DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Membujuk


__ADS_3

"Ini semua salah Kakak, karena tidak mau menginap, dan Kakak lebih memilih untuk buru-buru pulang." Ucap Anggit yang merasa bersalah karena sudah menolak permintaan ibunya untuk tidak buru-buru pulang.


Kavil kembali memeluk kakaknya.


"Tidak Kak, ini semua bukan salah Kakak. Ini keteledoran aku karena mementingkan pekerjaan daripada ikut mengantar Paman ke Bandara." Ucap Kavil yang tetap menyalahkan diri sendiri atas kematian kedua orang tuanya dan pamannya akibat insiden kecelakaan di perjalanan menuju bandara.


"Tidak ada yang salah pada kalian, ini murni kecelakaan dan takdir yang sudah ditentukan. Jadi, jangan kalian menyalahkan diri kalian, semua sudah ditakdirkan antara hidup dan mati." Ucap Leo yang menarik istrinya dari pelukan adik laki-lakinya dan dirinyalah yang menurutnya pantas memeluk istrinya.


Mau bagaimanapun, Leo tetap memberi perhatian kepada istrinya, meski sudah memberi luka padanya.


Anggit yang sudah tidak berdaya, nurut saja dengan suaminya. Anggit bersandar di bagian dadang bidangnya, juga melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.


Dengan pelan, Leo mengusap punggung istrinya untuk memberi kemenangan. Tidak harus menunggu lama dalam proses penanganan jenazah kedua orang tuanya, akhirnya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang ke rumah utama.


Selama perjalanan pulang, Anggit masih banyak melamun dan terlihat pikirannya yang entah kemana. Hidupnya seolah hancur dalam sekejap, harapannya untuk memberi kebahagiaan pada kedua orang tuanya harus pupus begitu saja dalam waktu yang sangat singkat.


Leo yang tidak lagi menyetir, memberi pelukan pada istrinya. Anggit masih diam dan tidak berucap sepatah katapun.


"Lepaskan, aku tidak mau merepotkan kamu, dan juga tidak ingin membuatmu besar kepala." Ucap Anggit yang merasa hampa saat mendapat perhatian dari suaminya, seolah semua itu palsu yang ia dapatkan.


Leo menghela napasnya panjang.


"Lupakan dulu masalah rumah tangga kita, kamu sedang berduka, dan tidak baik jika kita harus bertengkar." Jawab Leo mencoba untuk meredakan emosi suaminya.


Anggit segera membenarkan posisi duduknya dan menoleh pada sang suami.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi, lupakan kata kamu? kamu memperlakukan ku seperti ini karena aku sedang berduka, begitu kah? pikiranmu benar-benar sangat sempit." Ucap Anggit yang tidak tertahan emosinya.


Leo langsung memeluk istrinya lagi.


"Jangan menolak, sekarang yang harus kita pikirkan adalah mengurus jenazah Mama dan Papa, jangan membahas masalah yang dapat merugikan diri kamu maupun diriku." Jawab Leo yang tetap berusaha untuk tidak membuat istrinya marah maupun emosinya.


Anggit sendiri hanya bisa pasrah, meski sebenarnya ingin rasanya memberontak dan berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan segala emosinya.


Berbeda lagi dengan Kavil, dirinya tidak satu mobil dengan kakaknya, melainkan dengan Bi Mira.


Tidak lama kemudian, akhirnya sampai juga di rumah. Rupanya sudah ramai para pelayat yang sudah pada datang dari rekan kerja maupun kerabat yang lainnya, juga para tetangga yang kenal dekat kepada kedua orang tua Anggit.


Anggit yang baru saja sampai, terasa berat untuk menginjakkan kakinya di halaman rumah kedua orang tuanya. Rasa bersalah atas dirinya, membuatnya tak mampu untuk turun dari mobil.


"Kita sudah sampai, juga sudah banyak orang di rumah. Ayo kita turun, lapangkan hatimu." Ucap Leo mengajak istrinya untuk segera turun.


"Aku merasa bersalah besar pada kedua orang tuaku, aku tidak sanggup." Jawab Anggit yang masih berada dalam pelukan suaminya.


"Kasihan Kavil kalau kamu terus menyalahkan diri kamu sendiri, yang ada dia juga sama seperti mu yang tidak memaafkan dirinya sendiri, sedangkan kesalahan bukan terletak pada diri kamu dan juga Kavil. Kamu tidak perlu cemas tentang hal itu, karena aku akan menyelidiki atas insiden kecelakaan kedua orang tuamu. Sekarang lebih baik ayo kita turun, jangan menunda waktu. Secepatnya jenazah Mama dan Papa segera di kebumikan, kita harus lapang dan menerima takdir." Ucap Leo berusaha untuk menenangkan hati istrinya.


Anggit yang sudah pasrah, hanya bisa nurut pada suaminya dan segera turun dari mobil.


Semua yang melihat Anggit tengah dibantu berjalan oleh suaminya, memberi sapaan ramah padanya, termasuk kepada Kavil yang tengah berjalan beriringan dengan Bi Mira di belakangnya sang kakak.


Sedangkan para asisten rumah tengah sibuk mengurus jenazah dibantu oleh orang-orang yang bertugas mengurus jenazah.

__ADS_1


Setelah kedua jenazah di urus, kemudian segera di antar ke pemakaman. Leo yang masih tetap berada di sebelah istrinya, berusaha untuk memberi perhatian padanya.


Sampainya di pemakaman, kedua jenazah telah dikebumikan. Semua yang ikut mengantar, kini satu persatu meninggalkan tempat tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.


Kini tinggallah Anggit bersama adiknya juga sang suami serta beberapa asisten rumah masih di pemakaman.


Anggit dan adik yang tengah berjongkok di tengah-tengah makan kedua orang tuanya, terasa berat untuk kehilangan orang tua yang disayanginya.


Anggit yang dipenuhi dengan rasa penyesalan, dalam hatinya masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Begitu juga dengan Kavil, sama halnya yang dirasakan kakak perempuannya, rasa bersalahnya yang masih menyalahkan diri sendiri lewat penyesalan dalam hatinya.


Karena tidak mungkin berada di pemakaman terus, Leo berusaha membujuk istrinya untuk pulang ke rumah. Tidak hanya Leo saja, Bi Mira dan asisten rumah pun ikut membujuk Anggit dan Kavil untuk pulang ke rumah.


"Sayang, ayo kita pulang. Lihatlah, suasana sudah sepi, tidak baik jika kita harus berada disini. Aku tahu kamu sangat kehilangan, tapi tidak juga harus meratapi kesedihan yang berlarut." Ucap Leo yang berusaha untuk membujuk istrinya.


"Ya Non, mari kita pulang ke rumah. Semua ini sudah takdir, dan kita tidak mungkin untuk tetap berada di sini. Benar kata Tuan Leo, kita tidak boleh meratapi kesedihan yang berlarut, tidak boleh Non." Bujuk Bi Mira yang berusaha untuk mengajak istri bosnya pulang.


Kavil yang diminta untuk menjaga sang kakak, dirinya berusaha untuk tegar dan tidak harus larut dalam kesedihannya.


"Kak Anggit, ayo kita pulang. Biarkan Mama dan Papa beristirahat dengan tenang, dan kita sebagai anak yang berbakti, wajib bagi kita untuk mendoakan, bukan larut dalam kesedihan." Ucap Kavil berusaha berusaha untuk membujuk kakaknya agar tidak terus larut dalam kesedihannya.


Dengan paksaan, akhirnya Anggit nurut untuk pulang. Saat harus meninggalkan pusaran, Anggit maupun adiknya masih menoleh pada makam kedua orang tuanya yang terasa berat untuk berpisah.


Tidak ada pilihan lain, Anggit ditemani yang lainnya dan diajaknya pulang ke rumah. Sampainya di rumah, Leo mengajaknya masuk ke kamar untuk beristirahat dan menenangkan pikirannya.


"Bi, tolong buatkan sup ayam dengan jamur kering untuk istriku, jangan lupa secepatnya antar ke kamar." Perintah Leo kepada Bi Mira.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Jawab Bi Mira dan bergegas membuatkan sup untuk istri bosnya.


__ADS_2