DERITA SEORANG ISTRI

DERITA SEORANG ISTRI
Sesuatu


__ADS_3

Saat memasuki hotel, Anggit celingukan mencari tempat dimana teman-temannya berkumpul.


Tanpa melihat kanan kiri, Anggit terus berjalan mencari keberadaan teman-temannya.


"Aw! maaf, maaf." Pekik Anggit ketika menabrak seseorang.


"Nona Anggit." Sebut Dion kepada istri bosnya.


"Dion, kamu. Eh maaf, tadi aku buru-buru, dan juga gak lihat-lihat. Oh ya, ruangan untuk berkumpul dimana ya?"


"Nona lurus aja, nanti kalau ada ruangan yang pintunya ada pita warna merah, nah di situ." Jawab Dion sambil memberi petunjuk arah.


"Oh ya ya aku tahu, makasih ya Dion."


"Sama-sama, Nona." Jawab Dion dengan sopan, meski keduanya adalah teman sekolah.


Sosok Dion yang tadinya begitu dekat dengan Anggit, namun tiba-tiba berubah drastis saat Anggit menjadi istrinya Leo. Saat itu juga, kedekatan antara Dion dan Anggit berubah menjadi renggang, juga rasa sungkan untuk bersenda gurau seperti dulu.


Anggit yang mendapat petunjuk arah, segera menemui teman-temannya.


Dion sendiri yang diketahui tengah bekerja di hotel tersebut, tentunya sibuk dengan amanah yang diperintahkan oleh beberapa teman-temannya.


Anggit yang melihat pintu berpita warna merah, segera membukanya dengan kode yang tertera di surat undangan.


"Anggit ...! apa kabarnya kamu, friend?" teriak beberapa teman yang langsung berebut untuk memeluk Anggit.


"Aku gak bisa bernapas ini, aih." Ucap Anggit sambil batuk karena terasa engap dan juga lehernya terasa tercekik saat dipeluk oleh teman-teman perempuan yang lainnya.


"Kamu ini ya, perasaan tambah cantik aja deh. Bagi-bagi kenapa dengan resep awet mudanya sama kita-kita ini."


"Kaya' gak tahu aja kalian ini, Anggit kan nikahnya sama orang tajir, tentu saja perawatannya tidak telat. Ditambah lagi Anggit seorang Bos, kalian tahu sendiri 'kan?"


"Hem, gak usah terlalu memujiku. Percuma aja kalian memujiku, aku tidak akan tersanjung. Oh ya, kalian tidak ajak suami kalian kah? perasaan aku tidak melihat ada tanda-tanda suami orang."

__ADS_1


"Hem, kamu sendiri aja gak ngajak suami, takut gagal nostalgia ya? cie ... gimana dengan Dion, aman?"


"Ya Nggit, gimana dengan Dion? aku dengar jadi sekretarisnya suami kamu ya, bener gak?"


Anggit mengangguk.


"Udah deh, kalian sebenarnya mau ngomongin apaan sih? tujuan kita kumpul untuk reunian kan? bukan untuk yang macem-macem."


"Nostalgia juga boleh, tuh Dion." Ucap Mela yang tengah asik meledek Anggit dengan mengingatkan masa lalunya dengan cara jodoh menjodohkan.


"Mela, kamu ini kenapa sih. Anggit tuh sudah punya suami, jangan bikin masalah, entar kamu kena batunya tau rasa Lu." Timpal Laya ikut bicara, dan tidak ingin jika Anggit sampai pamit pulang karena merasa risih dengan sikap Mela yang menurutnya keterlaluan.


"Ya deh ya, aku kan cuma bercanda. Maag ya, Nggit. Jangan dimasukin ke hati ya Nggit, serius dah, aku cuma meledek kamu aja kok, gak lebih." Jawab Mela dan meminta maaf kepada Anggit.


"Lagi ngomongin apaan sih kalian ini, kedengarannya serius bener." Ucap Aldo yang tiba-tiba ikut bergabung.


"Ah kamu mah suka kepo, pergi sana, dan kumpul bareng kaum laki-laki lainnya tuh, ini tempat kekuasaannya kaum perempuan, Do." Jawab Eli yang langsung menyambar.


"Hem, gini nih kalau perempuan udah kumpul, udah ngalah ngalahin geng cowok." Kata Aldo yang karakterya tidak berubah, tetap masih seperti dulu.


Karena tidak mau waktunya terbuang sia-sia, semua segera berkumpul dan menikmati kebersamaan yang jarang dijumpai setiap tahunnya.


Anggit yang suasana hatinya tengah bersedih, sedikit-sedikit terasa terhibur oleh teman-temannya. Begitu juga dengan yang lainnya, merasa terobati kerinduannya bersama teman-teman sekolahnya.


Dengan kehadiran beberapa alumni abu-abu, tidak cukup untuk menyebutkannya satu persatu. Bahkan, didalam ruangan tersebut cukup ramai dan juga bergerombol dengan gengnya masing-masing.


Waktu untuk menikmati minuman dan cemilan yang sudah disiapkan, semua tengah duduk sambil mengobrol dan menikmati suasana yang jarang ditemui setiap tahunnya.


"Anggit, ini minuman kamu." Ucap Mela sambil menyodorkan satu gelas minuman kepada Anggit.


Kemudian, Mela juga menyodorkan minuman ke yang lainnya. Setelah itu, Mela mengajak Anggit, Eli, Laira, maupun yang lainnya untuk bersulang.


Begitu juga dengan yang lainnya, Aldo dan Dion, serta teman-temannya tengah bersulang dan dengan tawa yang riuh serta gurauannya, benar-benar menikmati kebersamaan dalam acara reunian.

__ADS_1


"Bro, aku mau nyamperin yang lainnya dulu ya. Kalian tunggu aja disini, nanti gantian." Ucap Dion berpamitan, karena tidak enak hati jika tidak menyapa teman-temannya.


Sedangkan Anggit yang tiba-tiba merasakan sesuatu pada bagian kepalanya yang mulai terasa pusing, berkali-kali memukul bagian pelipisnya agar rasa pusingnya sedikit mereda. Saat itu juga, rupanya Anggit kebelet ingin buang air kecil.


"Aku ke toilet dulu ya, soalnya udah gak nahan. Kalian lanjutin aja obrolannya, ok."


"Aku temani ya Nggit?" tanya Elya yang takut kenapa-napa, lantaran dirinya melihat jika Anggit tengah menahan sesuatu.


"Enggak perlu, kalian lanjutin aja ngobrolnya. Lagi pula tempatnya gak jauh kok dari sini, dah lanjutin aja ngobrolnya kalian."


"Serius nih?"


"Ya Nggit, keknya kamu kesulitan menyeimbangkan kondisi badanmu loh. Biar ditemani Elya ya?" timpal Eli ikut memberi saran kepada Anggit.


"Ah enggak perlu, aku bisa sendiri. Ya udah ya, aku tinggal dulu." Jawab Anggit yang tidak ingin direpotkan.


"Ya udah, buruan." Sahut Leira ikut menimpali.


Anggit yang benar-benar sudah tidak tahan, segera pergi ke kamar mandi, atau toilet.


Belum juga sampai di toilet, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Karena tidak mau menyusahkan orang lain, susah payah untuk menyeimbangkan berat badannya.


Sedangkan disudut ruangan yang sedari tadi tengah mengawasi Anggit dan Dion, rupanya seperti mendapat kesempatan emas dan tidak membuang-buang waktu untuk melakukan rencananya yang sudah disiapkan.


Setelah merasa lega saat bisa menuntas hajatnya, Anggit segera keluar dan kembali berkumpul dengan teman-temannya.


Naas, baru saja keluar dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan, baru mendapat setengah jalan, Anggit jatuh pingsan. Seketika, Dion yang melihatnya langsung, dengan tanggap menangkap tubuh istri bosnya.


"Aw!" pekik Dion saat merasa sesuatu yang tengah hilang kesadarannya dan sama-sama jatuh pingsan akibat tengkuk lehernya dihantam oleh seseorang dengan sengaja.


"Cepat bawa mereka berdua ke kamar hotel yang sudah aku siapkan. Ingat, lakukan sesuai perintahku." Perintah seseorang yang menyelusup dalam acara reunian alumni abu-abu.


"Baik, Bos." Jawabnya dengan patuh.

__ADS_1


Setelah mendapat perintah, segera membawa mereka berdua ke dalam kamar hotel.


"Anggit kok lama banget sih, perasaan udah dari tadi deh, kok belum datang juga sih, aih." Gerutu Elya yang khawatir akan keselamatan temannya.


__ADS_2