DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Tidak peduli dengan ancaman


__ADS_3

Cukup lama mengobrol di balkon, rupanya sudah waktunya untuk makan malam. Leo yang kembali kepikiran istri pertamanya, merasa khawatir jika Anggit terjadi sesuatu didalam kamarnya. Mau bagaimanapun, dirinya mempunyai tanggung jawab padanya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Amora menghentikan langkah kaki suaminya.


"Tidak kemana-mana, aku mau ke dapur untuk melihat apakah makan malamnya sudah siap atau belum. Sekalian mau menyuruh Bi Mira untuk menyiapkan makan malam untuk Azura, bukankah kamu bilang kalau Azura alergi dengan penyedap rasa." Jawab Leo beralasan.


"Oh, kirain. Ya udah sana, nanti aku nyusul aja sama Azura." Ucap Amora yang merasa lega.


Leo yang sudah tidak sabar untuk melihat sedang apa istri pertamanya, cepat-cepat untuk melihatnya. Namun sebelumnya ia pergi ke dapur dulu.


"Maaf, ada apa Tuan?"


"Tolong ya Bi, masakan untuk Azura tolong dipisah saja dan tidak menggunakan penyedap rasa. Cukup garam dan bawang putih atau jahe saja untuk tumisan atau untuk masak ikan, untuk sopnya garam sama jahe, dah itu aja." Jawab Leo memberitahu kepada Bi Mira.


"Baik, Tuan." Jawab Bi Mira disertai anggukan.


Setelah itu, Leo segera menemui istri pertamanya. Saat hendak mau membuka pintu, rupanya terkunci dari dalam. Leo yang ingat kode pintu kamar, langsung menekan nomornya. Naas, tiba-tiba ia tidak bisa membukanya hingga berkali-kali mencoba memastikan nomor kode yang ia ingat.


Leo yang geram, dirinya langsung menggebrak pintunya dua kali.


"Ada apa? tanya Anggit yang baru saja membuka pintunya.


"Sudah waktunya untuk makan malam, kita makan malam bersama. Maaf, mungkin mulai sekarang aku akan lebih sering menemani Amora daripada kamu. Kamu harus menyadari jika di rumah ini sudah darah daging ku, yaitu Azura. Jadi, jaga sikapmu di depannya. Mulai semarang kamu haeus siap menerima keputusanku ini, sedikitpun kamu tidak ada hak untuk mengubahnya." Jawab Leo sekaligus memberi penjelasan serta keputusan kepada istrinya.


Anggit yang mendengarnya semakin terluka hatinya. Pernikahan yang awalnya baik-baik saja dan seolah tidak ada sesuatu yang disembunyikan, kini akhirnya terbongkar dengan sendirinya.


"Aku duluan, aku tunggu kamu di ruang makan." Ucap Leo dan bergegas meninggalkan istrinya yang bersandar pada kerangka pintu.


Dipandanginya punggung suaminya yang mulai tak terlihat, Anggit menunduk dengan penuh kesedihannya. Cinta yang tulus ia berikan kepada suaminya yang dipercaya, namun kenyataannya telah memberinya luka yang begitu menyayat hatinya.

__ADS_1


Dengan tubuhnya yang gontai saat memutarbalikkan badan menuju tepi ranjang tidurnya, sekuat dan semampunya berusaha untuk tetap tegar.


Wanita mana yang rela jika harus berbagi suami, sedangkan dirinya sendiri terasingkan. Luka yang tidak pernah ia dapatkan, sekali di dapat sungguh menyakitkan.


"Andai saja kematian adalah jalan keluar, mungkin akan aku lakukan. Tapi aku sadar, bertahan dalam kebodohan itu menyiksa diri, dengan perlahan-lahan justru akan terjerembab ke lubang yang lebih dalam lagi." Gumam Anggit dalam memikirkan hubungan pernikahannya.


"Apa salahnya jika aku bertahan, jika itu adalah jalanku satu-satunya tekad ku." Gumamnya lagi sambil berjalan menuju meja rias.


Anggit yang tidak ingin sampai didatangi suaminya dengan segala macam ancaman maupun sumpah serapahnya, ia segera menyisir rambutnya dan mengucirnya.


Sedangkan Leo bersama Amora dan Azura yang sudah duduk di ruang makan sambil menunggu Anggit, tidak tahunya yang ditunggu tengah berjalan mendekat.


Arah pandangan Anggit kini tertuju pada Amora dan suaminya sebelum duduk di sebelah Azura.


"Tante," panggil Azura sambil meraih tangan Anggit.


Sang pemilik nama pun kaget mendengarnya.


"Tante Anggit cantik banget deh. Zura jadi pingin cantiknya seperti Tante." Puji Azura pada Anggit.


"Azura juga cantik, apalagi nanti kalau sudah besar, pasti sangat cantik." Jawab Anggit balik memuji anak kecil itu.


Kemudian, Anggit segera duduk disebelah Azura, tepatnya di sebelah kiri suaminya. Sedangkan Amora duduk di sebelah kanannya.


Saat itu juga, Amora mengambilkan porsi makan malam untuk suaminya, Anggit hanya bisa memperhatikannya sambil mengambil porsinya untuk dirinya sendiri, juga mengambilkan untuk Azura.


"Ini sayang," ucap Amora sengaja memanas-manasinya.


Anggit sama sekali tidak peduli, meski rasanya begitu sakit saat harus melihat keromantisan suaminya dengan istri keduanya. Leo yang tengah dilayani oleh Amora, sedikitpun tidak mempunyai rasa bersalah sedikitpun pada sang istri. Justru dengan percaya dirinya menunjukkan keromantisannya.

__ADS_1


'Benar-benar sangat menjijikkan.' Batin Anggit sambil mengunyah makanan.


Amora yang sengaja ingin membuat api cemburu kepada Anggit, ia terus menunjukkannya pada Anggit.


Karena tidak ingin berlama-lama di ruang makan, secepatnya Anggit untuk menghabiskan makanannya. Setelah itu, dirinya segera kembali ke kamar untuk beristirahat.


Lain lagi dengan Amora dan Leo, keduanya tengah menemani Azura agar tidur lebih awal.


Saat Anggit sudah berada di kamar, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan laptopnya. Kali ini dirinya bukan lagi untuk melihat rekaman CCTV, melainkan untuk berkomunikasi dengan teman-temannya dulu.


Sedikit ada yang memberinya hiburan, Anggit merasa ada temannya. Tawa kecil sebagai obat penenang tatkala pikirannya sedang tidak konsentrasi.


"Terima kasih banyak ya, kalian sudah mau menerima panggilan dariku. Sudah malam, aku harus segera istirahat, sampai jumpa lagi dilain kesempatan." Ucap Anggit saat berpamitan dengan teman-temannya dulu di sekolah.


Setelah mematikan sambungan panggilan, Anggit mematikan ponselnya dan bergegas untuk istirahat.


Lain lagi dengan Amora, dirinya merasa gelisah saat beranjak mau tidur.


"Kamu kenapa?" tanya Leo sambil memperhatikan Amora yang gelisah.


"Tidak apa-apa, aku cuma kepikiran pada Azura. Semoga saja putri kita betah tinggal di rumah kamu ini, aku hanya takut jika suatu saat akan mengetahui kebenarannya mengenai status kamu dengan Anggit." Jawab Amora.


"Kamu tenang saja, aku sudah mengancam Anggit untuk tidak membocorkannya di hadapan Azura. Jadi, kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." Ucap Leo meyakinkan Amora, dan mengajaknya untuk segera tidur.


Berbeda lagi di tempat yang lain, rupanya ada sosok yang tengah tertawa puas saat melakukan sebuah rencana yang tengah di rencanakan sejauh hari telah berhasil tujuh puluh lima persen untuk mencapai tujuannya.


"Kau sangat bodoh, hei orang sombongn. Hanya dengan membodohi kamu, sangat mudah bagiku untuk menghancurkan hidupmu. Lihat saja, kau akan menyesalinya." Ucapnya setelah tertawa puas karena sebuah permainannya yang sedikit lagi berhasil seratus persen.


"Good good good, kau memang begitu bodoh. Tidak sia-sia aku menjalankan misi ku ini." Ucapnya lagi penuh dengan kemenangan saat rencananya akan segera berhasil.

__ADS_1


Merasa bangga dengan rencana yang sudah disusun serapi mungkin, tidak ada lagi kekhawatiran sama sekali untuk menjatuhkan orang lain.


__ADS_2