
Waktu yang dinantikan oleh Leo, rupanya sudah menyambutnya. Tidak ingin membuang sia-sia waktunya, bangun pagi untuk memulai kerjanya pun ia lakukan demi Azura yang ia ketahui sang buah hatinya bersama Amora.
Baru saja keluar dari kamar yang ditempati bersama istri pertamanya, Leo kembali ke kamar yang ia tempati dengan istri keduanya.
Saat hendak masuk ke kamarnya, Leo mendengar percakapan Amora dengan seseorang lewat sambungan teleponnya.
Terdengar sedikit samar-samar, namun dapat dicerna apa yang dibicarakannya.
'Amora mau melakukan pertemuan di pinggir danau, dengan siapa?' batinnya saat mendengar percakapannya dengan seseorang lewat panggilan telepon.
"Ekhem!" Leo berdehem saat masuk ke kamar.
Saat itu juga, Amora langsung memutus panggilan teleponnya.
"Siapa yang menelpon mu, sayang?" tanya Leo yang tentu saja mengagetkan istrinya.
"Oh ini, itu teman aku. Nanti malam mau mengajakku pertemuan, maksud aku reunian seperti istri mu itu, si Anggit. Kamu gak keberatan kan, sayang. Jika aku ikut hadir, dan aku sekalian minta jagain Azura." Jawab Amora merayu.
Leo yang menyimpan rasa curiga, pun tersenyum dan mengangguk pelan, yakni tanda mengiyakan. Tetap saja, Leo akan mengikutinya lewat orang yang bisa ia percaya.
"Ya, gak apa-apa. Kalau kamu ingin pergi, pergi aja. Aku tidak membatasi kamu, yang terpenting kamu bisa menjaga diri kamu dan tidak mengulangi kesalahan yang sudah dilakukan oleh Anggit. Kalau sampai kamu melakukan hal yang sama, jangan salahkan aku untuk menghancurkan kehidupan mu." Ucap Leo dengan ancaman.
Amora tersenyum dan mengangguk.
"Ya sayang, kamu tenang saja. Percayalah denganku, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti istrimu itu." Jawab Amora mencoba untuk meyakinkan suaminya.
"Ya udah kalai gitu, aku mau langsung berangkat. Pagi ini aku tidak sarapan di rumah, aku mau langsung ke kantor saja. Untuk soal Azura biar aku aja yang menjemput." Ucap Leo sambil bersiap-siap.
Setelah berpamitan, Leo segera berangkat ke kantor.
'Semoga saja tidak ada yang mau mentertawakan ku. Jika ada, entahlah masa bodoh." Batinnya sambil mengendarai mobilnya dan menuju ke kantor milik temannya.
Sedangkan Anggit yang tengah menikmati sarapan paginya bersama sang adik, keduanya tidak lagi menikmatinya bersama kedua orang tua mereka. Setelah selesai sarapan, Kavil segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, terpaksa harus meninggalkan kakaknya di rumah.
"Kak, aku berangkat ke kantor dulu ya. Gak apa-apa kan, jika aku tinggal?"
"Tidak apa-apa, jugaan ini di rumah ada Mbak Yuyun. Jadi, kamu tidak perlu khawatir sama Kakak. Ya udah kalau kamu mau berangkat, hati-hati dijalan dan jangan kebut-kebutan." Jawab Anggit saat adiknya mau berangkat ke kantor.
__ADS_1
Kavil pun tersenyum.
"Kalau gitu aku berangkat dulu ya Kak?"
"Ya, hati-hati." Jawab Anggit.
Setelah adiknya tidak lagi di rumah, Anggit kembali ke kamarnya untuk menyibukkan diri dengan laptopnya.
Lain lagi dengan Leo, perasaannya masih gusar dan juga tidak tenang, lantaran masih kepikiran dengan istri keduanya yang mempunyai janji dengan seseorang yang katanya acara reunian.
Ssssstt!!
Tiba-tiba Leo mengerem mendadak, hampir saja menabrak mobil di depannya.
"Sial! masalah seperti ini saja aku tidak becus!" umpatnya yang tengah menggerutu dirinya sendiri setelah memukul setirnya cukup kuat karena emosinya.
Setelah merasa sedikit mendingan, Leo kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor milik temannya.
"Perse_tan! semuanya." Umpat Leo dengan penuh amarahnya saat semua yang dikehendaki tidaklah sesuai rencananya.
Sampainya di depan kantor, Leo mengenakan masker. Tentunya agar tidak ada yang dapat mengetahui tentang dirinya, memalukan itu sudah pasti bagi Leo. Tapi mau gimana lagi, Leo tidak mampu untuk melawan keluarganya sendiri karena kesalahan yang sudah mengecewakannya.
Karena tidak mau menerima ajakan dari temannya, Leo memilih pulang ke rumah orang tuanya. Dengan kecepatan tinggi, Leo sudah sampai di depan rumah.
Kemudian, Leo bergegas turun dari mobil dan masuk untuk menemui keluarganya.
"Bi, Mama dimana?" tanya Leo yang sudah masuk ke rumah.
"Tuan, Nyonya sedang ada di taman belakang. Kalau Tuan Dorman dan Tuan Hambalan sudah pergi dari tadi." Jawabnya.
"Oh, makasih Bi." Ucap Leo dan bergegas pergi ke belakang rumah.
Saat di taman belakang, Leo melihat ibunya tengah duduk santai. Leo mendekatinya dan ikutan duduk di sebelah ibunya.
"Mama sedang apa?" tanya Leo mengagetkan ibunya.
"Kamu, ada apa kemari?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Pingin main aja, Ma." Jawab Leo beralasan.
"Kamu gak kerja?"
Leo menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Ma. Bukannya papa sama kakek sudah memecat Leo? terus, mau kerja dimana? pasti juga gak bakal diterima di tempat lain. Mungkin sambil menunggu waktu yang tepat, Leo akan mencari pekerjaan."
"Andai kamu tidak melakukan kesalahan, mungkin keadaan kamu tidak akan seperti ini. Papa kamu itu malu di hadapan keluarga Zardian, lebih lagi pada Kavil. Kenapa mesti memberitahu kamu, agar kamu dapat berpikir panjang." Ucap ibunya sambil menatap lurus ke depan.
"Maksudnya Mama?" tanya Leo ketika menoleh pada ibunya.
"Kamu tahu, tanpa bantuan dari keluarga Zardian untuk memohon membantu keluarga kita, mungkin saja kita berada dalam titik paling bawah. Seharusnya yang menikah dengan Anggitinasya itu adalah putra dari keluarga Antara, sekretaris mu sendiri yang kamu pecat."
Bagai mendapat sengatan listrik yang hebat, Leo mendadak tercengang saat mendengar ucapan dari ibunya.
"Maksudnya Mama, Dion?"
"Benar."
Sahut Kakek Hambalan di belakangnya. Leo langsung menoleh ke sumber suara.
"Maksud Kakek itu, Dion sekretaris ku?"
Kakek Hambalan mengangguk.
"Ya, Dion Antara. Lelaki yang menjadi sekretaris mu, dia memilih menyamar di perusahaannya sendiri. Tentunya untuk mengawasi kamu dalam bekerja, juga hotel yang ditempatinya bekerja juga milik keluar Antara."
"Dion lah yang seharusnya menjadi suami Anggitinasya, tapi gagal karena permintaan papamu dan Kakek demi persahabatan dan mau menikah dengan mu dengan alasan karena papamu sudah menyelamatkan istrimu."
"Kakek pasti mengada ngada, mana mungkin Dion berasal dari keluarga Antara, sangat tidak percaya. Bertahun-tahun menjadi sekretaris ku, menjadi kaki tanganku, gak mungkin dia dari keluarga Antara, tidak bisa dipercaya."
"Privasi Dion memang disembunyikan sejak kecil, karena tidak ingin ada yang memanfaatkan dirinya." Ucap kakek Hambalan.
"Sekarang apa yang akan menjadi keputusan kamu setelah mengetahui kebenarannya? katakan sama kakek."
"Apa kamu akan memilih Amora dan putrinya? atau Anggitinasya yang sudah kamu sakiti. Tapi kakek tidak menjamin jika Anggit mau menerima kamu lagi." Sambung kakek Hambalan.
__ADS_1
Saat itu juga Leo mempunyai prasangka sendiri mengenai sosok Dion.
"Aku yakin jika yang menjebak aku adalah Dion, dia sengaja ingin merebut istriku dan menghancurkan karirku." Ucap Leo menebak.