
Leo yang sebenarnya merasa malu untuk bertemu istrinya karena banyaknya kesalahan yang sudah ia perbuat, sebenarnya juga ingin kembali seperti dulu saat keduanya saling menerima satu sama lain.
"Sekarang kamu makan dulu Nak, jangan banyak melamun."
Leo pun kaget saat ibunya menepuk pundaknya ketika tengah bersandar dan melamun.
"Nanti aja, Ma. Aku masih belum ingin makan, nanti aja nunggu istriku datang." Jawab Leo yang hilang napsu makannya.
"Nantinya kapan, ya kalau sebentar lagi datang, kalau masih malam gimana? jangan siksa diri kamu sendiri, kamu juga perlu energi. Nanti kalau Anggit datang, kamu bisa makan bareng dengannya. Sudahlah, ayo makan dulu." Ucap ibunya yang tetap membujuk putranya.
"Yang dikatakan Mama kamu itu benar, Nak. Sekarang kamu makan aja dulu, nanti gampang makan lagi bareng istrimu." Timpal sang ayah ikut bicara.
Ibunya pun mengangguk, tanda membujuk putranya agar mau menurutinya.
"Baiklah jika Mama dan Papa memaksaku, aku akan makan." Jawab Leo yang akhirnya menyerah.
Sedangkan di tempat lain, Anggit justru memikirkan pertemuannya untuk makan malam bersama adiknya dan Dion. Namun, ingatannya juga kembali kepada suaminya yang dikabarkan tengah dirawat di rumah sakit.
Karena tidak ingin semakin penat untuk memikirkannya, Anggit mencoba untuk menyibukkan diri di belakang rumah setelah bosan berada di dapur. Alih-alih si Anggit berkeliling halaman belakang rumah yang banyak dengan tanaman bunga.
Tidak terasa juga, rupanya sudah waktunya untuk makan siang. Salah seorang asisten rumah tengah membawakan makan siang di taman belakang dengan menu makanan yang sederhana.
"Permisi Nona, maaf juga sudah mengganggu. Ini saya bawakan makan siang untuk Nona. Mari silakan, Nona." Ucap seorang asisten rumah ketika memberi sajian dengan berbagai menu makanan dalam satu porsi, juga dengan buah yang sudah siap untuk dinikmatinya.
"Terima kasih ya Mbak. Oh ya, tolong ambilkan ponsel saya di kamar ya Mbak." Jawab Anggit saat menoleh ke asisten rumahnya tengah melayani dirinya.
"Baik Nona, permisi."
Anggit pun mengangguk dan menikmati makan siangnya sendirian. Selesai makan, Anggit menyibukkan diri dengan ponselnya agar tidak merasa kesepian yang berlarut. Saat membuka media sosial, rupanya isi berita tentang suaminya semakin viral. Bahkan video pene_mbakan pun ikut serta menjadi viral.
Saat itu juga, Anggit langsung mematikan ponselnya dan memilih untuk istirahat di kamar sampai adiknya pulang tetap berada di kamar.
Berbeda lagi dengan Leo suaminya, justru tengah gelisah menunggu istrinya yang juga tidak kunjung datang.
"Ma, katanya Anggit mau datang, kok belum datang. Apa benar jika sudah tidak mau menemui aku? sepertinya kata maaf dari dia tidak akan ada."
__ADS_1
"Kamu jangan pesimis gitu dong, Kavil pulang kerjanya kan sore. Ya mungkin aja belum pulang, juga harus mandi, ini dan itu. Jadi bersabarlah, masih ada malam, positif thinking aja. Mama yakin kalau Anggit pasti datang." Jawab ibunya mencoba untuk meyakinkan putranya.
Leo yang modal pasrah, dirinya hanya mengiyakan saja. Sampai tidak terasa menunggu istrinya hingga sore hari. Leo yang risih dengan pakaian yang ia kenakan, segera menggantinya.
Sedangkan di kediaman keluarga Zardian, Kavil baru aja pulang dari kantor.
"Mbak, Kak Anggit mana?" tanya Kavil saat baru masuk dalam rumah.
"Nona Anggit baru saja masuk kamar, Tuan."
"Oh, bilangin ya Mbak, kalau aku sudah pulang, dan juga suruh siap siap. Soalnya takut kemalaman gitu ya, Mbak." Ucap Kavil menyuruh asisten rumah.
"Baik Tuan, permisi." Jawabnya dan bergegas untuk menyampaikannya kepada majikan perempuannya.
Kavil yang tidak ingin acaranya bersama Dion terlambat, buru-buru segera bersiap-siap.
Anggit yang baru saja mandi, tiba-tiba dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya, dan ia segera membukanya.
"Mbak Lala, ada apa?" tanya Anggit.
"Oh, ya Mbak."
"Kalau begitu saya permisi, Nona."
"Ya Mbak, silakan."
Setelah itu, Anggit segera bersiap-siap untuk pergi bersama adiknya. Begitu juga dengan Dion yang berada di kediaman keluarga Antara, tengah sibuk untuk makan malam bersama dengan Anggit dan Kavil.
"Tuan, semoga malam ini adalah malam yang berkesan untuk Tuan." Ucap orang kepercayaan Dion.
"Bapak bisa aja, saya tidak kepikiran sampai disitu. Malam ini hanya ingin mengajak Kavil dan kakaknya untuk makan malam bersama. Lagi pula masih bersuami, saya tidak mempunyai hak untuk mengganggu rumah tangga mereka." Jawab Dion sambil mengenakan jasnya, terlihat berbeda seperti biasanya.
"Ya Tuan, saya mengerti maksudnya Tuan. Saya doakan, semoga nasib baik selalu berpihak kepada Tuan Dion." Ucapnya.
Dion pun tersenyum dan bergegas pergi untuk menjemput Anggit dan Kavil.
__ADS_1
Sampainya di depan rumah, rupanya Kavil dan Anggit sudah menunggunya di teras rumah.
Dion segera turun dari mobil.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu. Ayo kita berangkat, takutnya nanti kemalaman, soalnya perjalanan cukup jauh." Ucap Dion.
"Tidak apa-apa Kak, kita juga baru aja keluar." Jawab Kavil.
"Ya udah kalau gitu, ayo naik." Ajak Dion sambil membukakan pintu untuk Anggit.
"Biar aku saja yang duduk di depan, kalian berdua duduk dibelakang, ok." Ucap Kavil yang cepat-cepat naik dan duduk disebelah supir.
"Kav," panggil Anggit yang sebenarnya ingin protes.
"Sudahlah cepetan masuk, sama aja duduk didepan atau di belakang." Jawab Kavil dengan mata berkedip, tanda memberi kode yang membuat Anggit melotot.
"Ayo masuk, atau mau tukar posisi?" ajak Dion dan memberi tawaran kepada Anggit.
"Enggak, aku gak akan protes. Makasih udah bukain pintu untukku, aku masuk dulu." Ucap Anggit yang langsung masuk kedalam mobil, juga Dion lewat pintu yang satunya.
Saat dalam perjalanan, Anggit memilih melihat jalanan daripada harus menatap lurus ke depan.
"Kalian berdua kenapa lah, diam diaman gitu. Padahal kalian berdua itu ya, sama cerewetnya." Ledek Kavil saat menoleh ke belakang.
"Itu kan dulu," jawab keduanya serempak.
"Waktu masih sekolah." Sambungnya lagi dengan kalimat yang sama.
Saat itu juga, keduanya langsung menoleh satu sama lain. Anggit dan Dion sama-sama salah tingkah dibuatnya.
Sedangkan di rumah sakit, rupanya Leo mendapat kabar dari seseorang yang menjadi anak buahnya tengah mengirimkan pesan bahwa Dion datang ke rumah istrinya dan terlihat pergi ke suatu tempat.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menyusulnya. Aku tidak akan pernah izinkan Anggit jatuh ke tangan Dion, apapun alasannya." Ucapnya dengan geram, juga emosinya yang kembali menguasai dirinya, dan napasnya mendadak terasa panas saat mendapat kabar bahwa istrinya pergi bersama lelaki lain.
Tentu saja hatinya bagai terbakar api cemburu, juga lupa kesalahan apa yang sudah ia perbuat kepada istrinya sendiri.
__ADS_1
Leo yang tidak bisa menahan emosinya, langsung melepaskan selang infusnya dengan asal.