
Kavil yang melihat sang kakak tengah melamun, ia melambaikan tangannya tepat didepan wajahnya.
"Kakak sedang memikirkan apa?" tanya Kavil yang merasa berbeda melihat sang kakak yang tidak seperti yang ia kenal.
Anggit tersenyum tipis pada adiknya.
"Tidak apa-apa, kakak hanya tidak menyangka jika Mama dan Papa akan pergi secepat ini. Kakak benar-benar menyesali karena tidak mau menerima permintaan Mama." Jawab Anggit masih dengan raut wajahnya yang bersedih.
Kavil yang begitu dekat dengan kakaknya, langsung merangkul, bukan memeluk.
"Sama, Kavil juga gak nyangka jika Papa dan Mama akan pergi dengan waktu yang sangat singkat. Begitu juga dengan paman Nugraha, kavil juga tidak menyangkal jika insiden kecelakaan benar-benar sangat kehilangan. Tapi, kita juga tidak bisa melawan takdir. Kita yang kuat ya kak, kita pasti bisa melewatinya. Mama telan berpesan sama Kavil untuk menjaga Kakak, juga membahagiakan Kakak." Ucap Kavil dan menoleh pada kakaknya.
"Kenapa Mama tidak berpesan kepada Kakak, Kav?"
"Mungkin memang tidak ada pesan untuk Kakak, karena Mama tahu, Kakak mempunyai suami yang baik dan bertanggung jawab." Jawab Kavil dengan apa yang ia tahu.
Anggit yang mendengarnya, pun merasa sedih atas ucapan dari adiknya. Kebahagiaan yang mereka lihat, tidaklah sebanding dengan apa yang tengah dirasakan oleh seorang Anggit.
"Kok Kak Anggit diam, benar kan, Kak Leo suami yang baik, setia, dan juga bertanggung jawab?"
Anggit mengangguk, dan tidak mungkin juga jika dirinya harus jujur dalam kondisi tengah berduka.
"Kalau sampai Kak Leo ketahuan menyakiti Kakak, maka taruhannya adalah Kavil akan membalasnya dengan sadis. Tidak peduli jika nyawa harus menjadi taruhan, itu sudah janji Kavil untuk menjaga Kak Anggit, dan tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti Kakak, siapapun orangnya." Ucap Kavil dengan tegas.
Anggit yang mendengar ucapan dari adiknya, langsung menoleh.
"Kamu adiknya Kakak yang bertanggung jawab. Doakan saja, semoga suami Kakak orang yang setia dan benar-benar bertanggungjawab." Jawab Anggit berusaha untuk tetap tenang, bagi Anggit butuh waktu yang tepat untuk berterus terang pada adiknya.
"Sepertinya sydah malam, dan waktunya untuk makan malam. Kak Leo nanti datang kesini lagi kan, Kak?"
"Kakak kurang tahu, soalnya suami Kakak kerjaannya masih padat. Tidak mungkin juga jika Kakak memaksanya untuk datang. Kamu tahu sendiri kan, seperti apa sibuknya kakak ipar kamu itu." Jawab Anggit penuh dengan alasan.
"Ya juga sih Kak, suami Kak Anggit memang super sibuk. Semoga saja masih bisa menyempatkan untuk datang dan menemani Kakak."
__ADS_1
"Ya, nanti Kakak akan menghubungi kakak ipar kamu, tapi sekarang kita makan malam dulu, bagaimana?"
Kavil mengangguk.
Sedangkan di tempat lain, Amora masih kesal dengan suaminya yang terlihat tengah bersiap-siap untuk pergi.
"Kamu beneran mau tidur di rumah mendiang orang tua istrimu?" tanya Amora dengan wajah yang cemberut.
"Ya, Anggit sedang berduka, tidak mungkin juga jika aku tidur bersamamu." Jawab Leo sambil mengenakan jaketnya.
"Terus, aku ini dianggap apa? kamu bilang akan adil, nyatanya mana?"
"Apa kamu itu sudah lupa, ha? aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu, bahwa aku akan memprioritaskan Anggit dan Azura, tapi tidak untukmu. Kalau sampai aku mengabaikan Anggit, maka karirku akan hancur. Jadi, lebih baik kamu itu diam dan nurut denganku, paham." Jawab Leo sambil menatap Amora dengan tatapan serius.
"Ya, tapi tidak untuk besok malam. Waktumu hanya malam ini menemani Anggit, perempuan man_dul." Ucap Amora dengan kesal.
"Jaga ucapan mu, mau bagaimanapun Anggit sudah merawatku ketika aku mengalami kecelakaan hingga aku bisa berjalan seperti sekarang ini." Ucap Leo dengan tegas.
Amora yang teringat saat Leo kecelakaan dan juga dirinya tidak mendapatkan restu, tidak bisa melarang suaminya dengan keputusannya.
Amora yang kesal seolah harus menggantikan posisinya Anggit, dirinya hanya berdecak kesal mendengar suaminya bicara.
Karena harus segera pergi, Leo meninggalkan rumah untuk sementara waktu tinggal bersama istri pertamanya.
Anggit yang tengah menikmati makan malamnya bersama sangat adik, keduanya tidak ada yang berucap selama makan malam.
Kavil yang kebetulan mendengar suara langkah kaki, ia menoleh pada sumber suara.
"Kak Leo, sini Kak makan bareng. Kebetulan kita belum selesai makannya." Panggil Leo pada kakak iparnya yang tengah mendekatinya.
"Kebetulan juga Kakak belum makan," jawab Leo sambil menarik kursi disebelah istrinya.
"Maaf ya sayang, aku datangnya terlambat. Tadi aku istirahat sebentar, habis itu langsung kesini." Ucap Leo pada istrinya, dan mengambil nasi.
__ADS_1
Dengan sigap, Anggit mengambilkannya untuk suaminya dari nasi, sayur, dan juga lauknya. kemudian, tak lupa juga menuangkan air dalam gelas untuk suaminya.
Kavil yang tidak mengetahui bagaimana hubungan pernikahan kakaknya, yang ada dalam pikirannya yaitu baik-baik saja.
Anggit yang tidak mau bicara basa-basi kepada suaminya, ia segera menghabiskan makanannya dan kembali ke kamar. Begitu juga dengan Kavil yang tidak ingin mengganggu kakak iparnya yang tengah ditemani istrinya makan malam, cepat-cepat untuk menghabiskan makanannya.
"Aku sudah selesai makannya, kalau gitu aku tinggal dulu ya Kak." Ucap Leo kepada Anggit dan juga kepada kakak iparnya.
"Ya, silakan." Jawab Leo, sedangkan Anggit menganggukkan kepalanya.
Baru saja keluar dari ruang makan, rupanya Kavil kedatangan tamu yang tidak asing baginya.
"Kak Dion, kirain siapa. Silakan masuk, Kak. Kak Anggit sedang menemani suaminya makan malam, Kak Dion boleh kok bergabung."
"Kakak sudah makan tadi. Maafkan Kak Dion ya, Kav. Kak Dion baru bisa datang, soalnya seharian ini tugas Kakak numpuk di kantor. Juga, malam harus kerja juga. Kakak turut berduka cita atas meninggalnya kedua orang tuamu, juga paman kamu." Ucap Dion.
"Terima kasih banyak ya, Kak. Mungkin ini sudah takdirnya Mama dan Papa untuk pulang selama-lamanya, dan kita tidak mungkin untuk menolak. Oh ya, silakan duduk Kak. Maaf, jika rumahnya masih berantakan dan masih ada acara juga." Jawab Kavil.
"Kakak bisa ngerti, kamu yang sabar ya, semua juga bakal kembali. Hanya saja, kita tinggal menunggu giliran." Ucap Dion.
Sedangkan Leo yang samar-samar mendengar seseorang yang datang, buru-buru untuk menghabiskan makanannya. Setelah itu, ia segera melihat siapa yang datang.
Begitu juga dengan Anggit, sama halnya yang penasaran siapa yang datang ke rumahnya.
"Kamu Dion."
"Tuan, maaf jika saya sudah lancang datang ke rumah mendiang Tuan Tovan. Kedatangan saya kemari hanya mau berbelasungkawa, tidak lebih."
"Ya ya, aku tahu itu. Kamu dan Anggit adalah teman sekolah, juga kamu kenal baik dengan kedua orang tuanya, tentu saja aku tidak melarang kamu untuk datang kemari." Ucap Leo yang seperti ada rasa cemburu saat sekretarisnya datang ke rumah mendiang mertuanya.
"Terimakasih ya, Dion, kamu sudah menyempatkan untuk datang kemari. Oh ya, silakan duduk." Timpal Anggit mempersilakan duduk.
Dion tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona. Tapi maaf, saya harus buru-buru pulang, soalnya malam ini saya harus bekerja. Permisi, Tuan Leo, Nona Anggit, dan Tuan Kavil." Jawab Dion sedikit membungkukkan badan untuk memberi tanda hormat, juga kepada Kavil.
Hanya didepan umum lah, Dion melakukan salam hormat juga dengan panggilan tertentu kepada Kavil. Sedangkan jika hanya bertemu empat mata, Dion dan Kavil layaknya sudah kenal dekat seperti kakak beradik, ataupun saudara.