DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Berusaha kuat dan tegar


__ADS_3

Merasa suasana sedang tidak lagi baik-baik saja, Leo mengajak putrinya untuk pulang ke rumah.


"Azura sayang, kita pulang yuk." Ajak Leo sambil menghampiri Azura yang tengah bermain di taman belakang rumah.


Azura yang mendengar namanya dipanggil, langsung menoleh ke sumber suara.


"Papa," balas Azura memanggil ayahnya.


"Kita pulang yuk, main di rumah kakek besok lagi. Soalnya hari ini Papa ada kesibukan, jadi gak bisa berlama-lama berada di rumah kakek buyut." Ucap Leo berusaha memberi alasan yang tepat kepada putrinya.


Azura yang belum sempat berkenalan dengan anggota keluarganya, langsung menunjukkan muka cemberutnya.


Amora langsung berjongkok di hadapan putrinya untuk membujuk.


"Jangan ngambek gitu dong sayang, kita datangnya kurang tepat waktunya. Soalnya ini hari bukan hari libur, jadi semua mempunyai pekerjaan masing-masing. Maka dari itu, Papa dan Mama mengajak Azura pulang ke rumah, atau kita jalan-jalan ke tempat lain, bagaimana?"


"Kan, di rumah ini masih ada Nenek. Zura gak mau pulang ah, Ma." Jawab Azura menolak.


"Nenek sudah tua, kasihan jika harus sibuk mengawasi Azura. Percaya deh sama Papa, kalau Papa udah gak sibuk, kita datang lagi kesini dengan membawa kejutan buat nenek dan kakek, juga kakek buyut, bagaimana?"


Kini giliran Leo yang berusaha untuk membujuk Azura agar mau menuruti ajakannya.


"Bener ya, Pa. Kalau Papa bohong, Zura gak mau lagi tidur di rumah Papa, Zura maunya tidur di rumah kakek buyut." Jawab Azura dengan cemberut.


Leo maupun Amora sama-sama tersenyum mendengarnya.


"Ya udah, sekarang Azura pamitan dulu sama nenek. Kebetulan nenek kan masih di rumah, ayo Papa temani." Ajak Leo untuk berpamitan dengan ibunya, Azura mengangguk dan ikut dengan Leo mencari keberadaan ibunya.


"Mama ada disini? ini, Azura mau pamitan sama Mama."


Ibunya langsung tertuju pada gadis kecil yang harus menjadi korban ibunya, gadis kecil yang tidak tahu apa-apa mengenai perbuatan kedua orang tuanya.


"Nenek," panggil Azura yang langsung memeluknya.


Ibunya Leo pun menerima pelukan dari Azura, kemudian meregangkan pelukannya dan menatap wajah gadis kecil itu dengan lekat.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik, semoga kamu menjadi anak yang baik." Puji ibunya Leo dan mengarahkan pandangannya ke arah Amora, perempuan yang diketahuinya bukanlah perempuan baik-baik.


"Nenek juga cantik, perempuan kan cantik, kata Papa." Jawab Azura dengan senyumnya yang memiliki dua lesung pipit.


Ibunya Leo pun tersenyum pada Azura. Mau bagaimanapun, Azura tidak berhak untuk dibenci, lantaran tidak tahu apa-apa akan kesalahan orang tuanya.


"Oh ya Nek, Zura pulang dulu ya Nek. Besok Zura datang lagi ke rumah Nenek." Ucap Zura yang terlihat begitu cerdas.


"Boleh, Nenek tidak melarang Azura untuk datang ke rumah ini. Kapanpun boleh, nginap disini juga boleh, Nenek pasti sangat senang." Jawab ibunya Leo, lagi-lagi kembali mendongak dan menatap Amora dengan tatapan tidak suka.


'Sialan, seolah nenek tua bang_ka ini sedang menuduhku perempuan yang tidak baik. Awas saja kau.' Batin Amora dengan penuh kesal saat harus dipandangi ibunya Leo.


Setelah berpamitan, Leo mengajak Amora dan Azura bergegas pergi dari rumah utama.


Meski dengan perasaan kecewa, Leo dapat memaklumi akan sikap dari kedua orang tuanya dan juga sikap kakeknya yang sudah memberi ancaman pada dirinya.


Lain lagi dengan Anggit, tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, meski dengan kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Dion yang tengah menunggu istri Bosnya, bersabar untuk menunggunya.


Saat semua tidak ada yang tertinggal, Anggit segera keluar dari kamarnya. Sampainya di ruang tamu, dilihatnya Dion yang terlihat tengah menunggu dirinya.


"Maaf, jika aku sudah membuatmu lama menunggu." Ucap Anggit.


"Tidak apa-apa, Nona. Apakah Nona sudah siap untuk berangkat?"


"Ya, aku sudah siap untuk berangkat ke kantor." Jawab Anggit dengan anggukan.


"Mari, Nona." Ucap Dion, Anggit mengangguk pelan dan bergegas keluar.


Saat dalam perjalanan, Anggit terlihat lesu dan tidak bersemangat. Dion yang belum mengetahui jika Bosnya membawa pulang Amora dan Azura, merasa ada sedikit rasa curiga pada sosok istri Bosnya.


'Ada dengannya? kenapa dengan Anggit? apakah sudah mengetahui jika suaminya telah berselingkuh? jika ya, kasihan sekali. Semoga saja tidak mengetahuinya, karena itu sangat menyakitkan untuknya.' Batin Dion yang merasa kasihan dengan temannya sendiri.


Sebenarnya bukan tidak mau memberitahu akan kebenaran mengenai Bosnya, tapi takutnya akan dituduh menjadi pengganggu rumah tangga orang lain.

__ADS_1


Anggit yang tidak bersemangat, dirinya sedari tadi hanya bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun sesuatu yang tengah dipikirkannya.


Tanpa Anggit sadari, air matanya pun lolos begitu saja saat teringat pengkhianatan dari suaminya yang tengah berselingkuh dan juga mempunyai seorang anak perempuan.


Cukup lama dalam perjalanan, Anggit sampai tidak sadar jika sudah berada di depan kantornya.


"Nona, kita sudah sampai di depan kantor." Panggil Dion membuyarkan lamunannya.


Anggit langsung terkesiap saat Dion memanggil dirinya. Dion yang kebetulan menoleh ke belakang, melihat istri Bosnya terlihat kedua pipinya tengah basah oleh air matanya.


"Ini ada tissue, silakan gunakan untuk mengusap air mata Nona. Maaf, bukannya saya lancang." Ucap Dion sambil menyodorkan tissue untuk istri Bosnya.


Anggit menerimanya.


"Terima kasih," jawab Anggit menerima tissue yang diberikan oleh Dion.


"Kalau Nona sedang tidak enak badan atau sedang banyak pikiran, lebih baik Nona tidak usah masuk kantor." Ucap Dion memberi saran kepada istri bosnya.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawab Anggit berusaha untuk tidak terlihat lemah didepan orang lain.


Dion mengangguk dan segera keluar untuk membukakan pintunya.


"Silakan turun, Nona." Ucap Dion.


"Kamu tidak perlu repot repot membukakan pintu, aku sendiri bisa membukanya. Aku ini teman kamu, tidak perlu berlebihan, kecuali dihadapan suamiku. Tapi sepertinya sekarang pun percuma, ah sudah lah aku mau masuk. Nanti aku akan hubungi kamu jika aku sudah mau pulang." Jawab Anggit.


"Baik, Nona." Jawab Dion disertai anggukan.


"Tidak usah formal begitu, aku merasa sedang bicara dengan orang asing." Ucap Anggit dan bergegas masuk ke dalam kantor.


Sedangkan Dion hanya tersenyum mendengarnya.


Dion yang selalu mendapat teguran dari Anggit, tetap saja tidak pernah berubah dengan panggilan untuk istri bosnya.


Anggit yang tidak ingin datang terlambat dan memberi contoh yang tidak baik untuk karyawannya, cepat-cepat masuk ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Seperti biasa, semua karyawan menyambutnya dengan sapaan sapaan yang ramah.


Sampainya di ruang kerjanya, Anggit kembali teringat pada suaminya. Sebisa mungkin untuk mengabaikannya dan fokus dengan pekerjaannya.


__ADS_2