
Saat Amora sedang menikmati sarapan pagi, tiba-tiba ia teringat dengan putrinya.
"Ah iya, aku sampai lupa untuk membangunkan Azura." Ucap Amora saat teringat putrinya yang belum juga bangun dari tidurnya.
Karena tidak ingin mengganggu putrinya yang tengah tidur, Amora menikmati sarapan paginya sendirian tanpa seorang yang menemaninya.
"Lihatlah Anggit, sebentar lagi aku yang akan menjadi nyonya di rumah ini. Dan kamu akan hengkang, aku pastikan itu." Gumamnya sambil mengunyah roti yang ia makan.
Setelah merasa cukup kenyang, Amora segera bangkit dari posisinya. Kemudian, sambil berjalan, Amora mengamati pada setiap ruangan yang ia temui.
Semua karyawan rupanya merasa risih saat kehadiran Amora di rumah majikannya, tentu saja membuat tidak nyaman dan juga merasa kesal karena sudah merebut suami majikan perempuannya.
"Hei! kalian ngapain lihat-lihat, mau aku laporin sama Tuan kalian? sana kerja yang benar." Bentak Amora dengan beraninya.
"Bi Mira, galak banget sih itu istri keduanya Tuan Leo. Sumpah deh, aku sampai jantungan." Ucap salah satu asisten rumah saat mendengar istri kedua bosnya membentak beberapa asisten yang lainnya.
"Sudahlah, lebih baik kamu kerjakan sebagaimana tugas kamu di rumah Tuan Leo. Jangan sampai kamu dipecat, sangat disayangkan. Kamu tidak perlu takut, Nona Anggit pasti akan berpihak kepada kita. Anggap saja, Nona Amora adalah selirnya Tuan Leo." Jawab Bi Mira meyakinkan asisten rumah.
"Ya Bi, kalau begitu aku mau lanjutin kerjaan dulu ya Bi." Ucapnya dan buru-buru pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Amora yang berhasil membuat semua asisten rumah ketakutan, dirinya merasa bangga karena apa yang ia inginkan akan mudah untuk berkuasa, pikirnya.
Sambil mengamati pada setiap ruangan, pandangannya begitu teliti saat melihat apa yang di tuju. Saat itu juga, Amora mendapati beberapa piagam yang ada didalam lemari.
"Sombong banget dia, mentang-mentang banyak prestasi, semua piagam yang ia punya dipajang dalam satu lemari kecil. Lihat saja, semua yang ada di lemari ini akan aku masukkan kedalam kardus." Gumamnya penuh kesal, juga dengan tawanya yang lepas.
Sedangkan para asisten rumah merasa kesal saat mendapati tingkah Amora yang seolah tengah berkuasa di rumah majikannya.
Tanpa di sadari oleh Amora, setiap gerak-geriknya tengah diawasi oleh Anggit.
Lain lagi dengan Leo, dirinya tengah bekerja meras demi menaikkan kurva pertumbuhan perusahaan yang ia kelola.
"Aaaa! kenapa masih jalan di tempat saja, kalau begini terus, bisa-bisa aku hengkang dari kantor ini. Tidak, aku harus melakukan cara agar perusahaan yang aku kelola ini naik pesat pertumbuhannya." Ucapnya dengan penuh frustrasi jika kegagalan akan didapatkannya.
__ADS_1
Saat kepala terasa mau meledak, Leo segera meminta Dion untuk menemuinya.
"Permisi, Tuan."
"Cepat kau masuk, dan tutup lagi pintunya." Jawab Leo yang sudah tidak sabar.
"Baik, Tuan."
"Duduklah." Perintah Leo sambil mengusap keningnya dan juga mengacak rambutnya yang tidak gatal, lantaran terasa pusing di bagian kepalanya.
"Kamu harus membantuku untuk menaikkan kurva pertumbuhan perusahaan Jaya Lambana Group."
Sejenak Dion diam.
"Bagaimana? aku ada komisi besar untukmu jika kamu berhasil membantuku."
Dion tersenyum mendengarnya.
"Saya tidak mau ambil resiko, Tuan. Bukannya saya tidak mau, karena Tuan Hambalan sangat cerdik dalam urusan mengawasi Tuan Leo." Jawab Dion yang menolak secara halus, karena dirinya tidak mau ikut campur urusan rumah tangganya orang lain.
"Bilang saja kalau kamu berpihak dengan istriku, secara kamu adalah teman dekatnya." Tuduh Leo yang mulai mencari kesalahan sekretarisnya.
Dion tersenyum pada bosnya.
"Tuan Hambalan sudah mengancam saya tadi malam, tentunya saya tidak mungkin ingkar pada Beliau."
"Apa! kakek Hambalan sudah memberi ancaman padamu? oh! benar-benar itu kakek tua."
BRAK!
Leo langsung menggebrak mejanya dengan penuh kesal, lantaran gagal membujuk sekretarisnya. Saat dirinya membutuhkan bantuan, rupa-rupanya sang kakek sudah memberi ancaman lebih dulu kepada Dion.
"Sial! kakek dan papa pasti sudah membuat rencana agar aku gagal." Gerutunya dengan perasaan dongkol.
__ADS_1
"Sudah sana kamu pergi, dan lanjutkan pekerjaan kamu." Ucap Leo yang tidak ingin diganggu.
Dion yang merasa lega, cepat-cepat untuk kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Leo yang biasanya ada Dion yang selalu dijadikan alat bantu, kini harus bekerja kerasa sendirian.
Rasa capek saat harus memutar otaknya supaya mendapatkan jalan keluar, rupanya perutnya keroncongan karena belum sarapan pagi.
Teringat saat istrinya membawakan bekal untuknya, Leo segera mengganjal perutnya dengan makanan yang disiapkan oleh istri pertamanya.
Tidak ingin perutnya sakit, dengan lahap Leo memakannya, dan kenyataannya habis tidak tersisa. Setelah itu dilanjut makan buahnya.
Lain lagi di tempat kerja istri pertamanya, Anggit tengah disibukkan pekerjaan yang cukup menguras pikirannya, lantaran harus memikirkan hubungan pernikahannya. Lebih lagi jika Amora ingin sekali menyingkirkan posisinya, membuatnya khawatir jika perpisahannya dengan suami bukan di waktu yang tepat.
Saat rasa cinta itu tumbuh di hatinya, seketika itu juga, Anggit harus menerima kenyataan pahit mengenai scandal suaminya bersama Amora.
Saat mendongak dan arah pandangannya tertuju pada sudut ruang kerjanya, terlihat sebuah foto pernikahannya yang terbingkai dengan ukuran sedang, membuatnya kembali teringat akan keharmonisan dalam rumah tangganya.
Baru saja kemarin berpamitan untuk pergi ke ke luar negri, pulang-pulang memberinya kejutan yang begitu sangat menyakitkan untuk di terima.
"Hei! Kak Anggit, melamun aja deh."
Saat itu juga Anggit terperanjat saat dikagetkan sama adiknya sendiri yang masuk tanpa permisi karena pintunya yang tidak dikunci.
"Kavil, ngagetin aja kamu ini."
"Hari ini sibuk ya, kasihan sekali Kakakku ini."
"Gak lucu, ngapain kamu datang ke kantor Kakak."
"Aku mau jemput Kakak, hari ini Paman Nugraha datang. Katanya sih, pingin ketemu Kakak. Soalnya besok sudah ada jadwal penerbangan, dan gak bisa berlama-lama berada di kota."
"Kerjaan Kakak sangat padat, sepertinya Kakak gak bisa ikut kamu. Tidak cuma itu saja sih, nanti malam Kakak juga ada acara bersama kakak ipar kamu. Jadi salam aja buat Paman Nugraha."
"Bukannya ini hari sabtu, dan pulangnya juga lebih awal. Jadi, Kak Anggit masih ada waktu. Toh perginya masih nanti malem, gak masalah lah. Ya udah gini aja, aku mau hubungi kakak ipar untuk meminta izin, dan nanti aku akan antar Kakak pulang tepat waktu, bagaimana?"
__ADS_1
"Terserah kamu saja, itupun kalau dapat izin." Kata Anggit sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Ok, aku hubungi dulu kakak ipar." Ucap Kavil sambil merogoh ponselnya, dan segera menghubunginya. Berharap, Kavil mendapatkan izin untuk membawa kakaknya.