
Anggit yang melihat begitu jelas lewat CCT saat suaminya diantar pulang, langsung beranjak pergi dari posisinya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menerimamu di rumah ini lagi, terlalu sakit jika aku harus menerima kamu untuk kembali bersamaku. Cukup semuanya kejadikan pelajaran, dan aku tidak akan mengulangi dengan orang yang sama." Gumamnya saat hendak pergi dari ruang keluarga.
"Kak Anggit,"
"Ya, ada apa?"
"Kak Leo sudah aku suruh pergi, dan Kakak gak perlu khawatir lagi soal suami Kakak. Aku juga sudah menghubungi orang tuanya Kak Leo, sekarang lebih baik Kak Anggit istirahat." Jawab Kavil.
"Bagaimana kata mereka, Kav?"
"Kedengarannya sih dikit kesal, tapi biarlah. Oh ya, apakah Kakak mau mempercepat perceraian Kakak dengan kak Leo? kalau iya, secepatnya aku akan segera memprosesnya."
"Terserah kamu saja, Kakak sudah malas buat mengurusinya. Maafkan Kakak yang sudah merepotkan kamu, seharusnya Kakak yang menanganinya sendiri dan tidak merepotkan kamu." Kata Anggit yang merasa merepotkan adiknya.
Kavil tersenyum.
"Aku tidak akan merasa direpotkan, justru Kak Anggit adalah tanggung jawabku sebagai pengganti orang tua. Aku laki-laki yang mempunyai tanggung jawab besar kepada saudara perempuan, mau itu Kakak maupun adik. Ya udah ya Kak, aku mau kembali ke kamar, aku mau istirahat. Mulai besok aku akan mengurus perceraian Kakak dengan kak Leo." Ucap Kavil sekaligus mau istirahat.
"Ya gak apa-apa, Kakak nurut aja sama kamu bagaimana baiknya. Kalau mau istirahat, istirahat lah. Selamat malam." Jawab Anggit dan juga segera kembali ke kamarnya untuk istirahat.
.
.
.
Di lain sisi, Leo yang cukup lama dalam perjalanan pulang, rupanya baru saja sampai rumah.
__ADS_1
Susah payah si Dian membantu Leo turun dari mobil, tidak lama kemudian dibantu oleh beberapa orang untuk membawanya masuk ke rumah.
Sedangkan Dian yang buru-buru, ia langsung berpamitan pulang tanpa masuk ke rumah Leo. Kini Leo tengah ditangani ibunya saat sudah berada di dalam kamarnya.
"Kamu ini ya, bikin malu diri sendiri saja. Kalau sudah begini siapa juga yang malu, benar-benar anak susah di atur. Ini semua karena kamu Amora, sudah berani-beraninya mengganggu rumah tangga anakku yang baik-baik saja, dan sekarang harus hancur berantakan karena mu." Gerutu ibunya Leo penuh kesal, lantaran rumah tangga anaknya hancur karena seorang wanita yang sudah merusak kebahagiaannya.
"Anggit ...! kamu kenapa tidak mau menerimaku, kamu jahat sayang." Racau Leo dengan teriak memanggil nama istrinya.
Karena merasa kesulitan menghadapi putranya, langsung meminta asisten rumah lelaki dan perempuan untuk menangani Leo yang masih hilang kendali.
"Tolong dikompres, dan kamu buatkan teh hangat." Perintah ibunya Leo kepada dia asisten.
Kemudian, langsung menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi anaknya yang panasnya semakin tinggi karena khawatir dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sambil menunggu, ibunya mondar mandiri karena tidak sabar melihat kondisi anaknya yang terlihat menyedihkan.
"Ini semua kesalahan anak kita sendiri yang tidak memikirkan bagaimana nasib rumah tangga kedepannya, dan sekarang tinggallah penyesalannya saja bagi Leo." Ucap ayahnya sambil memperhatikan putranya yang mulai meracau tidak jelas apa yang diucapkannya.
"Percuma Papa ke sana, karena tekad mereka sudah bulat untuk menceraikan Leo. Jadi, terimalah kenyataannya. Kita tidak bisa memaksakan diri, juga kesalahan terbesar ada pada anak kita. Sudahlah, urus anak kita dengan baik. Sebentar lagi dokter juga datang, ditunggu saja." Jawab ayahnya Leo yang juga sudah pasrah mengenai hubungan pernikahan anaknya.
Ibunya yang mendengarnya, pun kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan untuk putranya.
"Siapa yang sakit?" tanya dokter yang tiba-tiba sudah datang.
"Anak saya, Dok. Badannya panas sekali, juga dari tadi meracau tidak jelas. Tolong anak saya, Dok." Jawab ibunya yang penuh dengan kekhawatiran.
Leo yang sedari tadi memanggil nama istrinya, tidak henti-hentinya mengatakan cinta dan tidak mau berpisah.
"Baik, saya akan memeriksanya terlebih dulu." Ucap Dokter dan bergegas memeriksa kondisinya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok? baik-baik saja kan, Dok?" tanya ibunya yang begitu khawatir.
"Panasnya sangat tinggi, juga sepertinya sedang banyak pikiran." Jawab Dokter ketika memeriksa kondisi pasien, juga dari biaranya yang sudah banyak ngelantur.
Ibunya tertunduk sedih.
"Anak saya mempunyai kesalahan besar kepada istrinya, dan sekarang sedang menyesalinya. Ditambah lagi istrinya sudah tidak mau mempertahankan rumah tangganya, hatinya sudah terlalu sakit dan juga kecewa dengan anak saya. Sejak dibohongi oleh wanita simpanannya, anak saya penyesalannya begitu dalam." Ucap ibunya Leo yang juga meneteskan air mata karena tidak tega melihat anaknya menjadi depresi.
Karena dokter pribadinya bagian keluarga ibunya Leo, sedikitpun tidak ada yang ditutup-tutupi kindisi anaknya karena apa.
"Saya mengerti, bahkan beritanya juga sudah viral. Mungkin harus sabar untuk menghadapi orang yang sedang mengalami depresi berat, karena penyesalannya yang terlalu dalam dan ketakutan soal perpisahan yang sedang menghantuinya. Jadi, harus bersabar untuk menanganinya."
"Terus, saya harus bagaimana Dok?"
"Jangan pernah lengah untuk menjaganya. Tenang saja, untuk sementara ini akan saya beri obat penenang. Tapi ya itu, tetap saja harus ada pengawasan." Jawab Dokter mengingatkan.
"Anggit sayangku, istri tercintaku, jangan tinggalkan aku. Aku sayang kamu, bukan perempuan murah_an itu. Kamu yang mencintai aku dengan tulus, aku bodoh! aku bodoh!" racau Leo yang juga berteriak menyesali segala kesalahannya.
Karena tidak ingin terus-terusan bicara yang entah kemana, akhirnya langsung diberi obat penenang agar tidak aktif.
Lain lagi di kediaman keluarga Antara, Dion tengah duduk di balkon sambil memikirkan perempuan yang selama ini dicintainya itu. Perasaan takut akan mendapat penolakan dari perempuan yang dicintainya tengah menghantui pikirannya, yakni rasanya ingin menyudahi usahanya untuk mendapatkannya.
"Sudah malam, Tuan. Waktunya untuk istirahat. Besok Tuan Dion ada jadwal pertemuan penting." Ucap Pak Ramil sebagai orang kepercayaannya selain jadi supirnya.
"Ya Pak, nanti saya akan segera istirahat. Oh ya, Paman Roska apakah jadi pulang ke tanah air?"
"Sepertinya gagal, Tuan. Soalnya anak angkat perempuannya mau menyelesaikan dulu kuliahnya. Katanya sih nanggung, Tuan." Jawab Pak Ramil.
"Oh, kirain. Ya udah kalau gitu, Pak Ramil boleh istirahat." Ucap Dion, dan menyuruh pak Ramil untuk istirahat.
__ADS_1
Dion yang jadwalnya begitu padat, merasa butuh seseorang yang bisa menjadi teman hidupnya.
"Benar kata Pak Ramil, aku tidak boleh membuang-buang waktuku. Baiklah, aku akan memberanikan diri meski penuh resiko." Gumamnya yang baru saja mengusap wajahnya dengan kasar.