
Kavil yang baru saja sampai di depan rumah kediaman keluarga Hambalan, segera turun dari mobilnya.
"Minggir! kalian. Cepat buka pintu gerbangnya." Bentak Kavil kebeberapa penjaga rumah karena tidak mau membukakan pintu gerbang kepada Kavil yang hendak masuk.
"Tunggu Tuan, anda mencari siapa?" tanya salah seorang penjaga rumah Tuan Dorman.
"Aku adiknya istri dari Tuan Leo, puas! kalian. Cepat minggir." Jawab Kavil diakhiri dengan kalimat membentak.
"Tunggu, akan saya panggilkan dulu. Tuan Dorman sudah berpesan kepada kami untuk tidak menerima tamu yang tidak dikenal, siapa tahu anda adalah seorang penyusup." Ucapnya karena belum lama ini bekerja di kediaman keluarga Hambalan.
"Ada apa ini?" tanya salah seorang yang baru saja menghampiri.
"Ini ada orang yang mengaku adik dari istrinya Tuan Leo." Jawabnya.
"Buka pintunya, dia memang Tuan Kavil, adiknya Nona Anggit." Ucap orang kepercayaan keluarga Hambalan memberi perintah untuk membuka pintu gerbang.
Tanpa sapaan apapun, Kavil langsung masuk dengan emosinya, lantaran sudah menerima kabar tentang kejadian yang sudah terlewat oleh kakaknya sendiri.
"Cepat panggilkan kakakku, Pak Arnol. sekarang juga." Perintah Kavil dengan langkah kakinya yang begitu cepat memasuki halaman rumah.
"Tuan, tunggu Tuan, jaga emosinya Tuan." Panggil pak Arnol sambil mengejar langkah Kavil yang begitu gesit.
Saat sudah berada di depan pintu masuk rumah utama, rupanya Tuan Dorman sudah berdiri di ambang pintu terlihat tengah menunggu kedatangan Kavil.
"Dimana Kakakku?" tanya Kavil karena sudah emosi lebih dulu.
"Masuk lah, tidak baik emosi seperti itu. Ayo masuk, kakak kamu sedang istirahat." Jawab Tuan Dorman berusaha untuk tidak melayani emosinya Kavil yang entah siapa yang akan menjadi sasarannya.
Kavil yang akhirnya nurut kepada Tuan Dorman, dan segera masuk ke dalam rumah.
"Duduklah, tidak baik membicarakan sesuatu dengan berdiri." Ucap Tuan Dorman mempersilakan duduk.
Kavil masih berusaha untuk menahan emosinya.
"Kamu pasti sudah mengetahui kabar tentang kakakmu, bukan? jangan hakimi kakakmu, dia belum tentu sepenuhnya salah."
__ADS_1
"Tapi dia sudah mencoreng nama baik keluarga, bahkan beritanya sudah menyebar luas di sosial media."
"Tenangkan dulu pikiran kamu, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Kamu adiknya, pasti tahu karakter kakak kamu. Jadi, jangan mengambil kesimpulan dengan asal." Ucap Tuan Dorman mencoba untuk memberi nasehat kecil kepada Kavil.
"Benar, Kavil. Yang dikatakan ayah mertua kakakmu itu tidak salah. Jangan gegabah dalam mengambil kesimpulan yang mana diri kamu sendiri belum mengetahui kebenarannya." Timpal Kakek Hambalan yang baru saja ikutan duduk di sebelah Tuan Dorman.
Kavil yang mendengarnya, pun masih ada rasa kesal dengan kakaknya sendiri. Kepergian kedua orang tuanya saja belum juga lama, bahkan pusaran masih terbilang basah, dan sekarang ini harus menerima berita heboh tentang kakaknya. Tentu saja, Kavil merasa sakit hati atas berita yang ia terima.
"Kamu boleh membawa kakak kamu pulang malam ini juga, tapi jangan kamu keluarkan kata-kata kasar sedikitpun padanya." Ucap Tuan Dorman berpesan.
"Kenapa?"
"Karena masalah yang sedang dihadapinya tidak hanya karena tertangkapnya di kamar hotel, melainkan ..." tiba-tiba Tuan Dorman berhenti.
"Melainkan apa, Tuan?"
"Melainkan karena sudah dibohongi oleh putra kami, Leo Jantrika. Rupanya Leo mempunyai istri kedua dan sudah punya anak berusia enam tahun. Maka dari itu, jaga bicaramu saat menghakimi kakakmu." Jawab Tuan Dorman yang akhirnya angkat bicara dan berkata jujur terhadap Kavil.
"Apa!"
Benar-benar membuatnya tercengang. Juga, bertambah memuncak emosinya. Rahangnya semakin keras, juga otaknya yang terasa mendidih. Kedua tangannya mengepal kuat seperti tidak dapat menahan amarahnya, dan ingin segera meluapkan emosinya.
Kavil langsung berdiri untuk mengajak pulang kakaknya.
"Kenapa kalian menyembunyikannya dari saya, Tuan Dorman? kenapa harus ada berita heboh dulu, baru mau mengakui kebenarannya didepan saya. Kalian itu benar-benar sangat terkutuk bagi saya, menutupi kebusukan anak sendiri dan merugikan korban dari anak mu Tuan. Sekarang juga, panggilkan kakak saya."
"Kakek meminta maaf atas nama Leo, Nak. Dia memang salah, dan kami juga sudah memberi hukuman kepadanya. Jadi, kami tidak membedakan siapa yang salah maupun yang benar sekalipun. Pesan Kakek, jangan kamu pojokan kakak kamu, Anggit sepenuhnya hanyalah korban dari orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap Kakek Hambalan mencoba untuk meredakan emosi Kavil.
Saat itu juga, Anggit sudah berada di dekat adiknya.
"Maafkan Kakak, Kavil. Kalau kamu malu, kamu tidak perlu menjemput Kakak pulang. Kakak bisa mencari kos-kosan untuk dijadikan tempat menginap." Ucap Anggit dengan menunduk.
Kavil yang merasa kecewa, juga merasa sedih saat mendapati sang kakak yang tengah ditimpa banyaknya masalah, tidak bisa menyalahkan kepada sang kakak sepenuhnya. Lebih lagi dengan rasa sakit yang sudah dikhianati oleh kakak iparnya, tentu saja sangat menyakitkan untuk diterima.
Kavil langsung memeluk erat pada kakaknya, merasa dirinya ikut tersakiti ketika kakaknya terlihat tak berdaya.
__ADS_1
"Kenapa Kakak bohongi Kavil? kenapa?"
"Kakak tidak mau membagi beban kepadamu, Kav. Maafkan Kakak yang sudah banyak berbohong padamu, juga kepada Mama dan Papa."
Kavil langsung melepaskan pelukannya.
"Katakan dengan jujur, apakah kak Leo mengancam Kakak? jawab Kak, jawab dengan jujur."
"Ya! aku yang mengancamnya." Sahut dari ambang pintu dengan suara yang cukup keras.
Semua menoleh pada sumber suara, rupanya Leo kembali datang. Entah apa tujuan, tiba-tiba datang dengan mengagetkan isi ruangan.
Kavil yang sudah dikuasai emosinya, langsung mendekati kakak iparnya.
"Kenapa? kamu mau marah, silakan. Karena Kakak kamu itu man_dul dan tidak bisa memberiku keturunan, salah jika aku menikah lagi? jawabannya adalah tidak."
BUG!
Sekali tonjokan, rupanya dapat membuat sudut bibir milik Leo pecah dan mengeluarkan dar_ah segar.
"Hentikan!" bentak Tuan Dorman untuk melerai.
"Seharusnya kamu itu sadar diri dengan kekurangan kamu, Kavil. Kakak kamu itu man_dul, tidak bisa memberiku keturunan. Wajar saja jika aku ini berselingkuh. Oh ... jangan-jangan kakakmu itu ingin membalaskan dendamnya padaku, atau ingin mencoba apakah dia man_dul atau bukan?"
BUG!
"Hentikan!" bentak Anggit yang kini menengahi perdebatan antara suaminya dan adiknya sendiri.
"Lelaki macam dia tidak pantas untuk dijadikan suami, dia hanyalah sampah yang harus di buang pada tempatnya." Ucap Kavil dengan seringainya.
"Sudah cukup! lebih baik kita pulang." Bentak Anggit sambil menarik lengan adiknya.
"Leo! sekarang juga kamu segera pulang ke rumah mu. Koreksi kesalahan kamu, benahi dulu cara berpikir mu."
"Oh, kalian mengusir ku? ok ok ok. Sekarang juga aku akan pulang, puas kalian." Jawab Leo yang juga tengah dikuasai oleh emosinya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Kavil dan Anggit berpamitan dengan sopan, meski Kavil sendiri merasa kecewa kepada keluarga Hambalan. Namun, tetap bersikap santun meski dalam keadaan emosi.