
Setelah menerima ajakan dari Dion, Anggit segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
"Aku antar kamu pulang, bagaimana?"
"Terima kasih, sepertinya kamu tidak perlu mengantarkan aku pulang. Lebih baik kamu pulang duluan aja, tidak apa-apa kok." Jawab Anggit sambil membereskan meja kerjanya tanpa menatap ke arah Dion.
"Serius?" tanya Dion memastikan.
Saat itu juga, Anggit langsung mendongak dan menatap Dion. Kemudian, ia mengangguk.
"Ya, aku serius." Jawab Anggit dengan anggukan.
"Ya udah kalau gitu, aku duluan. Janji ya, nanti malam kamu akan dijemput sama supir ku. Aku pulang dulu, sampai bertemu lagi nanti malam." Ucap Dion dan segera pergi.
Setelah tidak ada lagi Dion, sedikit lega karena bisa leluasa ketika mau pulang.
Saat itu juga, tiba-tiba ponselnya berdering dan mengagetkan Anggit yang sudah siap untuk pulang ke rumah.
"Dian, ada apa kamu menelpon ku?" tanya Anggit lewat sambungan teleponnya.
Kemudian dengan fokus si Anggit mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Dian.
"Apa katamu, kamu sudah ada di depan kantor? yang benar saja kamu."
Panik, Anggit langsung meminta Dian untuk menunggunya, dan segera menemuinya.
Saat itu juga, Anggit langsung memutus sambungan teleponnya dan bergegas menemui Dian.
"Kamu, ada perlu apa kamu datang kemari, Dian?"
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu, ini kamu lihat sendiri. Maaf sebelumnya, bukan niatku untuk lancang dengan kamu, tapi mengertilah sedikit saja." Jawab Dian dan menyerahkan ponselnya untuk menunjukkan rekaman video mantan suaminya.
Anggit yang penasaran dengan apa yang ditunjukkan oleh Dian, langsung melihatnya. Dengan seksama dalam durasi satu detik, Anggit tengah fokus melihat video yang kelanjutannya.
Kedua matanya mendadak terbelalak saat melihat video mantan suaminya yang begitu memprihatinkan.
Dengan susah paya si Anggit menelan ludahnya. Tiba-tiba air matanya lolos begitu saja. Mau bagaimanapun si Leo pernah menjadi suaminya, dan tidak dipungkiri jika Anggit juga pernah mencintainya meski cintanya tak terbalaskan setelah tiga tahun menjalani rumah tangga bersamanya.
"Begitu bencinya kah, sampai-sampai kamu tidak ingin bertemu dengan mantan suami kamu? lihatlah kondisinya, apakah kamu tega melihatnya dengan menyebut namamu terus menerus yang dia ingat. Aku tahu kamu sangat membencinya, aku pun tahu rasa sakit dan kecewa yang kamu rasakan. Tapi, apakah kamu tidak ada rasa kasihan sedikitpun meski hanya untuk menemuinya. Aku tahu ini berat untukmu, tapi apakah kamu akan mempertahankan ego mu? maaf jika aku sudah lancang bicara sama kamu."
__ADS_1
Seketika, Anggit merasa sesak di dadanya ketika melihat kondisi mantan suaminya yang begitu memprihatinkan.
"Aku mohon sama kamu untuk yang terakhir kalinya, pikirkan baik-baik. Setelah permintaan ku tidak kamu terima juga, maka tidak akan ada lagi yang mengemis sama kamu untuk bertemu dengan Leo, apapun keadaannya akan menjadi privasinya. Aku tunggu lima menit untukmu berpikir, setelah itu aku akan pulang." Sambungnya lagi untuk memastikannya.
Anggit sejenak terdiam dan mencoba untuk berpikir kembali. Haruskah menuruti egonya? Anggit benar-benar dilema.
"Temui mantan suami kamu, yang dikatakannya itu benar. Kalau kamu takut dan ragu, aku akan menemani kamu." Ucap Dion yang tiba-tiba mengagetkan saat ikut menimpali ucapan dari Dian.
"Ya Kak, aku pun tidak akan menghalangi Kakak dan Kak Leo untuk bertemu." Sahut Kavil ikut berkomentar dan setuju atas pendapat dari Dion maupun Dian.
Anggit menghela napasnya dengan panjang. Kemudian, akhirnya pun mengangguk menyetujui permintaan dari Dian.
"Kamu beneran serius mau?" tanya Dian memastikan.
Anggit kembali mengangguk.
Meski sudah disakiti oleh mantan suaminya yang begitu dalam, hatinya pun luluh untuk tidak menuruti egonya.
'Aku tahu ini sangat menyakitkan untukku, tetapi apa untungnya jika aku menuruti egoku. Juga, tidaklah patut jika aku menjadi sombong saat melihat dirinya mendapat ganjarannya.' Batin Anggit saat dilema.
"Ayo Kak, aku temani Kakak untuk bertemu dengan Kak Leo." Ajak Kavil kepada kakaknya.
"Kamu tidak perlu takut, aku akan menemani kamu bertemu dengan mantan suamimu." Timpal Dion ikut meyakinkan.
Anggit yang seakan mendapat dukungan untuk bertemu dengan mantan suaminya, dirinya langsung menoleh ke sumber suara.
"Baiklah, aku menyetujuinya. Tapi ingat, jangan membuatku kesal." Jawab Anggit sambil menatap satu persatu diantara mereka bertiga.
Dian yang merasa berhasil membujuk mantan istri temannya, pun merasa lega.
"Terima kasih sebelumnya, maaf jika sudah memaksa." Ucap Dian.
"Tidak apa-apa," jawab Anggit dan meminta adiknya untuk bergegas berangkat ke rumah mantan suaminya.
Selama perjalanan menuju rumah mantan suaminya, Anggit terus melamun sambil melihat jalanan yang ia lewati.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya memasuki halaman rumah kediaman keluarga Hambalan. Kemudian, mereka berempat bergegas turun dan menemui pemilik rumah.
Anggit yang merasa malu saat teringat ketika ayah mantan suaminya tengah menemui dirinya di kantor dan meminta permohonannya, tengah berdiri di belakang adiknya untuk bersembunyi.
__ADS_1
"Kalian, dan kamu Dian."
"Benar, Tuan. Saya datang kemari dengan membawa mantan istrinya Leo, Tuan." Ucap Dian di hadapan Tuan Dorman.
"Anggit maksudnya kamu? mana dia?" tanya Tuan Dorman sambil celingukan, lantaran tak mendapati sosok Anggit di dekatnya.
Dengan cepat kilat, Kavil dan Dion segera menyingkir. Tuan Dorman yang melihatnya, pun berjalan mendekati.
"Syukurlah jika kamu mau memberi kesempatan untuk Leo bertemu denganmu, Papa sangat bersyukur walau pertemuan kalian berdua hanya sebentar." Ucap Tuan Dorman yang sedikit merasa lega dengan hadirnya mantan istri anaknya.
"Maafkan saya yang sudah terlalu egois, Pa. Saya, saya hanya masih terbawa suasana saja, gak lebih."
"Tidak apa-apa, Papa bisa mengerti akan perasaan kamu. Mari Nak, Papa akan mengantarkan kamu untuk bertemu dengan Leo, ayo."
Anggit mengangguk dan mengikuti langkah kaki ayah dari mantan suaminya.
Dengan pikirannya yang cemas lantaran melihat rekaman video mengenai kondisi mantan suaminya, sebisa mungkin untuk tidak memikirkannya yang terlalu dalam."
Anggit yang sudah dibukakan pintu dan dengan pengawasan yang cukup ketat, tetap saja penuh kehati-hatian untuk mendekatinya.
Anggit mengambil boneka kesayangannya yang tergeletak dilantai, dan mendekati Leo yang tengah duduk sambil melamun. Leo sendiri pun tahu jika dirinya mengetahui ada sosok perempuan yang disesalinya.
Meski mengalami depresi, Leo masih mengingat semuanya. Hanya saja terlalu menahan rasa penyesalan, hingga terkadang depresinya kambuh dan terkadang menyiksa diri.
"Apa kabarnya?" sapa Anggit sambil menjulurkan tangannya.
Leo tidak menanggapinya, dan memilih diam sambil menatap lurus ke depan. Bahkan, menoleh pun tidak.
"Untuk apa kamu datang kemari? apa karena merasa kasihan melihatku yang hancur ini dan di penuhi dengan rasa penyesalan?"
Akhirnya Leo pun angkat bicara.
"Maaf, kedatanganku kemari ingin melihat kondisi kamu. Aku juga baru mengetahuinya dari Dian, maaf." Ucap Anggit yang juga tidak menatap mantan suaminya.
Leo menghela napasnya panjang, dan membuangnya dengan cara perlahan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, dan juga lebih baik kamu fokus dengan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan dari lelaki yang lebih baik dariku. Percayalah denganku, aku baik-baik saja. Pulanglah, aku tak mau diganggu, aku takut otakku akan bekerja dengan buruk." Ucap Leo yang masih tetap pada posisinya.
Anggit yang mendengarnya, pun mencoba untuk diam sejenak.
__ADS_1