DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Permintaan


__ADS_3

Sambil duduk bersandar, Anggit masih diam, juga tidak berucap sepatah katapun di depan suaminya.


"Ganti dulu bajumu, ini bajunya." Ucap Leo sambil menyodorkan pakaian untuk istrinya.


Anggit langsung menyambar baju yang ada ditangan suaminya, namun belum juga bangkit dari posisinya.


"Sini, biar bantu kamu ganti baju." Sambungnya lagi sambil meraih baju yang ada pada istrinya.


"Gak perlu, aku bisa menggantinya sendiri." Jawab Anggit dan segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengganti bajunya.


Leo yang mendapati sikap ketus dari istrinya, sama sekali tidak marah maupun geram sekalipun.


Selesai mengganti bajunya, Anggit kembali keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang suami tengah menyibukkan diri dengan ponselnya.


Saat melihat istrinya sudah mengganti baju, Leo meletakkan ponselnya.


"Lanjutkan saja chatting mu sama selingkuhan kamu itu, bila perlu pulang sekalian." Ucap Anggit yang akhirnya bicara.


Leo yang mendengarnya, pun tersenyum pada istrinya dan bergegas berdiri, lalu mendekatinya.


"Kamu cemburu? baguslah, berarti kamu masih cinta sama aku. Oh ya, tadi aku sudah meminta Bi Mira untuk membuatkan kamu sup ayam, mungkin sebentar lagi di antar ke kamar." Jawab Leo sambil memegangi kedua pundak istrinya dari belakang.


Anggit yang merasa risih, langsung menyingkirkan kedua tangan milik suaminya.


"Lepaskan, aku sedang tidak ingin melihatmu. Bila perlu sekarang juga kamu pulang ke rumah saja, jangan menampakkan wajahmu di hadapanku." Ucap Anggit yang merasa tidak nyaman bersama suaminya, bayang-bayang wajah suaminya yang sudah penuh dusta, membuatnya tidak ingin melihatnya.


Leo sendiri langsung melepaskan kedua tangannya sesuai permintaan istrinya, tetapi tidak untuk meninggalkannya.


Saat itu juga, suara ketukan pintu kamar tengah mengagetkan mereka berdua.


"Mama," sebut Leo pada ibunya yang kini sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


"Dimana istrimu? Kamu ini ya, kenapa tidak memberi kabar kepada Mama dan Papa? ha!"


Leo yang mendapat omelan dari ibunya, menelan ludahnya dengan kasar.


"Lupa, Ma, serius. Soalnya dari pagi aku sibuk menenangkan istriku, Ma." Jawab Leo sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.


Anggit yang berada di dalam kamar, masih duduk dan terdiam di sofa.


Ibu mertua yang tidak sabar ingin melihat keadaan menantunya, langsung masuk ke kamar dengan mendorong putranya.


"Anggit, maafkan Mama yang baru datang. Soalnya Mama tidak mendapatkan kabar apapun dari Leo maupun dari pihak keluargamu. Mama ikut turut berduka cita Nak, kamu yang sabar ya sayang, semua ini adalah ujian untukmu, juga sudah takdir." Ucap Ibu mertua yang langsung memeluk Anggit dengan erat.


"Terima kasih Mama sudah datang," jawab Anggit yang tidak tahu harus berkata apa, seolah dunianya tengah runtuh.


Kemudian, ibu mertua melepaskan pelukannya dan menatap wajah menantunya yang terlihat sembab.


"Kamu yang sabar ya sayang, Mama juga tidak menyangka jika kedua orang tuamu pergi dengan cara mendadak seperti ini. Padahal Mama belum sempat main kerumah, tapi sudah berpulang duluan." Ucap Ibu mertua sambil mengusap air mata yang tengah membasahi pipinya.


Anggit mengangguk tanda mengerti.


"Ya Pa, terimakasih sudah datang kemari." Jawab Anggit sedikit menunduk.


"Permisi, Tuan, Nyonya, dan Nona. Maaf, sup ayamnya baru datang." Sapa Bi Mira sambil membawakan sup ayam untuk istri bosnya.


"Taruh di meja ya, Bi. Terima kasih sudah membuatkan sup ayam." Ucap ibunya Leo, sedangkan Anggit masih belum banyak bicara, dan memilih untuk diam di hadapan Ibu mertua maupun ayah mertuanya.


"Sini, biar aku saja yang akan menyuapi istriku, Ma." Ucap Leo sambil meraih mangkuk yang berisi sup ayam campur jamur kering.


Sedangkan ayahnya Leo memilih untuk keluar, dan tidak ingin mengganggu menantunya yang tengah berduka.


"Diisi dulu perutmu kamu, Nak. Jangan menyiksa diri, kamu juga butuh sehat." Ucap Ibu mertua yang merasa sedih saat melihat kondisi menantunya yang begitu hancur akan perasaannya yang mana diselingkuhin suaminya, juga harus tinggalkan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Anggit masih kenyang, Ma." Jawab Anggit sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohongi Mama, atau Mama yang akan suapin kamu, bagaimana?"


Anggit masih menggelengkan kepalanya. Ibu mertua yang butuh bicara empat mata, langsung memberi kode kepada putranya untuk keluar sebentar.


"Sayang, aku keluar dulu ya, mau temani Papa sebentar. Kamu sama Mama dulu, mungkin saja ada yang mau diomongin sama Mama. Jangan lupa, sup ayamnya dihabiskan." Ucap Leo, dan bergegas keluar dari kamar.


Kini tinggallah Anggit ditemani Ibu mertuanya saja di kamar. Dengan hati-hati, Ibu mertua meraih tangan milik menantunya.


"Mama tahu, bahwa suasana hatimu saat ini pasti sangat hancur. Mama juga sudah tahu atas perbuatan Leo sama kamu. Mama dan Papa meminta maaf atas kesalahan Leo yang sudah menyakiti hatimu, juga menghancurkan perasaan kamu." Ucap Ibu mertua meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh putranya.


Saat itu juga, Ibu mertua kembali memeluk menantunya.


"Katakan sama Mama, apa yang kamu inginkan, katakan saja, biar Mama dan Papa juga kakek akan memberi pelajaran kepada Leo. Tapi Mama mohon, kamu dan Leo jangan bercerai." Ucap Ibu mertua masih memeluknya, dan meminta permintaan pada Anggit untuk tidak bercerai, yakni berpisah.


Perlahan Anggit merenggangkan pelukan dari Ibu mertuanya dan melepaskan.


"Anggit tidak tahu Ma, luka yang diberikan oleh Leo terlalu sakit untuk diterima." Jawab Anggit dengan napas yang terasa berat untuk bicara.


"Jangan Nak, Mama mohon sama kamu untuk tidak menggugat perceraian. Kamu tidak perlu khawatir, Leo akan Mama meminta untuk segera meninggalkan Amora."


"Itu tidak akan mungkin dilakukan oleh putra Mama, Leo sudah mengatakannya dengan tegas, bahwa dirinya tidak akan memisahkan Amora dengan putrinya. Lalu, apa gunanya Anggit tinggal bersama satu atap, jika itu semua hanya akan menjadi tontonan yang sangat menyakitkan." Jawab Anggit yang masih teringat dengan ucapan suaminya.


"Mama akan usahakan untukmu agar kalian berdua tidak bercerai, Mama tidak akan menyetujuinya."


"Kenapa Ma? seharusnya Mama senang mempunyai cucu, juga menantu seperti Amora yang tidak seperti Anggit yang tidak bisa memberikan suami keturunan." Jawabnya sambil menunduk, juga dengan perasaannya yang sulit untuk diungkapkan.


Ibu mertua mengenggam tangan milik menantunya.


"Mama, Papa, kakek, sudah berjanji untuk bertanggungjawab atas dirimu. Apapun yang terjadi, kami tidak akan membiarkan kamu berpisah dengan Leo. Jadi Mama mohon sama kamu, tetaplah menjadi istrinya Leo, karena hanya kamu yang dapat menaklukkan hatinya. Mungkin saat ini dia sedang salah memilih atas pilihannya, tetapi tidak tahu untuk nantinya, dia pasti akan menyesalinya." Ucap Ibu mertua panjang lebar.

__ADS_1


Anggit masih diam, harus berapa kali ia ucapkan untuk memintanya berpisah.


__ADS_2