudah hilang kesabaran, juga melepaskan apa yang sudah melekat pada dirinya. Leo terus mencu_mbu istrinya dengan bringas, Anggit menangis sambil menahan rasa sakit karena ulah suaminya.
Sambil menangis, dengan terpaksa karena tidak berdaya, Anggit harus menerima perlakuan kasar dari suaminya.
Leo sendiri tidak peduli jika istrinya tengah menangis sekalipun, baginya kepua_san adalah nomor satu saat dirinya menginginkannya.
Anggit yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan menangis saat melayani suaminya.
Bukan tidak ingin melayani suaminya, rasa sakit hatinya masih terngiang lewat pikirannya. Ditambah lagi lamanya perselingkuhan tidak hanya satu bulan dua bulan, melainkan tujuh tahun lamanya hingga mempunyai anak yang sudah besar. Tentu saja rasa sakitnya begitu dalam hingga ke ulu hatinya.
Selesai melepaskan has_ratnya, Leo bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Anggit masih menangis sesenggukan sambil duduk dengan posisi meringkuk dan serasa habis di perko_sa oleh lelaki yang tidak dicintainya.
"Percuma kamu menangis, tidak ada gunanya sama sekali. Ini, ada baju ganti untukmu. Cepat kamu bersihkan tubuhmu dengan air hangat, dan segera tidur. Kamu istriku, dan tidak ada penolakan apapun untuk melayaniku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, sekalipun aku mempunyai istri kedua, karena kamu adalah brilian ku." Ucap Leo tanpa merasa bersalah apapun pada istrinya.
__ADS_1
Anggit yang mendengarnya, pun terasa dongkol dan ingin rasanya membalas perbuatan suaminya. Namun, apa dayanya yang masih mencari cara untuk memberi pelajaran kepada suaminya.