
Anggit yang masih berpikir, mencoba untuk memberi jawaban kepada ibu mertua.
Anggit kembali menggelengkan kepalanya, tanda menolak permohonan dari ibu mertuanya. Kemudian, Anggit mengatupkan kedua tangannya.
"Anggit tidak bisa, Ma." Jawab Anggit menundukkan pandangannya, takut bahwa ucapannya telah mengecewakan ibu mertuanya.
Ibu mertua mengangkat dagu milik menantunya, dan menatapnya dengan lekat.
"Pikirkan baik-baik, Nak. Mama mohon sama kamu untuk mempertahankan suami kamu." Ucap ibu mertua penuh memohon.
Lagi-lagi Anggit menggelengkan kepalanya, yakni bahwa dirinya tetap bersikukuh untuk meminta berpisah dengan suaminya. Rasa sakit yang ia terima rupanya sudah cukup menyakitkan untuk kembali.
"Mama tidak akan mengizinkan kamu untuk berpisah dengan Leo, karena kamu adalah perempuan yang pantas untuk bersanding dengan Leo, bukan Amora. Mama minta sama kamu untuk dipikirkan lagi atas keputusan kamu yang meminta berpisah dengan Leo. Untuk saat ini Mama Minta tenangkan dulu pikiran kamu ya sayang." Ucapnya lagi yang tetap tidak bisa memenuhi permintaan dari menantunya.
Anggit yang masih dalam kondisi berduka, dirinya belum mempunyai waktu untuk mengurusnya. Lebih lagi dirinya masih shock, tentunya membutuhkan istirahat yang cukup dan juga agar tidak semakin penat dan setres pikirannya.
"Sekarang kamu nikmati dulu sup nya, jangan biarkan perutmu kosong. Sayangi kesehatanmu, jangan sampai kamu menyiksa diri sendiri. Mama mengerti dengan keadaan kamu saat ini, juga karena perbuatan Leo, kamu harus berpikir dua kali lipat." Ucap ibu mertua sambil meraih mangkok dan menyuapinya.
"Mama tidak perlu repot-repot menyuapi Anggit, karena Anggit bisa melakukannya sendiri. Sebelumnya terimakasih atas perhatian dari Mama, dan maaf sudah merepotkan, juga sudah memberi masalah karena belum bisa memberi Mama keturunan." Jawab Anggit sambil meraih mangkok yang ada pada ibu mertuanya.
"Jangan bicara seperti itu, mungkin karena belum waktunya kamu untuk hamil. Mama mohon jangan memojokkan diri sendiri, karena Mama yakin bahwa kamu tidaklah man_dul." Ucapnya sambil menatap serius pada Anggit.
Sambil menyuapi diri sendiri, Anggit berusaha untuk tetap tenang, meski sebenarnya terasa sesak untuk menarik napasnya.
Leo yang masih diluar menemani ayahnya, terasa bosan karena tidak selera untuk mengobrol. Lebih lagi harus mendapati banyaknya pertanyaan dan juga nasehat nasehat kecil yang ia terima.
Tidak terasa juga, rupanya sudah memakan waktu yang cukup lama untuk mengobrol.
Karena tidak ingin jika putranya mudah dipengaruhi oleh perempuan yang tidak baik, Tuan Dorman segera memberi peringatan kepada Leo, juga dilarang keras untuk berpisah.
"Papa minta sama kamu, beri perhatian penuh pada istrimu. Ingat, untuk beberapa hari ini kamu harus temani Anggit, dan kamu tidak Papa izinkan pulang ke rumah. Tidak mau tahu soal alasan, itu terserah kamu kepada Amora maupun putrinya." Ucap sang ayah untuk memberi nasehat kecil kepada putranya.
"Tapi Pa, bagaimana dengan Azura?"
"Terserah kamu, jika kamu siap kehilangan jabatan kamu, segera pulang." Ucap sang ayah yang tetap pada keputusannya.
"Papa mengancam ku?"
__ADS_1
Tuan Dorman mengangguk.
"Ya, hanya itu yang bisa Papa lakukan. Lebih baik kamu lupakan Amora, dan jangan menariknya kembali kedalam rumah tanggamu." Jawab Tuan Dorman berusaha untuk tegas memberi peringatan kepada putranya.
Leo yang tidak ingin berdebat dengan ayahnya sendiri di rumah keluarga istrinya, memilih untuk menemui istrinya dan agar dirinya bisa lepas diri dari berbagai macam pertanyaan dan juga ancaman dari ayahnya.
Sedangkan Kavil memilih untuk menenangkan diri di dalam ruangan khusus dan ditemani oleh beberapa anak buahnya.
Leo yang sudah kenyang dengan segala omelan dari ayahnya, segera menemui istrinya yang sedang ditemani ibunya.
Anggit yang melihat suaminya baru saja masuk ke kamar, sebisa mungkin untuk mengalihkan pandangannya. Sedangkan Leo segera duduk disebelah istrinya.
"Sudah habis sup ayamnya?" tanya Leo sambil memperhatikan istrinya.
"Sudah," jawab Anggit dengan datar. Tidak peduli meski ada ibu mertua berada didekatnya.
"Kalau begitu Mama dan Papa mau pamit pulang ya, sayang. Kamu pikirkan baik-baik keputusan kamu tadi, Mama berharap kamu tidak akan menolak permintaan Mama." Ucap ibu mertua, Anggit hanya mengangguk demi tidak membuat keributan didepan suaminya, lantaran dengan keadaan rumah yang sedang berduka.
"Buat kamu Leo, jaga istrimu dengan baik. Awas kalau sampai Anggit mendapatkan perlakuan buruk darimu, Papa tidak akan segan-segan memecat kamu." Ucap sang ayah yang sudah berada dihadapan putranya.
"Ya, Pa. Kalian tidak perlu khawatir, Anggit akan aman bersamaku." Jawab Leo saat menerima ancaman dari ayahnya.
"Mama bilang apa aja sama kamu, sayang?" tanya Leo yang tetap dengan panggilannya seperti biasa terhadap istrinya.
"Gak bilang apa-apa, hanya memintaku untuk tidak menggugat cerai, kenapa?" jawab Anggit dengan jujur, juga malas untuk menutupinya.
Leo tersenyum seolah mendapat dukungan dari ibunya untuk tidak berpisah dengan Anggit, tentunya tidak kehilangan pekerjaannya.
"Terus, kamu jawab apa sayang?" tanya Leo yang seolah tak bersalah sedikitpun pada sang istri.
Anggit mulai bangkit dari posisinya.
"Aku akan tetap menggugat perceraian, kenapa?"
"Apa katamu, mau menggugat cerai? itu tidak akan bisa, kamu akan tetap menjadi istriku, apapun alasannya."
"Lebih baik sekarang kamu pulang, urusin saja ja_langmu."
__ADS_1
Leo yang mendengar kata ja_lang, langsung menatap tajam pada istrinya. Seolah dirinya tidak terima jika Amora dikatain perempuan ja_lang.
Saat itu juga, Leo menarik dagu milik istrinya dan menatapnya kesal.
"Jaga ucapan mu saat bicara di depanku, dia bukan perempuan ja_lang seperti yang kamu tuduhkan, dia perempuan yang sudah memberiku keturunan, paham." Ucap Leo dengan geram, dan tidak terima saat menerima penghinaan dari istrinya.
"Setelah tujuh hari, kita akan pulang ke rumah." Sambungnya lagi dan bergegas keluar dari kamar.
Lain lagi dengan Amora yang tengah menunggu suaminya pulang, namun tidak kunjung pulang juga.
"Ma, Papa kok belum pulang sih? tante cantik sakit ya?" tanya Azura mengenai ayahnya yang tidak kunjung pulang ke rumah hingga sore hari.
"Ya sayang, mungkin tante Anggit sedang ditangani dokter. Mungkin saja Papa sedang menemani tante. Azura tahu sendiri kan, kakek dan nenek sudah tua, jadi gak bisa jagain tante." Jawab Amora beralasan, meski sebenarnya merasa kesal dan juga dongkol saat suaminya belum juga pulang.
"Semoga saja tante cantik cepat sembuh dan pulang ke rumah, biar bisa temani Zura main." Kata Azura yang tidak tahu apa-apa, padahal dirinya hanya sebagai korban akibat keegoisan orang tuanya.
'Sial! brengs_ek kau Leo, awas saja kalau kamu tidak pulang juga.' Umpat Amora dalam hati, dan dengan penuh rasa kekesalannya.
Tidak tahunya, jarak beberapa jam kemudian, Leo tengah pulang ke rumah.
"Papa pulang ...."
"Papa! asik ... Papa sudah pulang." Teriak Azura dengan riang yang melihat ayahnya pulang saat tengah bermain.
Azura bangkit dan berlari menuju ayahnya. Saat itu juga, Leo langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya yang langsung memeluk putrinya.
"Tante cantik mana, Pa? kok gak ikut pulang, masih sakit ya?" tanya Azura sambil celingukan.
Leo yang mendapat pertanyaan dari Azura, mendongak dan menatap Amora. Setelah itu, Leo melepaskan pelukannya dan memandangi putrinya.
"Ya sayang, tante cantik belum bisa pulang. Doakan ya, semoga cepat pulang. Oh ya, sepertinya malam ini Papa harus temani cantik, soalnya tidak ada yang menemani tante cantik, tidak apa-apa, 'kan?"
"Kan ada asisten pribadi, kenapa tidak menyuruh asisten rumah saja?" timpal Amora yang langsung menyambar.
"Azura gak apa-apa kan, jika Papa tinggal dulu. Janji, setelah tante cantik diperbolehkan pulang, Papa akan penuhi semua permintaan Azura, bagaimana?"
Azura yang mengira jika Anggit adalah tantenya, tentu saja mengizinkan Leo untuk menemaninya. Tetapi tidak untuk Amora, merasa kesal dan juga merasa jika suaminya tengah berselingkuh. Sungguh, yang dirasakan oleh Anggit dan Amora berbanding terbalik satu sama lain.
__ADS_1
Anggit yang tengah duduk di ruang tamu ditemani adik laki-lakinya, sama sekali tidak menunjukkan masalah yang sedang menimpa dirinya.
'Maafkan kakakmu ini, Kavil. Maafkan kakak yang sudah menutupi masalah yang sedang kakak hadapi. Percayalah sama kakak, semua akan baik-baik saja, meski harus mengorbankan karir mu.' Batin Anggit sambil menentukan keputusannya.