
Leo yang tidak tahu kemana tujuannya, memilih pulang ke rumah. Namun sebelumya Leo membeli sesuatu untuk putrinya, tentu saja agar tidak memasang wajah cemberut di hadapannya.
"Azura ...! Papa pulang." Panggil Leo kepada putrinya dengan suara yang cukup keras.
Azura yang merasa dipanggil namanya, langsung keluar dari kamarnya dan melihat siapa orangnya.
"Papa ...! teriak Azura dengan girang.
Kemudian, Leo langsung menggendong putrinya sambil menunjukkan sebuah boneka untuknya.
"Azura suka?" tanya Leo sambil memegang boneka yang cukup besar seperti ukuran bantal.
Azura melihatnya dengan bahagia saat mendapat kejutan dari ayahnya, meski hanya sebuah boneka.
"Zura sangat menyukainya, terimakasih Papa. Azura sayang Papa, muah." Jawab Azura yang langsung mencium pipi kanan milik Leo dan memeluknya erat.
Setelah itu Leo menurunkan Azura, dan mengajaknya makan malam bersama.
"Ini apa, Pa?"
"Ini untuk makan malam, yuk kita makan dulu. Oh ya, Mama mana?"
"Mama belum pulang, tadi katanya mau beli makanan untuk Zura, Pa." Jawab Azura dengan jujur.
"Pergi?" tanya Leo sambil menatap Azura dengan lekat.
"Aku pulang." Ucap Amora yang baru saja masuk ke rumah.
Leo dan Azura menoleh ke sumber suara. Dengan penasaran, Leo mendekati Amora yang terlihat menenteng sesuatu yang ada di tangan kanannya.
"Kamu dari mana?"
"Aku beli makanan, soalnya Azura belum makan. Jugaan tidak ada yang bisa aku suruh, Pak Rudi katanya gak ada mobil."
Saat itu juga, Leo baru menyadari jika di rumahnya hanya tersisa satu mobil saja. Tentunya tidak bisa lagi memberi perintah kepada pekerjanya.
__ADS_1
"Oh, aku juga sudah beli. Terus, Mbak Yana dan yang lainnya gimana? gak masak?"
"Aku menyuruhnya untuk masak dimakan mereka bertiga, dan aku berniat membelinya di luar. Jadi, aku pergi untuk membeli makanan." Jawab Amora sambil menatap suaminya.
"Oh,"
Leo langsung menggandeng tangan putrinya menuju ruang makan, juga diikuti Amora dari belakang untuk makan malam.
Ketika sudah selesai, Azura diantar ke kamar oleh Mbak Yana, juga sekalian menemaninya tidur. Sedangkan Amora dan Leo masuk ke kamarnya.
Saat keduanya berada di dalam kamar, Leo segera membersihkan diri dan ingin cepat-cepat untuk beristirahat. Namun kenyataannya, Amora menghalanginya.
"Minggir, aku mau tidur. Badanku capek, juga kepalaku pusing. Jadi, minggir. Jangan sampai aku pindah kamar, ngerti." Ucap Leo sambil menyingkirkan tangan istrinya yang hendak menggoda.
Leo yang sama sekali tidak berselera, tetap menolaknya.
"Jangan menggangguku, lebih baik kamu langsung tidur aja." Ucapnya lagi sambil membaringkan badannya di atas tempat tidur.
Amora yang merasa kesal karena sudah diabaikan oleh suaminya, memilih duduk di tepi tempat tidur.
"Mau sampai kapan kita akan seperti ini terus, sayang? bentar lagi Azura mau mendaftar sekolah."
"Ya kamu usaha kek, rayu keluargamu untuk tidak menyita fasilitas, juga pekerjaan kamu. Kalau begini terus, muka aku mau ditaruh dimana?"
"Kamu malu, malu kenapa? apa karena aku tidak punya apa-apa lagi, begitu kah?"
"Ya terus, siapa yang mau antar jemput Azura kalau aku saja tidak memiliki mobil. Mau ditaruh dimana muka aku, sayang? kamu kan pewaris tunggal, kenapa kamu mau maunya menerima keputusan orang tuamu?"
"Oh, kamu butuh mobil. Ok, besok aku akan jual mobilku, dan aku akan belikan kamu mobil yang sederhana, setidaknya kamu tidak kepanasan saat mengantarkan Azura ke sekolah."
"Apa! kamu akan jual mobilmu dan menggantinya dengan dua mobil? apa kamu sudah gila, ada-ada saja ide kamu. Aku gak mau, benar-benar sangat memalukan." Ucap Amora berdecak kesal saat suaminya membuatnya geram.
"Sudahlah, kamu tidak perlu mengatur ku. Aku hanya minta sama kamu untuk bersabar, ok. Kalau keadaan semuanya sudah kondusif, maka aku akan kembali ke keluarga Hambalan. Lebih baik kamu terima saja perintahku, paham." Jawab Leo sambil berpikir keras untuk mendapatkan cara agar dirinya diminta kembali oleh keluarga Hambalan.
Amora yang mendengar keputusan dari suaminya, berdecak kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, selebihnya di sebelah suaminya dan langsung memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.
__ADS_1
Di lain tempat, ada sosok lelaki yang sedang mengatur strategi untuk melakukan rencananya.
"Bagaimana menurut mu, Bos? apa perlu kita lenyapkan Tuan Dorman dan kakek tua bangka itu dari muka bumi ini, agar kita bisa melakukan rencana kita dengan mulus."
"Otakmu benar-benar sangat cemerlang. Setelah keluarga Hambalan hancur, kita akan lanjut pada keluarga Zardian." Ucapnya, dan berakhir dengan tawanya yang lepas sambil membayangkan hancurnya dua keluarga itu.
Entah apa motifnya, sosok lelaki itu benar-benar sangat ingin menghabisi keluarga Hambalan dan keluarga Zardian.
Berbeda lagi di kediaman keluarga Zardian, Kavil tengah sibuk dengan sebuah laptopnya. Juga, dirinya benar-benar tengah memeriksa pesan masuk ke alamat @mail-nya.
Penuh dengan pikirannya yang terasa penat, Kavil membuang napasnya dengan kasar. Berharap, motif kejanggalan atas jebakan dari seseorang kepada kakaknya dan Dion akan segera terungkap.
"Jadi gak sabar untuk mengetahui siapa dalangnya, benar-benar sudah menguras pikiran ku." Gumamnya sambil menatap layar laptopnya.
Sedangkan di keluarga Antara tengah duduk sosok lelaki yang memegang kendali, yakni seorang laki-laki yang baru saja pulang dari suatu tempat, seseorang yang menjadi penerus tunggal secara privasi dalam menjaga nama baiknya sejak dulu di keluarga Antara.
Sebenarnya Tuan Dorman sendiri sudah mengenalinya, namun karena sebuah kesepakatan, tetap merahasiakannya.
Bahkan, Tuan Dorman sendiri berhutang budi kepada keluarga Antara, yang mana semestinya perjodohan itu pada putri dari keluarga Zardian dengan putra dari Antara. Tetapi karena sebuah kecelakaan dan juga tidak ingin putranya menikah dengan perempuan yang salah, juga Tuan Hambalan yang sudah menyelamatkan Anggitinasya yang hampir terbawa arus di pantai, akhirnya menerima permintaannya.
Sedangkan sosok yang gagal menikahi Anggitinasya, terpaksa melepaskannya demi persahabatan orang tuanya.
"Tuan, ini sudah malam, kenapa masih belum juga makan?" tanya seseorang yang menjadi kaki tangannya.
"Saya masih kenyang, Pak. Bawa kembali ke dapur, nanti saya akan makan jika lapar." Jawabnya sambil melihat suasana malam hari dari balkon.
"Apakah Tuan masih belum menyerah?" tanyanya yang sudah begitu dekat pada sosok penerus keluarga Antara.
"Mungkin." Jawabnya singkat.
"Sayang sekali jika Tuan menyerah, padahal rumah tangga Nona Anggit sudah retak."
Ia pun menoleh.
"Jangan memberi kompor padaku, karena aku bisa meledakkannya jika mau." Jawabnya dan menarik napasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Ucap seseorang yang menjadi kaki tangannya.
Sosok lelaki itu mengangguk dan masuk ke kamarnya.