
Dion yang tengah sibuk dengan ponselnya saat menunggu Anggit berada dalam ruang ganti, juga sekaligus di makeover, dengan sabar untuk melihat hasilnya.
Anggit sendiri yang merasa risih dengan penampilannya yang mendadak aneh, merasa kikuk dibuatnya.
"Mbak, ini baju apa gak berlebihan?" tanya Anggit sambil memperhatikan penampilannya yang terlihat seperti hendak berkencan.
"Nona sangat cantik malam ini, Tuan Dion pasti akan menyukainya saat melihat penampilan calon istrinya begitu cantik dan juga terlihat anggun. Percayalah dengan saya, Nona." Jawabnya memuji.
Anggit yang mendengar pujian, seolah seperti tengah mendapat godaan yang besar.
"Mbak ini ada-ada saja, saya rasa penampilan saya ini aneh. Ah sudahlah, gak bakal selesai ngomong sama Mbaknya, juga gak bakal ngerti." Ucap Anggit yang pasrah.
"Kalau begitu mari akan saya antar, Nona."
"Ya Mbak, makasih."
Anggit pun kembali bermodalkan pasrah dari pada harus berdebat, pikirnya.
"Permisi Tuan, saya sudah selesai merias wajah Nona dan juga menggantikannya pakaian yang cocok untuk calon istrinya Tuan." Ucapnya saat sudah berada dihadapan Dion.
Saat itu juga, Dion langsung mendongak dan menatap wajah ayu milik Anggit yang sudah di poles dengan cantik. Kemudian, tak lupa juga untuk melemparkan senyum layaknya orang yang tengah kasmaran.
Anggit yang mendapat tatapan dari Dion, pun sedikit bergidik ngeri. Pasalnya mau bagaimanapun statusnya masih istri orang, juga masih diselimuti masalah yang belum juga selesai permasalahannya.
"Sempurna." Ucap Dion saat sudah berdiri didepan Anggit.
Setelah itu, Dion mengajak Anggit untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang akan dipersiapkan oleh Dion sedari pagi.
"Silakan masuk, Nona." Ucap Dion sambil membukakan pintu.
"Gak lucu, jadi jangan melucu di hadapanku. Juga, kamu tak perlu mengejekku, karena aku bukan lagi Bos kamu, juga bukan sekretaris suamiku." Jawab Anggit sedikit ketus.
__ADS_1
Dion yang mendengar dan melihat ekspresinya saja, pun tersenyum.
"Memangnya panggilan Nona itu hanya untuk bos? bukan, sudah cepetan masuk. Aku bukan lagi sekretaris suamimu, tetapi ..."
"Saingannya, sudah lah cepetan kalian berdua masuk. Aku sudah lapar, iya gak Pak Ramil?" sambar Kavil ikut menimpali.
Anggit yang mendengar adiknya menyambar ucapan dari Dion, akhirnya segera masuk kedalam mobil.
Dion kembali tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Anggit, dan bergegas ikut masuk kedalam dan duduk bersebelahan. Lagi-lagi keduanya sama-sama diam dan terhanyut dalam lamunannya masing-masing hingga tak sadarkan diri jika sudah sampai di tempat yang dituju.
Tetap saja, anak buahnya Leo masih terus mengawasinya. Dion yang sebenarnya merasa risih, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan seolah tidak tahu jika tengah diawasi.
Sampainya di restoran yang cukup besar, Dion segera turun dan membukakan pintu untuk Anggit.
"Kak, aku tinggal dulu ya, aku mau ada perlu sebentar, biasalah lagi kebelet. Nanti aku nyusul bareng Pak Ramil, tenang aja." Ucap Kavil dengan segala jurus andalan untuk beralasan.
"Bohong, kamu pasti mau mengerjai Kakak lagi, 'kan? sudah deh ngaku aja." Jawab Anggit tidak percaya, juga melotot pada adiknya.
"Aduh aduh aduh, kan kan kan perutku mulas." Sambungnya lagi yang kembali beralasan.
"Pak Ramil ...! kabur ...!" Teriak Kavil dengan sikapnya yang konyol sambil menarik tangan Pak Ramil untuk mengajaknya lari.
Tidak peduli juga jika yang ditarik tangannya seusia orang tuanya sendiri. Bagi Kavil apa yang harus dilakukannya itu berhasil, pikirnya.
Tidak peduli jika perbuatannya itu salah, masa bodoh bagi Kavil, yang terpenting semua aman terkendali. Semakin menggebu, Kavil sengaja ingin membalas rasa sakit hati kepada kakak iparnya yang sudah berkhianat kepada kakaknya, juga sudah menyakiti hatinya begitu dalam.
"Tuan, Tuan Kavil jangan nekad. Kalau sampai ketahuan suaminya Nona Anggit bagaimana? ini sangat beresiko, Tuan. Ada Tuan Leo yang bisa murka terhadap istrinya, juga kalau balas dendam bagaimana?"
"Pak Ramil tenang aja, penting kita berhasil membuat api cemburu kepasa kak Leo, Pak."
"Tuan Kavil ada-ada aja ini, pokoknya Bapak tidak tahu apa-apa, titik." Ucap Pak Kamil yang tidak ingin mengambil resiko.
__ADS_1
Sedangkan Kavil tidak menanggapinya dan mengajak Pak Ramil untuk mencari tempat lain agar bisa menikmati makan malam bersama.
Anggit yang terpaksa menerima ajakan dari Dion, hanya modal pasrah dengan rencana konyol yang sudah dipersiapkan oleh adiknya maupun Dion sendiri.
"Silakan duduk," ucap Dion sambil menarik kursi untuk Anggit.
"Makasih," jawab Anggit dengan datar dan segera duduk berhadapan dengan Dion.
Saat itu juga alunan musiknya pun berubah menjadi musik yang begitu romantis, tentu saja membuat Anggit merasa risih.
'Ini cowok gak lagi sedang mengerjai ku agar aku bisa melupakan masalahku, 'kan? ya aku tahu sih, Dion dari dulu mempunyai cara aneh dan unik, juga selalu kong kali kong sama Kavil. Sialan kalau memang iya ini ulah mereka berdua, awas saja kamu Kavil dan juga kamu Dion.' Batin Anggit sambil memainkan tisu yang baru saja ia ambil.
"Aku ikut prihatin atas kejadian di rumah kamu yang sedang naik trending itu, semoga masalahmu segera terselesaikan secepatnya. Maaf, bukan niatku untuk ikut campur urusan rumah tanggamu, tidak ada. Aku hanya ingin menghibur mu, tidak ada niat apapun untuk ikut campur." Ucap Dion yang akhirnya membuka obrolan.
"Makasih udah ikut prihatin, dan aku tidak merasa ada yang ikut campur dengan urusan rumah tanggaku." Jawab Anggit sambil mengaduk minuman yang baru saja ia terima dari pelayanan.
"Aku dengar kalau suami kamu dirawat di rumah sakit, kamu gak menemaninya? maaf, jika aku banyak bertanya."
"Aku dilarang Kavil untuk datang sendiri. Jadi, aku harus datang bersamanya, apapun alasannya." Jawab Anggit apa adanya.
"Oh, kirain kenapa." Ucap Dion sambil memperhatikan Anggit, perempuan yang dari dulu ia cintai hingga cintanya tak terbalaskan.
"Kamu sendiri mau sampai kapan akan terus menjomblo? apa kamu gak kesepian?"
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan tetap menjaga perasaan ku untuk seseorang yang tidak akan pernah aku sakiti, juga aku kecewakan." Jawabnya sambil menatap lekat pada Anggit.
"Pasti perempuan itu sangat beruntung mendapatkan cinta yang tulus darimu, aku doakan semoga harapanmu terkabul." Ucap Anggit sambil tersenyum saat menatap Dion.
Sedangkan di rumah sakit, rupanya Leo yang masih menyaksikan live dengan handphone milik orang kepercayaannya, otaknya terasa semakin mendidih. Bahkan, kesabarannya sudah hilang kendali saat matanya tidak lagi sanggup menyaksikan langsung lewat sambungan video lewat anak buahnya.
Dengan tekadnya yang sudah bulat, Leo akhirnya memutuskan untuk menemui istrinya.
__ADS_1