DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Keputusan


__ADS_3

Di restoran, Anggit dan Dion tengah menikmati makan malamnya hanya berdua saja. Sedangkan Kavil dan Pak Ramil memilih tempat yang lain untuk mengisi perutnya yang kosong, yakni agar tidak menganggu makan malam dua insan yang sengaja dipertemukan.


"Gimana rasanya, apakah kamu menyukai makanan yang ada di restoran ini?" tanya Dion untuk basa-basi saat mengunyah makanan.


Anggit mengangguk sambil menikmatinya, kemudian ia langsung mendongak dan menatap wajah Dion.


"Enak kok, aku menyukai semua makanan, asalkan itu baik untukku makan." Jawab Anggit sambil mengunyah.


"Kirain udah gak kek dulu, secara ...."


"Secara apa?"


"Enggak apa-apa, habiskan dulu makanannya, baru kita lanjutin ngobrolnya."


Anggit sama sekali tidak menjawab dan segera menghabiskan makanannya.


BRAK!


Dengan kuat, seorang laki-laki tengah menggebrak meja hingga semuanya berantakan.


Saat itu juga, Dion dan Anggit langsung mendongak ke arah sebelahnya masing-masing.


Alangkah terkejutnya saat melihat siapa yang ada didekatnya itu.


Dengan sorot matanya yang tajam dan dengan rahangnya yang mengeras, juga kedua tangannya sudah mengepal kuat yang siap untuk dilayangkan, rupanya Leo orangnya.


Dengan cepat, Leo langsung menyambar tangan milik istrinya dan menariknya.


"Kamu ini istri macam apa, bisa-bisanya makan di luar bersama lelaki lain, ha!" bentak Leo yang sudah terbakar api cemburu, juga emosinya yang sudah meluap.


"Juga kamu, jangan seenaknya saja kamu membawanya keluar tanpa seizin ku. Anggit masih istri sah ku, dan kami berdua belum bercerai. Sekarang juga, cepat kamu pergi dari hadapanku."


Dion justru menyeringai, seolah senyumnya itu benar-benar mengejek Leo yang pernah menjadi bosnya.


"Apa aku gak salah dengar apa yang kamu ucapkan barusan? bukankah istrimu ini sudah kamu selingkuhi? juga, kamu sudah merendahkannya hanya karena tidak bisa memberimu keturunan. Sekarang kenapa kamu tiba-tiba begitu peduli dengannya? apa karena kamu baru menyadari jika kamu telah dibohongi oleh istri kedua mu?"

__ADS_1


Dengan berani, Dion ikut bicara, serta memojokkannya.


"Sudah! cukup!" bentak Anggit yang merasa risih ketika ada laki-laki yang tengah berdebat.


"Ada apa ini?" tanya Kavil yang baru saja datang untuk melerai perdebatan antara Dion dan kakak iparnya.


Leo langsung menoleh ke arah Kavil.


"Apa ini sebagian rencana kamu dengan Dion?" tanya Leo sambil menatap tajam pada adik iparnya.


Kavil yang mendapat pertanyaan dari Leo, mencoba melirik ke arah Dion untuk meminta pendapat.


"Ya! ini semua memang sepenuhnya rencana aku sendiri, karena aku tidak akan mengizinkan kakakku kembali bersama lelaki yang sudah menjadi pengkhianat dan menyakiti hatinya." Jawab Kavil dengan tegas.


Leo yang mendengar jawaban dari adik iparnya, cukup geram dan juga kesal.


"Ayo kita pulang, kamu masih istri sah ku." Ajak Leo sambil menarik paksa pada istrinya, lantaran rasa cemburunya lebih besar dari apapun dan apa yang diinginkannya harus terpenuhi.


"Aku gak bisa." Jawab Anggit menolak.


"Kita selesaikan baik-baik di rumah, bukan dalam keadaan seperti ini." Ujar Leo membujuk.


Leo yang tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh Kavil dan Dion, meminta izin untuk bicara hanya empat mata.


"Aku minta sama kalian untuk menyingkir, biarkan aku bicara dengan istriku." Ucap Leo dengan mengatupkan kedua tangannya.


Dion yang mendapat permohonan dari Leo, pun mengangguk tanda mengiyakan.


"Silakan, aku tidak akan melarangnya."


"Kak Dion, jangan." Timpal Kavil mencoba untuk melarang Dion memberi kesempatan kepada Leo untuk bicara dengan kakaknya.


"Sudahlah, ayo ke sana. Biarkan mereka mengobrol, kita jangan mengganggunya. Leo kakak ipar kamu, Anggit kakak kamu sendiri. Jadi, jangan mengganggu mereka berdua yang menyelesaikan masalahnya, ayo ikut aku." Sahut Dion yang langsung menarik kerah baju miliknya Kavil.


Mau tidak mau, akhirnya Kavil menurutinya.

__ADS_1


Setelah mendapat kesempatan untuk bicara dengan istrinya, Leo sedikit lega. Kemudian, Leo mengajak istrinya bicara empat mata.


"Sayang, maafkan aku yang sudah membuat onar tadi. Aku melakukannya juga karena Dion yang sudah memancing amarahku. Suami mana yang tidak cemburu ketika melihat istrinya berjalan berdua, dan makan berdua dengan lelaki lain." Ucap Leo dan mengatur napasnya.


"Terus?" tanya Anggit sambil menatap wajah suaminya yang terlihat pucat.


"Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan yang besar padamu, aku tahu itu. Aku mohon sama kamu untuk memaafkan aku, dan kita kembali lagi seperti dulu. Aku siap menerima hukuman darimu, asal kita tidak bercerai." Sambung Leo penuh memohon kepada istrinya.


Leo yang takut akan kehilangan istrinya, langsung meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.


"Maaf, aku gak bisa. Juga, kamu sudah mengecewakan aku, dan rasa sakit hatiku ini terlalu banyak kamu menggoreskan luka padaku." Jawab Anggit sambil menunduk, tak kuasa untuk menatap laki-laki yang pernah ia cintai dan dipercaya atas kesetiannya.


Sakit hati dan penuh kekecewaan itu sudah pasti, lebih lagi berselingkuh, sungguh luka yang sangat menyakitkan harus berbagi suami dengan wanita lain.


"Sayang, aku mohon sama kamu untuk kembali mengarungi rumah tangga seperti dulu lagi bersamaku. Aku berjanji untuk tidak menyakitimu lagi, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya.


Anggit menggelengkan kepalanya, keputusannya untuk berpisah dengan suaminya sudah menjadi pilihannya.


Leo yang mendapat penolakan dari istrinya, tetap terus memohon agar sang istri mau menerimanya.


"Aku harus pulang, maaf jika aku tidak bisa pulang bersama mu." Ucap Anggit berpamitan, dan juga yang tetap dengan keputusannya.


Leo yang terasa berat melepaskan tangan istrinya, terpaksa harus merelakannya untuk pulang ke rumah mendiang orang tuanya. Berat rasanya untuk melepaskan, tapi datanya yang tidak bisa memaksakan kehendak istrinya.


Semakin jauh jarak pandangannya, bayangan istrinya pun mulai tidak terlihat.


"Kamu ini gimana sih, seharusnya kamu itu kejar istrimu. Apa kamu gak takut kehilangan istrimu? ingat loh, kesempatan datang hanya sekali. Kalau kamu menyerah begitu saja, siap-siap saja kamu akan menyesal karena tidak mau memperjuangkan istrimu." Ucap ibunya yang rupanya sudah berada di dekat putranya.


Anggit yang sudah meninggalkan suaminya dengan keadaan fisiknya yang terlihat sedang sakit, tidak mempunyai pilihan lain selain harus meninggalkannya.


"Sudah?" tanya Dion.


Anggit mengangguk tanpa mendongak dan juga bicara.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang. Sepertinya percuma juga jika kita masih berada di sini, suasana hatimu pasti sedang tidak karuan. Aku akan mengantarkan kamu pulang." Ucap Dion sambil memperhatikan Anggit yang tengah menunduk.

__ADS_1


"Yang dikatakan Kak Dion, lebih baik kita pulang aja ya Kak. Maafkan aku juga sih, gara-gara ulahku, Kakak menjadi berantem dengan Kak Leo."


"Gak ada kaitannya dengan kamu, jugaan tadi hanya membahas masalah yang kemarin itu. Ya udah ayo kita pulang, Kakak mau istirahat." Jawab Anggit dan langsung jalan duluan, dan diikuti Dion bersama Kavil.


__ADS_2