
Anggit yang sudah terlelap tidurnya, kini tinggal Leo yang belum bisa tidur, lantaran harus menyiapkan diri untuk menyikapi masalah yang sudah dibuatnya hingga melukai hati istrinya.
Setelah menyelimuti istrinya, Leo bergegas keluar dari kamarnya. Kemudian, ia menghampiri asisten rumah untuk memberi perintah, yakni mengawasi istrinya di dalam kamar.
"Tuan Leo, ada apa?" tanyanya sambil menunduk sopan.
"Tolong ya Bi, temani Anggit tidur. Soalnya lagi sedang tidak ingin saya temani, mungkin masih marah besar padaku. Jadi, aku mohon sama Bibi untuk menemaninya. Jika ada apa-apa, Bibi bisa tekan tombolnya." Jawab Leo memberi perintah.
"Baik, Tuan." Jawabnya dengan anggukan.
"Ya udah, sekarang juga Bibi boleh masuk ke kamar. Satu lagi, tadi belum diberesin makan malamnya. Jangan lupa juga dengan air minumnya, takutnya saat istriku bangun membutuhkan air minum." Ucap Leo.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Jawabnya dan bergegas menuju kamar majikannya.
Sedangkan Leo yang sedikit merasa lega karena asistennya bersedia menemani istrinya tidur. Setelah itu, ia segera menemui Amora dan Azura di dalam kamarnya.
Begitu juga dengan Amora, kedatangannya di rumah Leo tidak mempunyai rasa bersalah apapun pada Anggitinasya. Justru niatnya untuk merebut Leo sudah bulat dengan keputusan yang ia ambil.
Bahkan, dirinya tidak peduli jika harus merusak rumah tangga orang lain. Bagi Amora yang berhak memiliki Leo adalah dirinya. Lelaki yang pernah menjadi kekasihnya, dan terhalang restu oleh kedua orang tua pihak laki-laki.
"Sayang, kamu lama sekali datangnya. Kamu tahu tidak, Azura tadi sangat bersedih karena kamu tidak menemaninya makan malam." Ucap Amora sambil menyambut Leo dengan bergelayut manja, kedua tangannya bermain pada bagian rahang milik Leo.
Bukannya menjawab, Leo mengarahkan pandangannya pada gadis kecilnya yang bernama Azura, putrinya.
Leo langsung menyingkirkan tangannya Amora, dan mendekati Azura yang sudah lelap dalam tidurnya.
"Maafkan Papa ya, sayang. Besok lagi tidak akan Papa ulangi, yang pastinya kamu akan kebagian perhatian dari Papa." Ucap Leo sambil mengusap pipi Azura dengan lembut, dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Awas saja ya, kalau sampai kamu mengabaikan Azura dan lebih perhatian pada istri pertama kamu itu." Sahut Amora dengan kesal.
Leo langsung menoleh pada Amora.
"Tenang saja, perhatian aku akan ada terus untuk Azura. Kamu jangan berprasangka buruk padaku, aku akan membagi waktuku untuk Azura dan Anggit." Jawab Leo sambil menatapnya.
"Terus, waktu untuk aku mana?"
"Ya, termasuk kamu akan ada waktu untuk bersamamu."
"Aku maunya malam ini kamu menemaniku tidur, terserah mau di kamar mana. Yang jelas malam ini kamu memberiku waktu bersama denganmu. Kalau tidak, aku akan membawa Azura pergi jauh dari hadapanmu." Ucap Amora dengan ancaman.
"Enggak, Amora. Kita ini baru saja sampai rumah, tidak mungkin kita langsung dalam satu kamar." Jawab Leo menolak, tentunya bayang bayang istrinya yang sedang sakit hati karena ulahnya, masih teringat jelas ingatannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membangunkan Azura sekarang juga, dan mengajaknya pergi dari rumah ini." Ancam Amora pada Leo.
Leo yang tidak ingin suasana rumahnya menjadi gaduh, akhirnya menuruti kemauan Amora. Kemudian, mengajaknya untuk pindah kamar yang satunya lagi.
Leo yang sudah duduk dan bersandar di atas ranjang tidur, disusul Amora dengan mengenakan pakaian yang begitu sangat seksi dan menggoda Leo.
Leo yang melihatnya, hanya menelan salivanya.
Lelaki normal mana yang tidak tergoda, lebih lagi Leo tidak hanya satu kali dua kali dalam permainannya dengan Amora. Tentu saja, otaknya mulai dikotori pikirannya yang sudah melanglang buana.
Pelan-pelan Amora naik ke atas tempat tidur dengan menggunakan bahan tipis nan menerawang. Tentunya memperlihatkan sesuatu yang sulit untuk ditahan.
Kemudian, Amora mendekatinya dengan jarak hanya beberapa senti saja membuat sosok Leo seperti ingin menerkamnya.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kalau kita melakukannya malam ini. Aku siap melayani kamu kapanpun, dan dimana pun. Seperti yang sudah sudah, aku selalu menjadi teman tidurmu di kala kamu membutuhkan sentuhan dariku." Bisik Amora didekat daun telinganya.
Leo yang malas menjawab pertanyaan dari Amora, langsung menciumnya dengan buas layaknya orang yang sudah lama tidak pernah melakukan.
Amora sangat bersemangat saat dirinya melayani Leo dengan senang hati. Bahkan, tidak peduli ada hati yang sedang hancur dan disakiti. Leo maupun Amora sama-sama mengabaikan akan perasaan Anggit yang sedang bersedih dalam kamar ditemani asisten rumahnya.
Leo yang tengah menikmati hubungannya dengan Amora, keduanya sama-sama tengah dibutakan mata hatinya.
Setelah melakukan ritual panjang di atas tempat tidur, Leo segera membersihkan diri dalam kamar, dan bergantian dengan Amora.
Ketika keduanya selesai mandi, Leo kembali duduk dan bersandar di atas tempat tidur.
"Untuk selanjutnya, kamu harus mengerti untuk tinggal di rumah ini. Mau bagaimanapun, aku juga harus menjaga perasaan Anggit. Kalau sampai kedua orang tuaku murka, maka habis lah karirku. Jadi, aku berharap bahwa kamu mau menerima keputusan aku."
"Maksudnya kamu itu, apakah aku harus sering mengalah, begitukah maksudnya kamu?" tanya Amora yang belum mengerti.
"Bukan begitu, setidaknya aku akan tetap menomorsatukan Anggit. Kalau sampai masalah semakin besar, maka kamu yang akan rugi. Bisa saja kamu akan di usir dari rumah ini oleh keluargaku, dan Azura akan jatuh telak ditangan ku. Jadi, aku mohon sama kamu untuk selalu bersabar sementara waktu, hingga Anggit benar-benar siap menerima kamu untuk tinggal dalam satu rumah." Jawab Leo memberi penjelasan kepada Amora.
"Apa kamu sudah tidak waras, ha? kamu akan terus menomorsatukan Anggit dari pada aku? apa aku ini hanya akan dijadikan bahan pajangan di rumah ini, dan hanya melayani kamu."
"Di hadapan keluargaku, Anggit tetap nomor satu. Sedangkan untukmu, aku tidak akan mengabaikan kamu. Tetap saja aku akan memberi perhatian penuh padamu." Ucap Leo untuk meyakinkan Amora.
"Benar ya, awas saja kalau kamu sampai mengabaikan aku dan Azura. Maka, aku akan melakukan apapun untuk membalaskan dendam padamu." Kata Amora kembali memberi ancaman.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Kalau begitu, aku mau menemani Anggit tidur. Kasihan dia, jika harus tidur sendirian." Ucap Leo yang teringat pada istrinya.
Sedangkan saat menikmati ritual panjang dengan Amora, sedikitpun tidak memikirkannya.
__ADS_1
Amora yang merasa sudah puas saat dirinya yang dulu memberi kepuasan kepada Leo, ia segera kembali menemani putrinya tidur.
'Aku tidak akan membiarkan Leo jatuh dalam pelukan Anggit, dan akulah pemenangnya.' Batin Amora penuh kemenangan saat dirinya merasa mampu menaklukkan hatinya Leo, pikirnya.