DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Menceritakan Kebenaran


__ADS_3

Anggit yang penasaran, langsung menarik dagu milik adiknya.


"Maksud kamu tadi itu apa bilang seperti itu?"


Kavil kembali nyengir sambil melepaskan tangan milik kakaknya. Kemudian, Kavil membenarkan posisinya. Tentunya tidak untuk menatap wajah adiknya. Dengan posisi yang serius, Kavil mengatur napasnya agar tidak salah berucap.


"Sebenarnya Kak Anggit itu sudah dijodohkan sama Kak Dion sejak Kakak masih sekolah SMA, tapi kenyataannya gagal karena keluarga Hambalan yang juga meminta untuk menjodohkan Kakak dengan Kak Leo dengan alasan bahwa Tuan Dorman sudah menyelamatkan nyawa Kak Anggit saat terbawa arus ombak. Jadi, mau tidak mau Papa menjodohkan Kak Anggit sama Kak Leo yang waktu itu suami Kakak mengalami cidera. Tapi kenyataannya Kakak menderita setelah menjadi istrinya, kebahagiaan pun tidak Kakak dapatkan, melainkan penderitaan." Jawab Kavil menjelaskan inti pokoknya.


Anggit yang mendengarnya, pun benar-benar tidak menyangka jika Dion pernah dijodohkan dengannya. Nasi telah menjadi bubur, rasa yang sempat ia simpan dan berusaha ia membuangnya, harus teriris perih hatinya.


Lelaki yang pernah ia tolak demi mengejar cita-cita, harus terabaikan. Karena merasa memiliki hutang nyawa, rela menerima perjodohan dengan lelaki yang dianggapnya akan memberi kebahagiaan, tetapi nyatanya pengkhianatan dan penderitaan yang harus diterima.


"Kak Dion sebenarnya mencintai Kakak dari dulu, sejak Kakak masih SMA sampai sekarang ini. Bahkan, Kak Dion rela tidak menikah sampai sekarang, itu semua karena hanya mencintai Kakak seorang. Kak Dion juga pernah bercerita kepadaku, pernah Kakak tolak karena ingin mengejar cita-cita Kakak. Dengan pengertiannya, Kak Dion berusaha untuk bersabar. Tetapi, ketika pulang dari luar negri, ternyata Kak Anggit sudah menikah karena sebuah hutang budi." Sambung Kavil melanjutkan memberi penjelasan kepada sang kakak.


Anggit yang mendengar penjelasan dari sang adik, ingatannya pun kembali di masa-masa sekolah abu-abu yang mana dirinya selalu mendapat perhatian penuh dari Dion. Namun, karena sebuah kelulusan dan juga jarak yang jauh terpisah dan Dion yang mendapat penolakan dari Anggit karena ingin fokus dengan kuliahnya, Anggit menolak cinta dari Dion.


Setelah pulang dari luar negri, rupanya Dion harus menerima kekecewaan dari orang tuanya yang gagal melanjutkan perjodohan bersama perempuan yang dicintainya itu. Dengan nekad, Dion akhirnya melakukan penyamaran agar dirinya bisa bertemu Anggit dengan cara menyerahkan perusahaan milik keluarganya ke tangan Leo dan dirinya menjadi sekretaris di perusahaannya sendiri.


Anggit masih melamun. Kavil yang saat itu menoleh, merasa sedih melihat nasib yang begitu buruk harus diterima oleh kakaknya.


"Kak, Kak Anggit." Panggil Kavil setelah menepuk punggung milik kakaknya.


"Eh ya, apa lagi?"


"Kakak kenapa? lagi mikirin kak Leo?"


Anggit menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Enggak, Kakak hanya kaget aja, jika Dion bagian keluarga Antara, hanya itu aja. Oh ya, Kakak mau ke kamar, Kakak mau mandi." Jawab Anggit yang kini mulai dilema.


"Oh, ya udah gak apa-apa. Nanti malam Kak Dion mengajak kita untuk makan malam di restoran, aku berangkat dulu ke kantor. Hari ini jadwalku tidak padat, nanti akan pulang secepatnya." Ucap Kavil yang merasa mempunyai tanggung jawab besar kepada kakak perempuannya.


"Ya, hati-hati dijalan." Jawab Anggit dengan anggukan.


Setelah pamit untuk berangkat ke kantor, kini tinggallah Anggit sendirian dan hanya ditemani asisten rumah.


Lain lagi dengan Leo, dirinya yang merasa lega sudah memenjarakan Antonio dan menyerahkan Azura dengan bantuan polisi untuk mengantarkannya ke keluarga Zubeg, dengan terpaksa harus berpisah.


Leo yang masih berada dalam kamar, perasaannya mulai tidak tenang. Lebih lagi bayang-bayang istrinya yang sudah ia sakiti, masih terus terlintas dalam ingatannya.


"Leo, kamu belum bangun, Nak?" panggil ibunya saat masuk ke kamar putranya yang tidak terkunci.


"Lagi males, Ma."


"Ayolah turun, kamu belum sarapan. Apa ya, kamu terus-terusan di dalam kamar?"


"Kamu demam? badan kamu panas sekali Nak.


" Gak apa-apa kok, Ma. Mungkin karena semalam kurang tidur aja, nanti juga turun panasnya." Jawab Leo yang tidak ingin membuat ibunya khawatir.


"Tapi ini panas banget, dan kamu harus pergi ke dokter. Ya udah sekarang kamu siap-siap dan pergi ke dokter, Mama akan temani kamu berobat." Ucap ibunya yang khawatir dengan kondisi putranya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Kemudian, Leo diperiksa keadaannya.


"Pasien harus di rawat, Nyonya." Ucap dokter memberi jawaban kepada pasien dan juga ibunya.

__ADS_1


Leo menggelengkan kepalanya saat ibunya menoleh padanya, yakni menolak untuk dirawat di rumah sakit.


"Baik Dok, putra saya akan dirawat di rumah sakit ini. Lakukan yang terbaik untuk putra saya, yang terpenting segera sembuh." Jawab ibunya Leo yang akhirnya memberi keputusan kepada dokter.


Tidak ada cara lain, akhirnya mau tidak mau Leo dirawat di rumah sakit. Saat itu juga, ibunya segera menghubungi menantunya untuk mengabarkan bahwa Leo tengah dirawat di rumah sakit.


"Apa Ma, di rumah sakit?"


Saat itu juga, sambungan telpon diputus. Anggit yang mendapat kabar dari ibu mertuanya, pun bingung. Tidak datang, status istrinya. Datang, sang adik pasti melarangnya.


Anggit yang dilema akhirnya meminta izin kepada adiknya, meski ia tahu bahwa dirinya adalah masih status istrinya. Tetapi keadaan sedang tidak baik-baik saja, tentunya harus dipikirkan kembali.


Tidak lama kemudian, Kavil menerima panggilan telepon darinya. Dengan penuh hati-hati, Anggit mengatakan langsung pokok intinya. Namun kenyataannya sang adik melarangnya jika datangnya hanya seorang diri, dan meminta kepada sang kakak untuk menunggunya pulang.


Anggit yang tidak ingin ada perdebatan, akhirnya menuruti adiknya. Setelah mendapat jawaban dari Kavil, Anggit mengirim sebuah pesan kepada ibu mertuanya jika akan datang bersama adiknya.


Leo yang tengah memperhatikan ibunya yang sibuk dengan ponselnya, ia merasa penasaran.


"Mama sedang apa?" tanya Leo saat ibunya tengah sibuk dengan ponselnya.


"Ini, Mama sedang menghubungi istrimu. Mama minta untuk datang kemari." Jawab ibunya.


"Apa, Mama mengasih tahu Anggit gitu maksudnya?"


ibunya pun mengangguk.


"Hanya dengan cara ini kamu bisa bertemu istrimu, ini kesempatan baik untukmu. Tadi bilangnya sih nunggu Kavil pulang, dan akan kesini bareng Kavil. Mama hanya berharap, kamu dan Anggit tidak bercerai." Jawab ibunya yang masih berharap jika menantunya tidak menceraikan putranya.

__ADS_1


"Tapi Ma, ini terlalu cepat. Biarkan Anggit menenangkan pikirannya dulu, Mama tidak perlu gegabah." Kata Leo yang tidak ingin terlalu buru-buru untuk membujuk istrinya.


"Kalau nunggu nanti, apa kamu siap kehilangan Anggit? kamu tahu, Dion menyukai Anggit dari dulu. Kalau kamu masih santai, jangan harap kamu bisa dapatkan istrimu lagi. Dion bukan lagi sekretaris mu, tetapi dia itu saingan kamu. Tentunya kamu harus mempertahankan pernikahan kamu." Ucap ibunya yang takut akan kehilangan menantunya.


__ADS_2