DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Saling meminta maaf


__ADS_3

Setelah sejenak menenangkan pikirannya, Anggit mencoba untuk tetap bersikap tenang di hadapan mantan suaminya.


"Pergilah, jangan sampai aku melakukan hal buruk padamu. Aku meminta maaf jika sudah membuatmu kecewa mengenaliku." Ucap Leo yang sengaja mengusir mantan istrinya, lantaran tidak ingin masalah semakin berlarut.


"Aku juga meminta maaf jika diriku ini sudah membuatmu seperti ini." Jawab Anggit tanpa menoleh.


"Kalau kamu izinkan, apakah aku bisa meminta sesuatu darimu?" tanya Leo meminta sesuatu pada mantan istrinya.


"Kamu meminta sesuatu dariku?" tanya balik dari Anggit yang akhirnya menoleh pada mantan suaminya, dan juga sebaliknya sama halnya menoleh pada mantan istrinya.


Leo yang tengah menatap mantan istrinya, meraih tangannya.


"Aku minta sama kamu untuk tidak selalu menjauh dariku, meski kita sudah tidak ada ikatan permintaan sekalipun." Jawab Leo menatap mantan istrinya dengan lekat.


Anggit mengangguk sambil melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melarang kamu untuk bertemu denganku, dengan alasan hanya tamu atau teman." Kata Anggit sedikit canggung.


Leo akhirnya pun tersenyum saat mendengar jawaban dari mantan istrinya. Mau bagaimanapun dirinya tidak mempunyai hak sepenuhnya untuk memaksakannya.


"Terima kasih, semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaan seperti yang kamu harapkan. Maafkan aku yang sudah membuatmu kecewa, aku janji tidak akan melakukan hal yang sama kedua kalinya." Ucap Leo yang berusaha untuk tegar dan menerima kenyataan yang ada.


"Kamu juga, semoga kamu segera menemukan bahagia mu bersama perempuan yang kamu harapkan, baik dan mau menerimamu apa adanya." Jawab Anggit sedikit merasa lega, meski harus berakhir dengan perceraian.


"Ekhem!"


"Apa kabarnya, Tuan Leo?" sapa Dion ikut duduk ditengah tengah Leo dan Anggit.


"Jangan panggil aku Tuan, aku ini sama seperti Dian. Justru kamulah yang mempunyai kedudukan paling atas dariku, bahkan kamu sudah membantuku dalam perekonomian. Maaf, aku dan keluargaku yang sudah egois." Jawab Leo yang menyadarinya.


Dion pun tersenyum tipis sambil menepuk pa_ha kiri milik Leo dengan pelan.

__ADS_1


"Gak nyangka ya, semua akan menjadi seperti ini. Kita hanya bisa memetik pelajaran yang kita ambil, selebihnya kita harus waspada dan juga hati-hati dalam bertindak dan menentukan pilihan. Maafkan aku jika pernah membuatmu kesal." Ucap Dion sambil menatap lurus ke depan.


Saat itu juga, Kavil duduk di sebelah mantan suami kakaknya.


"Maafkan aku juga ya Kak, yang sudah bersikap kurang baik pada Kakak." Ucap Kavil meminta maaf, tidak peduli baginya mana yang salah dan mana yang benar.


Sesuai nasehat orang tua, tidak perlu menunggu orang meminta maaf, jika diri sendiri yang lebih tahu mana yang baik untuk mendahului atau mengakhiri.


"Kenapa kamu yang meminta maaf? seharusnya aku yang meminta maaf sama kamu, karena aku sudah menyakiti perasaan kakakmu, tentunya sudah mengecewakan kamu. Tidak hanya itu saja, aku juga merasa gagal menjadi seorang suami, serta menjadi kakak untukmu. Maafkan Kakak yang sudah mengecewakan keluarga Zardian." Jawab Leo yang sadar akan kesalahan yang sudah ia perbuat begitu keji kepada mantan istrinya.


Kavil yang tidak ingin masalah semakin panjang dan juga lebar, akhirnya memilih untuk berdamai. Percuma jika harus menanamkan rasa dendam kalau hanya menambah masalah dan tidak ada penyelesaiannya.


Setelah keduanya saling meminta maaf, Kavil mengajak Dion dan kakaknya untuk pulang. Sedangkan Leo yang melihat kepergian mantan istrinya yang meninggalkan rumah utama milik orang tuanya, terasa sakit hatinya untuk berpisah. Mau bagaimana lagi, Lel tidak lagi mempunyai hubungan apapun kepada mantan istrinya, perempuan yang sudah ia sia-siakan kesetiannya, juga ketulusannya.


Menyesal hanyalah tiasa guna, nasi telah menjadi bubur, tidak lagi kembali seperti semula dan hanya bisa menerima sesuatu yang sudah menjadi ketentuan untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2