
Tuan Dorman selaku ayahnya Leo, akhirnya mencoba untuk membuka suara.
"Ada apa ini, Leo?" tanya Tuan Dorman penasaran.
Sedangkan ibunya Leo masih menunggu jawaban dari putranya, Anggit sendiri hanya mampu menundukkan pandangannya karena malu. Meski tidak bersalah, tetap saja penampilannya yang sudah berantakan tidak mungkin dapat membela dirinya.
"Mereka berdua tertangkap basah didalam kamar hotel. Izin denganku katanya mau ada acara reunian, tapi kenyataannya memanfaatkan keadaan." Jawab Leo dengan tegas, seolah hanya istrinya yang mempunyai kesalahan besar terhadap pasangannya.
"Apa! kamu tidak sedang bohongi Mama kan, Nak?"
Ibu mertua yang mendengar jawaban dari putranya merasa kecewa dengan melihat kondisi Anggit yang hanya dibalut dengan selimut.
"Itu semua salah besar, Nyonya, Tuan. Saya bersama Nona Anggit telah dijebak oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Tuan, Nyonya." Sahut Dion mencoba untuk menjelaskannya pada kedua orang tuanya Leo.
Anggit masih menunduk, dirinya sama sekali tidak mampu untuk mendongakkan pandangannya.
Ibu mertua maju beberapa langkah mendekati menantunya yang tengah menunduk.
"Katakan pada Mama, mana yang benar, Nak?"
Anggit masih diam, takut jika dirinya menjawab dengan jujur, maka ibu mertua maupun ayah mertuanya juga kakek Hambalan akan murka.
Anggit menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak melakukan hal yang menjijikkan dengan Dion.
"Anggit tidak tahu sama sekali, Ma. Yang Anggit tahu, tiba-tiba sudah berada dalam kamar hotel tanpa busana." Jawab Anggit sedikit takut.
"Halah! ngeles aja kamunya, bilang aja kalau kamu itu mau membalas dendam denganku." Timpal Leo yang tetap bersikukuh menyalahkan istrinya.
"Nyonya, Tuan, percayalah dengan saya, ini semua real jebakan. Saya yakin ada seseorang yang sengaja menjebak saya, entah apa tujuannya." Ucap Dion yang terpaksa memotong ucapan Leo.
"Kau! jangan membela istriku, sekarang juga kau aku pecat untuk menjadi sekretarisku. Mulai sekarang kau bukanlah orang kepercayaan ku, kau sudah membuat onar dalam rumah tanggaku." Timpal Leo pada Dion.
__ADS_1
Kemudian, Leo menoleh dan menatap istrinya.
"Oooh, jangan-jangan semua ini rencana kamu agar bisa bercerai denganku, tidak. Meski kau akan aku usir, tapi aku tidak akan menceraikan kamu." Ucap dengan tatapan yang begitu tajam, bak mata elang yang siap menerkam musuh.
"Papa benar-benar sangat kecewa sama kalian berdua, lebih baik kalian intropeksi diri dari sekarang. Untuk Anggit, pulanglah ke rumah kamu. Begitu pun dengan Leo, kamu sudah Papa pecat untuk menjadi pimpinan perusahaan. Mulai besok, Perusahaan akan Papa serahkan kepada yang punya. Juga Anggit, kamu tidak lagi bekerja di kantor sebagai pimpinan." Ucap Tuan Dorman atas keputusan yang diambil.
"Pa! tidak begitu juga dong Pa, salahku apa?"
"Kau gagal segalanya, termasuk menjaga rumah tanggamu bersama Anggit. Tidak hanya kamu yang menjadi imbasnya, tetapi istrimu sendiri yang harus menanggungnya juga." Jawab Tuan Dorman dengan tegas.
"Yang dikatakan Papa kamu itu benar, Kakek juga mendukung atas keputusan dari Papa kamu. Keputusan sudah adil, bukan? sekarang juga, kalian pulang ke rumah kalian masing-masing." Timpal kakek Hambalan yang juga sependapat dengan Tuan Dorman.
"Pa, aku sudah memberi keturunan untuk keluarga Hambalan, sedangkan Anggit apa? hanya menjadi hiasan didalam rumah." Cecar Leo yang tidak terima karena dirinya merasa disamakan dengan istrinya.
"Keputusan Kakek sudah bulat, kamu akan menjadi bawahan. Mulai besok kamu bukanlah kepala pimpinan, melainkan hanya karyawan biasa, bukan sekretaris." Ucap Kakek Hambalan yang akhirnya memutuskan pilihannya kepada cucu satu-satunya.
"Aaaaaa!" teriak Leo dan langsung pergi meninggalkan istrinya, karena sang ayah memutuskan bahwa Anggit diminta untuk pulang ke rumahnya.
"Saya permisi, Tuan." Ucap Dion berpamitan, sedangkan Anggit masih berdiam diri.
"Mama percaya sama kamu, kalian berdua pasti dijebak. Sekarang ayo ikut Mama masuk ke rumah. Pakai dulu bajumu, setelah itu kamu boleh istirahat. Nanti biar Kavil yang akan menjemput kamu, sekalian untuk menahan amarahnya. Ayo, kita masuk." Ajak ibu mertuanya.
"Ya Nak Anggit, kamu masuk dulu, dan istirahat sebentar agar pikiran kamu sedikit tenang." Ucap ayah mertua.
"Yang dikatakan Papa dan Mama mertua kamu itu benar, ayo kita masuk." Sambung kakek Hambalan.
Anggit yang hanya bisa pasrah, nurut dengan ajakan mertuanya.
Sedangkan Kavil yang sudah mendapatkan kabar dari Aldo, segera menuju kediaman keluarga Hambalan untuk memastikan kebenarannya.
Dion yang merasa kasihan dengan Anggit, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Juga, takut akan mendapatkan prasangka buruk dari keluarga Hambalan, mau bagaimanapun, sosok Dion sudah dianggap orang kepercayaan keluarga Hambalan.
__ADS_1
Lain lagi dengan Leo, merasa frustrasi saat melihat dua insan berada dalam satu kamar hotel. Tentunya, seorang Leo mempunyai rasa cemburu kepada istrinya, meski dirinya sendiri juga seorang pengkhianat.
Leo yang sudah sampai di depan rumah, penampilannya tidak karuan.
"Sayang, penampilan kamu kenapa menjadi seperti ini?" tanya Amora saat mendapati suaminya yang penampilannya sudah berantakan, sudah seperti orang tawuran.
"Minggir, aku mau istirahat." Jawab Leo yang menepis tangan Amora yang hendak memegang pipinya.
Kemudian, Leo segera masuk ke kamar yang dimana dirinya menempatinya bersama Anggit, istri pertamanya.
Amora yang merasa kesal karena diabaikan oleh suaminya, langsung mengejarnya.
Leo yang sudah berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan penuh emosi.
Saat itu juga, Leo menonjok cermin hingga pecah, dan bagian punggung tangannya mengeluarkan da_rah segar.
Amora yang melihat suaminya seperti keset_anan, langsung mendekatinya.
"Sayang, apa kamu sudah gila, lihat ini tangan kamu." Ucap Amora yang langsung merobek bajunya dan mengikatnya pada bagian luka ditangan suaminya, Leo sendiri tidak menolaknya.
"Sayang, katakan padaku, kamu kenapa? terus, Anggit mana? kamu gak pulang bareng? apa kamu dapat masalah dengan rekan kerjanya Papa?"
Leo masih diam, ia mencari tempat duduk dan memilih untuk duduk di tepi tempat tidur. Sedangkan Amora ikutan duduk disebelah suaminya.
Leo membuang napasnya dengan kasar.
"Anggit telah berkhianat di belakangku, lebih lagi berselingkuh dengan Dion, sekretaris ku sendiri." Ucap Leo yang akhirnya membuka suara.
"Apa! maksud kamu itu, Anggit berselingkuh dengan Dion sekretaris kamu itu, ya kah? sungguh keterlaluan. Jangan-jangan memang rencananya yang ingin diceraikan sama kamu."
Leo tidak menjawabnya dan memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu kembali ke kamar mu, aku ingin sendiri. Jangan membantah, apa perlu aku melakukan kekerasan padamu. Cepat kamu keluar dari kamar ini sekarang juga." Perintah Leo kepada Amora, lantaran dirinya ingin memilih sendirian agar otaknya tidak terasa mendidih.
Amora yang tidak mau masalah semakin runyam dan tidak bisa mengambil perhatian dari suaminya, akhirnya terpaksa kembali ke kamarnya.