
Tidak ingin sang kakak jatuh sakit, Kavil berusaha untuk menenangkan pikiran kakaknya dan memberi tempat ternyaman.
Penyesalan tetaplah menjadi penyesalan. Siapa orangnya yang mau menerima kenyataan pahit, jika takdir memang berkata lain. Sejauh mana untuk bersiap siaga, namun kenyataan telah kecolongan.
Mengatakan untuk menjadi penasehat itu sangatlah mudah, tapi bagaimana dengan yang lalai, yakni tidak memungkinkan semua akan baik-baik saja. Kavil yang menganggap semua tidak ada masalah pada diri kakaknya, namun kenyataannya tidak seperti yang ia lihat dan juga ia sangkakan.
"Kita sarapan dulu yuk, Kak. Hari ini aku libur kerja untuk menemani Kakak jalan-jalan, bagaimana? Kak Anggit pasti butuh hiburan agar tidak jenuh didalam rumah, juga biar Kakak tidak bertambah suntuk, gimana? mau ya Kak?" tawar Kavil berusaha membujuk kakaknya dengan segala rayuannya agar mau menerima ajakannya.
Anggit mengangguk, merasa sangat beruntung mempunyai saudara yang begitu perhatian seperti mendiang ayahnya.
Kakak beradik yang begitu saling melindungi satu sama lain, meski bisa dikatakan terlambat, tetapi masih ada kesempatan untuk melindungi.
Anggit yang tidak mau membuat adiknya terus merayu dan membujuk dirinya, segera ke ruang makan. Kemudian, keduanya sama-sama menikmati sarapan paginya dengan segelas susu kedelai dan roti bakar.
Kavil yang dapat membawa kakak perempuannya pulang, sedikit lega lantaran nasib kakaknya terancam.
Lain lagi dengan Leo, rupanya merasa jenuh ketika hanya ditemani Azura dan Amora. Bahkan, perasaannya mulai terasa gundah dan seperti kosong. Tidak hanya itu saja, saat berada di dekat Amora maupun Azura seakan biasa-biasa saja. Justru seperti tidak mempunyai magnet dengan Amora maupun Azura.
Leo yang terlihat tidak bersemangat, ingatannya kembali dengan kenangan kenangan bersama istrinya sebelum dipertemukan lagi dengan Amora.
Ingatan saat dirinya diterima dengan segala kekurangannya, hatinya mendadak teriris.
"Sayang, kamu mikirin apaan sih? perasaan dari tadi aku lihat, kamu tuh ngelamun terus. Jangan bilang kalau kamu merindukan istrimu yang man_dul itu, ya kan?"
Leo yang otaknya masih terasa membeku, tiba-tiba mendadak menjadi mendidih dan terasa panas. Seketika, Leo langsung menoleh.
"Jaga bicara mu, aku sedang tidak ingin ngapa ngapain. Lebih baik kamu perhatikan Azura, aku mau istirahat di kamar, jangan menggangguku." Jawab Leo yang langsung bergegas masuk ke rumah.
Amora yang sebenarnya ingin membentak dan meluapkan emosinya, dirinya sedikitpun tidak mampu untuk melakukannya, lantaran ada putrinya yang sama sekali tidak tahu seburuk apa orang tuanya.
'Jangan bilang kamu merindukan perempuan man_dul itu. Awas saja kalau sampai aku gagal dapatin kamu, aku pastikan akan melenyapkan istri pertama mu.' Batinnya dengan dipenuhi kebencian.
Leo yang benar-benar merasa penat di bagian keningnya, ia merasa pusing dan frustrasi. Sedangkan Anggit tengah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama adik laki-laki satu-satunya.
__ADS_1
Dua bersaudara, keduanya saling memberi perhatian layaknya kakak-beradik.
"Kak, gimana, sudah siap? pastikan tidak ada yang ketinggalan. Nanti pulangnya kita pergi ke makam Mama sama makam Papa, ya Kak, gimana? Kakak mau kan?"
Anggit menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja Kakak sama sekali tidak menolak, Kakak nurut saja sama kamu, Kav." Jawab Anggit yang sudah siap untuk pergi entah kemana sang adik mau mengajaknya.
"Ya udah kalau gitu kita langsung berangkat, lupakan masalah Kakak sejenak, agar Kakak tidak melulu memikirkan masalah yang dapat mengganggu kesehatan Kakak." Ucap Kavil untuk pergi menikmati suasana di luar.
Berbeda dengan Amora, dirinya dibuat kesal oleh suaminya. Bukannya menikmati kebersamaan sesuai yang diharapkan bersama suami dan putrinya, namun kenyataannya lain dari apa yang dibayangkan sejauh jauh hari saat merebut suami orang.
Amora yang diacuhkan oleh suaminya, hanya bagai asisten rumah, sama seperti istrinya kemarin-kemarin. Ditambah lagi akan ada pengurangan asisten rumah, pastinya akan berbuntut sial pada dirinya.
'Aku harus melakukan sesuatu biar aku tidak sial seperti ini.' Batin Amora sambil menemani putrinya bermain, lantaran asisten rumah yang tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Leo yang sudah memutuskan untuk mengurangi asisten rumah, segera keluar dari kamar. Takutnya tidak bisa membayar pekerja di rumahnya.
"Pagi, panggil semua yang bekerja di rumah ini. Ditunggu di ruang belakang, cepat." Jawab Leo dan memberi perintah.
"Baik, Tuan." Jawabnya dan bergegas memanggil semua asisten rumah, mau laki-laki ataupun perempuan.
"Bi Mira,"
"Yana, ada apa?" sahut Bi Mira dan bertanya.
"Di suruh Tuan Leo untuk kumpul di ruang belakang. Tolong ya Bi, bantu sampaikan ke yang lain." Jawabnya dan bergegas memanggil yang lainnya.
Setelah semuanya berkumpul dan tidak ada lagi yang ketinggalan, semua tengah berbisik membicarakan apa maksudnya mengumpulkan semua asisten rumah. Kemudian, Leo bergegas masuk ke ruangan tersebut.
"Sudah kumpul semuanya?" tanya Leo sambil berdiri dengan tegas.
"Sudah, Tuan." Jawab Yana mewakili.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang juga akan saya sampaikan pada kalian. Mulai besok diantara kalian harus angkat kaki dari rumah ini, karena saya sudah tidak lagi bisa menggaji kalian dengan gaji yang besar. Saya hanya akan menyisakan tiga asisten rumah, sedangkan yang lain boleh pergi dari rumah ini." Ucap Leo dengan tegas.
Semua yang mendengar keputusan dari bosnya tidak ada satupun yang angkat bicara, termasuk Bi Mira sekalipun yang lebih dekat dengan istri bosnya. Meski sangat keberatan harus meninggalkan rumah yang sudah membuatnya nyaman untuk bekerja, namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika majikannya memberi keputusan.
"Bi Mira, apakah Bibi masih bersedia untuk bekerja di rumah ini?" tanya Leo kepada asisten kepercayaan keluarga istri pertamanya.
"Maaf Tuan, Bibi mau pulang ke kampung." Jawab Bi Mira yang akhirnya mengambil keputusan untuk angkat kaki dari rumah majikannya.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa Bibi untuk tetap bekerja di rumah ini." Ucap Leo.
Kemudian, Leo bertanya pada asisten yang lain satu persatu dan diminta hanya tiga asisten rumah untuk bertahan di rumahnya.
Setelah memberi keputusan kepada semua Asisten rumahnya, yang hendak pulang segera bersiap-siap.
Bi Mira yang sudah bertekad untuk pulang, tengah menyiapkan barang-barangnya mau dibawa ke kampung halamannya.
"Yana, kamu yakin akan tetap bertahan bekerja di rumah ini? Jaga diri kamu baik-baik disini. Jika kamu ingin pindah, ajukan saja pada Tuan Leo untuk berhenti bekerja."
"Ya Bi, Yana sebenarnya ingin pindah. Tapi, Yana tidak punya waktu untuk mencari majikan baru, dan pastinya harus mengulangi dari nol." Jawab Yana.
"Ya udah, Bibi pulang. Jaga diri kamu baik-baik, ingat pesan dari Bibi ya?"
"Ya, Bi." Jawab Yana, Bi Mira segera pergi meninggalkan rumah yang banyak cerita dan kenangan bersama majikannya.
Sedangkan di luaran sana, Anggit dan adiknya tengah menyusuri taman yang belum pernah di datangi.
"Kak, gimana perasaan Kakak saat ini? apakah sudah rada mendingan?" tanya Kavil sambil menikmati suasana di taman.
Anggit mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.
"Lumayan, setidaknya tidak begitu penat pikiran Kakak. Makasih ya Kav, untungnya ada kamu. Kakak tidak tahu jika tidak ada kamu, mungkin Kakak sudah jadi gila."
"Enggak juga ah, Kavil percaya jika Kak Anggit adalah perempuan yang kuat dan tegar. Sayangnya lelaki yang menjadi suami Kakak rabun, jadi tidak bisa melihat ketulusan hati Kakak." Ucap Kavil dan membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1