DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Tidak berdaya


__ADS_3

Dengan sekuat hatinya, Anggit berusaha untuk tetap kuat dan juga tegar saat dirinya harus menerima rasa sakit hati dari suaminya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu menangisi semua. Toh kita sudah impas, kamu dan aku sudah saling menguntungkan. Jadi, jalani saja pernikahan kita ini apa adanya. Itupun kalau kamu tidak ingin keluargamu hancur jatuh miskin, dan adikmu langsung menjadi pengangguran." Ucap Leo yang kini sudah mulai berani menunjukkan siapa dirinya.


Anggit yang mendengarnya, bagai tercekik dan sulit untuk menarik napasnya.


"Aku mau pamit, hari ini aku mau datang ke rumah orang tuaku untuk memperkenalkan Amora dan Azura. Kamu tidak perlu ikut, karena hanya akan membawa masalah saja. Oh ya, tadi aku sudah menghubungi Dion, nanti akan menjemput kamu untuk mengantarkan kamu ke kantor." Sambungnya yang dengan entengnya berpamitan.


Anggit yang mendengarnya, pun susah payah untuk mencernanya, juga menelan ludahnya yang seakan tercekat.


"Satu lagi, jangan kamu mengaku istriku di depan Azura, putri kesayanganku. Ingat, kamu dan aku hanya kakak beradik di depan putriku, paham. Pikirkan baik-baik soal karir adikmu, juga kedua orang tuamu. Awas saja kalau sampai mengadu pada kedua orang tuaku dan kakekku." Ucapnya lagi disertai dengan ancaman.


Anggit yang hanya bisa mendengar tanpa memberontak, hatinya begitu teriris. Pernikahan yang ia anggap baik-baik saja, rupanya hanya dimanfaatkan oleh suaminya sendiri. Lebih lagi tidak bisa memberinya keturunan, semakin hancur akan perasaannya saat ini.


Sakit, sakit sekali rasa yang harus ia tahan. Demi karir adiknya, juga nama baik kedua orang tuanya tidak menjadi buruk, Anggit harus menjadi umpan kebia_daban suaminya sendiri.


Setelah berbicara banyak dan juga sudah memberi sebuah ancaman kepada istrinya, Leo segera bergegas keluar dari kamarnya.


Anggit masih berdiam diri mematung, seolah kedua kakinya tidak mempunyai tulang untuk menjadi penyangga.


Bi Mira yang melihat bahwa majikan laki-lakinya sudah pergi dari rumah bersama istri keduanya, juga putrinya, segera menemui majikan perempuannya. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.


"Nona! Nona!" teriak Bi Mira yang baru saja berada diambang pintu, lantaran pintunya tidak ditutup.


"Nona, Nona Anggit kenapa? Nona sakit? atau, Tuan Leo sudah menghajar Nona."


Anggit menggelengkan kepalanya.


Dengan khawatir, Bi Mira segera memeluk Anggit dengan kondisi yang tidak berdaya, juga dengan air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya.


"Nona, kenapa menjadi seperti ini? katakan pada Bibi, apa yang sudah dilakukan oleh Tuan Leo, Non?" tanya Bi Mira yang juga ikutan meneteskan air mata, lantaran melihat kondisi majikannya yang tak berdaya.


Bahkan, kedekatan Bi Mira sudah dianggapnya pengganti ibunya.


"Bi," panggil Anggit dengan lirih, juga dengan napasnya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Ya, Non, katakan pada Bibi, apa yang Nona butuhkan? Bibi siap lakuin apa saja demi Nona, sekalipun harus mengadu kepada Tuan Zardian."


"Jangan Bi, jangan sampai Papa tahu, juga Mama. Anggit tidak mau karirnya Kavil menjadi hancur, cukup saya yang menjadi imbalannya." Jawab Anggit yang masih berada dalam pelukan Bi Mira.


"Tapi Non, ini tidak adil. Tuan Zardian maupun Tuan Hambalan harus mengetahui kebenarannya."


Anggit menggelengkan kepalanya.


"Bibi tidak perlu mengatakannya pada Keluarga Hambalan, karena hari ini juga mereka berdua akan menghadap pada keluarga Hambalan." Kata Anggit dengan susah payah untuk mengatur pernapasannya.


"Lebih baik sekarang Nona istirahat saja dulu, jangan pergi kemana-mana. Bibi takut terjadi sesuatu pada Nona, dan alangkah baiknya Nona berada di rumah."


"Enggak bisa Bi, justru akan menyakitkan buat saya jika harus berada di rumah ini. Tolong Bi, bantu saya berdiri." Ucap Anggit sambil meminta bantuan pada Bi Mira.


Dengan susah payah, Anggit bangkit dari posisinya dengan dibantu Bi Mira.


"Pelan-pelan, Non." Kata Bi Mira sambil menuntun majikannya duduk di sofa.


"Makasih, Bi." Ucap Anggit saat dirinya sudah duduk di sofa.


"Bentar dulu Non, Bibi mau ambilkan air minum dulu untuk Nona." Ucap Bi Mira dan bergegas mengambilkan air minum untuk majikannya.


"Bibi mah gak merasa direpotkan, juga siap untuk melayani Nona kapanpun. Ini Non, silakan diminum dulu air minumnya." Ucap Bi Mira sambil menyodorkan segelas air minum untuk majikannya.


Anggit pun menerimanya dan meminumnya hingga tandas. Kemudian, Anggit bersandar dan mengatur pernapasannya.


Lain lagi dengan Leo, kini telah sampai di halaman rumah kedua orang tuanya yang cukup megah dan juga besar.


"Sayang, ayo kita turun, kita sudah sampai." Ajak Leo kepada Amora.


"Kita sudah sampai ya, Pa. Wah, besar banget rumahnya kakek. Ternyata yang diomongin Mama benar, Papanya Zura orang kaya. Ye ... sekarang Zura tidak diejek lagi sama teman-teman." Ucap Azura saat kedua matanya mengamati area disekitarnya lewat jendela kaca mobil.


"Ya, sayang. Mulai sekarang Azura tidak lagi diejek oleh teman di sekolahannya Azura, dan keluarga Azura sudah lengkap sekarang. Jadi, jangan nangis lagi ya, sayang." Jawab Amora meyakinkan putrinya.


'Akhirnya putriku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan aku bisa hidup enak dengan Leo.' Batin Amora penuh dengan kemenangan.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang ayo kita turun. Papa mau mengenalkan kamu sama kakek dan Nenek, juga sama kakek buyut." Ajak Leo pada Azura.


"Yee ... asik, Zura masih punya kakek buyut." Jawab Azura dengan penuh kegirangan.


"Tapi ada syaratnya, Azura gak boleh bicara sebelum Papa memberi isyarat, ok." Ucap Leo pada Azura.


"Ok, Pa." Jawab Azura dengan senyumnya yang terlihat bahagia.


Leo maupun Amora saling menatap satu sama lain, dan keduanya sama-sama tersenyum.


Saat sudah turun dari mobil, para penjaga rumah segera menghampiri dan menyambut kedatangan penerus keluarga Hambalan datang ke rumah utama.


Seketika, semuanya sangat dikejutkan ketika melihat putra Hambalan menggandeng seorang wanita dan gadis kecil yang tidak dikenalinya. Juga, merasa heran karena istrinya Leo yang bernama Anggitinasya tidak terlihat barang hidungnya, apalagi bayangannya.


"Tut-Tuan, mereka berdua siapa?" tanya orang kepercayaan keluarga Hambalan.


"Nanti kalian juga bakal tahu sendiri. Minggir, kami mau lewat." Jawab Leo dengan tegas.


"Baik, Tuan, mari silakan masuk." Ucapnya dan memberi tanda hormat dengan membungkukkan badannya saat menerima kehadiran Leo Jantrika Hambalan.


Ketika sudah dipersilakan masuk, Leo masih menggandeng Amora dan Azura.


"Selamat pagi, Pa, Ma, Kakek." Sapa Leo sambil menggandeng tangannya Azura dan Amora.


Seketika, mereka bertiga sangat terkejut saat melihat Leo tengah menggandeng tangan Azura dan Amora.


Lebih lagi dengan ibunya Leo, sangat sangat terkejut melihat perempuan yang sudah pernah ia tolak ketika putranya membawanya ke rumah utama.


Saat itu juga, ibunya langsung bangkit dari posisi duduknya, juga sang ayah maupun kakek Hambalan.


"Kok kalian bengong? seharusnya menyambut kedatangan kami."


"Anggit mana? dan apa maksudnya kamu membawa perempuan itu ke rumah ini, Leo?" tanya ibunya yang penasaran, sedangkan sang ayah maupun kakeknya memilih untuk diam dulu.


"Anggit sedang sibuk dengan urusannya di kantor, dan dia tidak bisa ikut, katanya pekerjaannya sangat padat." Jawab Leo yang kini sudah melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Duduk lah, tidak baik membicarakan sesuatu dengan berdiri. Silakan duduk." Ucap kakek Hambalan yang akhirnya angkat bicara.


Leo menganggukkan kepalanya, dan mengajak Amora dan Azura untuk duduk.


__ADS_2