DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Dipermalukan


__ADS_3

Teman yang lainnya pun juga ikut cemas saat Anggit belum juga kembali.


"Ya ya, kok belum muncul juga ya si Anggit." Timpal Eli yang sama halnya ikut cemas.


"Mungkin aja ikut gabung sama yang lainnya, udah deh positif thinking aja kitanya. Yuk ah, di habiskan minumannya." Ucap Laya ikut komentar.


Sedangkan di tempat lain, Leo tengah asik menikmati makan malam bersama rekan kerja ayahnya sambil banyak berbagi cerita mengenai pekerjaan.


"Tuan Leo benar-benar orang yang pekerja keras, saya sangat kagum pada Tuan."


"Tuan Arkan bisa saja, saya hanya meneruskan tugas Papa. Soal hasil, sepertinya masih kalah jauh dengan Tuan Arkan." Jawab Leo sambil mengunyah makanan.


Keduanya begitu asik saat berbagi cerita dengan obrolan-obrolan yang dapat memberi semangat untuk sukses.


Selang beberapa menit, Leo dikagetkan dengan suara getaran pada ponselnya, yakni menunjukkan ada pesan masuk ke nomornya.


"Maaf Tuan, saya mau membuka pesan masuk." Ucap Leo meminta izin, mau bagaimanapun dirinya harus bersikap santun kepada yang lebih tua.


'Nomor baru, nomor siapa ini?' batinnya bertanya-tanya.


Karena tidak mau kelamaan, Leo langsung menggeser kunci layar ponselnya.


Leo yang penasaran dengan nomor tersebut, sudah tidak sabar untu melihat pesan masuk.


Alangkah terkejutnya saat melihat istrinya tengah berada dalam kamar hotel dengan lelaki lain, otaknya mendadak terasa mendidih, dan napasnya juga terasa panas.


Apa yang ia lihat, benar-benar tengah membuat tensinya naik. Kedua tangannya pun mengepal kuat, juga rahangnya yang semakin keras. Leo yang tidak mau kehilangan waktu yang sangat penting, langsung menyudahi pertemuan dengan Tuan Arkan.


Tuan Arkan yang melihat ekspresi Leo yang seperti tengah dibuat emosi, merasa heran karena awalnya baik-baik saja.


"Tuan Leo kenapa? maaf, saya sudah lancang bertanya."


"Maaf, sepertinya saya harus pamit pergi. Saya ada urusan yang lebih penting, saya undur diri." Jawab Leo yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya.


"Baik, Tuan, silakan." Ucap Tuan Arkan dengan anggukan.

__ADS_1


Leo yang terburu-buru dan takut kehilangan kesempatan untuk mendobrak kamar hotel, secepatnya segera menuju hotel.


Sedangkan Anggit dan Dion sudah masuk dalam perangkap seseorang, entah siapa yang menjadi pelakunya.


Anggit yang sudah dipengaruhi oleh obat, juga Dion yang sama halnya seperti Anggit, keduanya benar-benar tidak sadarkan diri. Bahkan dengan beraninya, pelaku tengah menanggalkan pakaiannya masing-masing dan hanya terbalut selimut tebal.


Leo yang sudah hilang kendali dan emosinya sudah memuncak ke ubun-ubun, sudah tidak sabar untuk menyaksikan langsung di dalam kamar hotel.


Suasana di hotel masih terlihat ramai, meski ada sebagian alumni abu-abu sudah ada yang pulang lebih dulu. Bahkan, ada juga yang masih menikmati kebersamaan bersama teman-teman yang lainnya.


Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Leo berjalan cukup gesit. Semua yang melihat kehadiran Leo, semua tengah bertanya-tanya lantaran Leo datang tidak lah sendirian, melainkan dengan beberapa anak buahnya.


Eli, Laya, Leira, maupun yang lainnya masih menikmati kebersamaan, lantaran tidak begitu mencurigai kemana perginya Anggit.


Namun, tiba-tiba suasana mendadak berubah menjadi tegang saat melihat Leo datang. Tidak ada yang tidak mengenali Leo, lelaki yang mendapat julukan pesonanya, namun sebagian tidak begitu tahu jika Leo adalah suaminya Anggit.


"Kalian buka kamar nomor dua puluh, cepat! bila perlu kalian dobrak kamar itu." Perintah Leo sambil berjalan dengan gesit, tidak peduli jika harus mengganti rugi dengan kerusakan pintu kamar hotel. Bagi Leo emosinya dan dilupakan, meski dengan istrinya sendiri.


Dengan berdiri tegak, dan kedua tangannya yang berada dalam saku celananya, siap melihat apa yang ada di dalam kamar hotel tersebut.


Karena sudah mendapat izin dan juga akan mengganti kerugian lima kali lipat, Leo tidak merasa keberatan


Dengan sekali mendobrak, akhirnya pintu kamar hotel terbuka dengan lebar.


Anggit dan Dion yang sudah tidak lagi terpengaruh oleh obat, terperanjat saat tersadar dari ingatannya.


Seketika, Dion maupun Anggit menelan ludahnya kasar dengan susah payah. Lebih lagi bagai tertangkap basah. Anggit melotot saat yang masuk ke kamar hotel adalah suaminya sendiri.


"Seret! mereka berdua, dan buang jauh jauh sampah yang menjijikkan itu." Perintah Leo dengan suaranya yang lantang.


"Tuan, ini semua tidak seperti yang Tuan pikirkan. Saya dan Nona Anggit telah dijebak." Ucap Dion membela diri.


"Tidak! jangan! ini jebakan, aku tidak melakukan perbuatan jijik ini." Bentak Anggit yang tengah membela diri.


Leo yang sudah hilang kesabaran, langsung menyeret istrinya yang dibalut dengan selimut tebal, sedangkan Dion masih sempat untuk mengenakan celana panjangnya, tetapi tidak untuk bajunya.

__ADS_1


Dengan emosinya yang sudah meluap, Anggit masih terus diseret dan disaksikan oleh banyaknya teman-teman sekolahnya yang belum pulang. Begitu juga dengan Dion, sama halnya diperlukan kasar oleh beberapa anak buahnya Leo.


Aldo yang melihat Dion, tidak bisa berbuat apa-apa, karena menyangkut masalah rumah tangga orang lain, semua temannya hanya bisa melihatnya dengan rasa kasihan.


Aldo yang kebetulan mengenal Kavil, langsung menghubungi dan memberi tahu keadaan Anggit yang sebenarnya.


Anggit yang sudah dipermalukan di depan umum, betapa malunya saat dirinya menjadi tuduhan perempuan yang tidak benar.


"Masuk!" Bentak Leo yang langsung mendorong tubuh istrinya kedalam mobil hingga terbentur jendela kaca mobil.


"Aw!" pekik Anggit sambil meringis kesakitan.


Sedangkan Dion berada dalam mobil yang satunya lagi. Tentunya mendapat perlakuan kasar hingga kedua sudut bibirnya memar.


Anggit yang hanya dibalut selimut, dirinya merasa ketakutan jika sang suami melakukan kekerasan pada dirinya.


Leo yang tengah menatap tajam pada istrinya, tangannya meraih dagu dan menekan kuat pada bagian rahangnya.


"Kau tidak lain adalah barang yang sangat menjijikkan." Ucap Leo sambil menekan kuat rahang istrinya.


Anggit masih dengan napasnya yang tersengal lantaran yang ditarik paksa oleh suaminya.


"Kau harus menebus kesalahan kamu, setelah itu kau akan aku dijadikan gelandangan bersama adikmu." Ucap Leo yang tidak lupa dengan ancamannya.


Leo yang sudah hilang kendali, tidak sabar untuk menunjukkannya di depan keluarganya.


Saat sudah sampai di rumah utama milik kakek Hambalan, Leo kembali menarik paksa istrinya yang hanya dengan selimut tebal.


Begitu juga dengan Dion, sama seperti Anggit yang dibawa ke rumah utama.


Dengan tubuhnya yang sudah dibuat memar oleh orang suruhan Leo, kini juga ditarik paksa untuk menghadap keluarga Hambalan.


"Cepat kau panggilkan kedua orang tuaku sekarang juga, sekalian pemilik rumah ini." Perintah Leo dengan suaranya yang cukup lantang.


"Baik, Tuan." Jawabnya dan bergegas untuk memanggil kedua orang tuanya Leo beserta kakek Hambalan.

__ADS_1


Kedua orang tuanya Leo dan kakeknya yang dipanggil oleh asisten rumah, segera keluar rumah untuk melihat ada apa.


Alangkah terkejutnya saat melihat menantunya yang hanya mengenakan selimut tebal, dan lebih lagi dengan sosok Dion yang sudah babak belur.


__ADS_2