
Waktu pun telah dilewatinya, semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Namun berbeda dengan Leo, kini keadaannya masih saja seperti kemarin kemarin yang seperti kehilangan semangat hidupnya. Bahkan, untuk mengurus dirinya sendiri saja seolah enggan dan hanya duduk merenung sendirian di taman belakang.
Ibunya yang melihat segera ikut duduk dan menemaninya.
"Ini, ada surat dari pengadilan." Ucap ibunya sambil menyodorkan amplop besar.
Leo langsung menoleh pada ibunya, dan menerimanya. Kemudian, ia langsung melihatnya dengan jelas.
"Istrimu benar-benar menceraikan kamu." Maafkan Mama dan Papa yang tidak membantumu untuk menyatukan kembali bersama Anggit." Sambungnya lagi, namun tak kuasa menatap wajah putranya yang tidak terawat.
Leo yang mendengarnya, pun menatap lurus ke depan. Sejenak terdiam dan seperti tengah memikirkan sesuatu.
Saat itu juga, Leo langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Leo! kamu kemana?" teriak ibunya memanggil dengan penuh perasaan khawatir.
"Ke rumah Anggit, Ma." Jawab Leo sambil lari dan pergi dari rumah.
Dengan terburu-buru, Leo langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi ke garasi mobil.
"Tuan! Tuan Leo! Tuan mau kemana?"
Pak Rudi yang melihat majikannya terburu-buru dan takut terjadi sesuatu padanya, langsung menggedor gedor jendela kaca mobil agar mendapat respon dari majikannya.
Leo yang tidak peduli dengan siapapun yang mencoba untuk menghalanginya, ia tetap melajukan mobilnya hingga meninggalkan rumah yang besar dan mewah itu.
Ibunya yang baru saja sampai di garasi mobil, terlambat sudah untuk mengejar putranya yang sudah pergi lebih dulu.
"Mau kemana katanya, Pak? tolong kejar Leo ya Pak, saya mohon. Saya takut terjadi apa-apa padanya, cepat susul dia."
Dengan perasaan panik dan juga cemas, ibunya Leo segera menghubungi suaminya agar secepatnya pulang ke rumah dan menyusul putranya yang tengah dikuasai emosinya kini menuju rumah kediaman keluarga Zardian untuk menemui istrinya.
Dengan kecepatan tinggi, Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tingg. Juga, dirinya sama sekali tidak peduli jika harus melawan arus jalan sekalipun. Tidak peduli juga jika sudah melakukan pelanggaran, yang terpenting tujuannya dapat di penuhi.
__ADS_1
Sampainya di depan pintu gerbang, Leo menggedor dengan sangat kuat. Juga, dengan suaranya yang begitu kencang, memanggil nama istrinya begitu melengking hingga terasa panas untuk didengarkannya.
"Pak! tolong buka pintu gerbangnya. Saya suaminya Anggitinasya, cepat! buka pintunya." Bentak Leo dengan suaranya yang begitu keras dan juga berisik.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa. Tuan Kavil sudah berpesan untuk tidak menerima tamu, Nona sedang istirahat dan juga dilarang bertemu dengan siapapun. Lebih baik Tuan Leo segera pulang, sebelum Tuan Kavil menjadi murka." Jawab satpam rumah.
"Perse_tan! dengan kalian. Cepat! buka pintu gerbangnya. Apa perlu aku ambilkan sesuatu untuk membuka pintunya." Umpat Leo dengan lantang, dan juga tak lupa mengancam satpam.
Saat itu juga, pintu gerbang telah dibuka.
"Silakan masuk." Ucap Kavil dengan ekspresinya yang datar.
"Dimana istriku?" tanya Leo yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakak perempuannya Kavil.
"Ada di dalam, Kak Leo ada perlu apa mencarinya? bukankah surat dari pengadilan sudah datang hari ini juga?"
"Perse_tan! dengan suara perceraian. Minggir! jangan menghalangiku untuk bertemu dengan istriku, cepetan minggir."
"Anggit! Anggit! aku datang, sayang." Teriak Leo memanggil nama istrinya sambil menuju kamarnya.
Naas, baru saja mau menginjak di anak tangga yang paling akhir, rupanya Anggit sudah berdiri di hadapannya yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
Tanpa pikir panjang, langsung memeluknya dengan erat.
"Lepaskan! jangan sentuh aku." Ucap Anggit dengan suara yang meninggi.
Dengan terpaksa, Leo melepaskan pelukannya dan menatap wajah Anggit begitu lekat.
Tidak dapat dipungkiri, sebenci apapun kepada seseorang, Anggit tetap tidak bisa berbuat kasar.
"Apakah ada yang salah dengan surat dari pengadilan?" tanya Anggit yang langsung membicarakan pada pokok intinya.
"Surat dari pengadilan semuanya salah, tidak ada kalimat yang benar."
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu, seharusnya tidak ada yang salah satu kalimat pun."
"Sayang, aku mohon tarik kembali pengajuan kamu soal gugatan perceraian. Sayang, kita bisa rujuk kembali hubungan kita. Aku janji, aku tidak akan menyakiti kamu. Sayang, aku tidak ingin ada yang merebut kamu dariku." Ucap Leo yang langsung bersujud di kaki istrinya.
Anggit yang merasa risih atas sikap suaminya yang menurutnya sangat berlebihan, ia segera menyingkirkan tangan suaminya agar dirinya bisa terhindar dari hal demikian.
"Lepaskan tanganmu, aku tidak akan mengubah keputusanku. Jadi, lebih baik kamu segera tanda tangani surat itu. Setelah kita tidak lagi mempunyai hubungan yang terikat dalam pernikahan, kamu akan mempunyai kebebasan untuk mempunyai wanita pilihan yang sempurna dan dapat memberimu keturunan."
Susah payah Anggit menyingkirkan tangan suaminya, namun akhirnya dapat melepaskannya. Setelah itu, Leo segera berdiri dan menatap wajah Anggit dengan lekat.
"Aku sudah tidak lagi butuh keturunan, yang aku butuhkan hanya kamu seorang. Sayang, aku sangat menyesalinya, juga aku tidak akan mengulanginya lagi."
Anggit menggelengkan kepalanya, yakni sudah bulat dengan keputusan yang ia ambil.
Leo yang tetap mendapat penolakan dari Anggit, seolah dunianya gelap dan seperti langit yang akan runtuh.
"Apakah kamu sudah pikirkan baik-baik atas perceraian kita ini, sayang?" tanya Leo yang merasa kurang puas dengan jawaban dari istrinya.
"Aku sudah memikirkan matang-matang, juga tidak akan goyah keputusan aku ini dari awal kamu membawa Amora kedalam rumah tangga kita. Jadi, kamu tidak perlu berprasangka buruk kepada siapapun, termasuk adikku sendiri. Aku mohon dengan sangat, terimalah keputusan aku ini." Jawab Anggit sambil mengatupkan kedua tangannya.
Leo yang mendengarnya, pun menundukkan pandangannya. Tidak kuasa baginya harus menerima kenyataan pahit untuk berpisah dengan sebuah perceraian.
Leo kembali mendongak dan menatap wajah istrinya begitu lekat.
"Aku gagal, maafkan aku yang sudah memberimu luka. Aku hanya berharap, kamu akan menerimaku lagi. Tapi, keputusan kamu sudah bulat, dan sepertinya aku tidak lagi diharapkan olehmu." Ucap Leo penuh kecewa dan penyesalan yang begitu dalam.
Kesalahan yang hanya memikirkan dirinya saja, sampai-sampai lupa dengan rumah tangganya sendiri demi kesenangan sesaat yang rupanya hanya mempermainkan dirinya dengan alasan membalaskan dendam.
Leo yang tidak tahu harus bagaimana lagi dan sudah gagal untuk membujuk istrinya agar tidak menggugat cerai, namun kenyataannya sangat berbeda jauh.
"Aku sudah memaafkan kamu. Juga, aku doakan, semoga kamu temukan wanita yang lebih baik dariku dan mau menerimamu apa adanya. Juga untukmu, setia lah hanya untuk satu orang, maka rasa cintamu akan bertambah banyak dari pasangan kamu. Maafkan aku yang tidak bisa memberi jawaban yang baik untukmu." Jawab Anggit dengan keputusan yang ia ambil untuk tidak kembali lagi bersama suaminya.
Setelah bercerai, gimana nasibnya Leo ya? terus, gimana dengan perasaannya bang Dion ya?
__ADS_1