
Amora yang menyaksikannya, pun tersenyum penuh kemenangan. Leo sendiri segera mengajak Azura dan Amora untuk masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah, Amora bergegas masuk ke kamar putrinya dengan membawa barang-barang belanjaannya. Sedangkan Leo menyusul ke kamar istri pertamanya.
"Sayang, Mama mau pindah kamar ya. Mulai sekarang Mama dan Papa tidur bareng, sedangkan Zura tidurnya sendirian, tidak apa-apa, 'kan? besok kamarnya Zura akan segera direnovasi, agar tidurnya lebih nyenyak." Ucap Amora.
"Hore ... asik ... kamar Zura mau direnovasi." Jawab Zura penuh girang.
"Ya udah kalau gitu, Mama pindah kamar ya sayang?"
Azura mengangguk pelan, dan tersenyum penuh dengan bahagia.
Sedangkan Anggit yang baru saja meletakkan tas bawaannya, duduk di sofa sambil minum air putih.
"Kamu benar-benar pintar berakting di depan Azura, seperti itu terus yang harus kamu lakukan setiap harinya. Kamu tidak perlu khawatir dengan karir adikmu, juga nama baik keluargamu selama kamu masih mau saling memberi keuntungan." Ucap Leo sambil berjalan mendekati istrinya, dan ikutan duduk disebelahnya.
Anggit sendiri sama sekali tidak menggubris, pandangannya tetap lurus ke depan, tepatnya tempat tidurnya.
"Satu lagi, kamu juga harus berakting di depan keluarga Hambalan. Awas saja kalau kamu berani mengadu sama kedua orang tuaku, termasuk kakek. Aku pastikan kamu akan hidup menderita, tentunya aku tidak akan menceraikan kamu." Sambungnya lagi dengan memberi ancaman.
Anggit yang mendengar apa yang sudah diucapkan oleh suaminya dan memberinya banyak ancaman, terasa sulit untuk menelan ludahnya.
Sakit hati itu sudah pasti, lebih lagi harus berada dalam satu atap rumah, tentunya sangat menyakitkan harus melihat kemesraan suaminya dengan istri keduanya.
Leo yang sudah lupa akan segalanya, bergegas keluar dari kamarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun pada sang istri. Kini tinggallah Anggit yang sendirian didalam kamar tanpa suaminya lagi.
Napasnya yang terasa sesak harus menerima kenyataan pahit, Anggit tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela dirinya.
"Permisi Nona, maaf sudah mengganggu." Ucap salah seorang asisten rumah ditemani pekerja laki-laki yang sudah berdiri diambang pintu, lantaran pintunya yang terbuka.
__ADS_1
Anggit yang dikagetkan, langsung menoleh ke arah pintu.
"Kalian, masuk aja." Sahut Anggit saat mendapati dua orang yang bekerja di rumah suaminya.
"Maaf Nona, tadi Tuan Leo menyuruh kami untuk membereskan foto pernikahan Nona bersama Tuan Leo." Ucapnya sedikit ada rasa sedih juga takut.
Anggit langsung tercengang mendengarnya, sungguh diluar dugaan.
"Foto pernikahan saya, maksudnya Mbak Yana?" tanya Anggit yang masih belum mengerti.
Mbak Yana mengangguk penuh dengan rasa takut, juga sedih melakukannya.
"Maaf Nona, ini semua atas perintah dari Tuan Leo. Katanya demi kebaikan Nona Azura, maaf." Jawab Mbak Yana sambil menunduk, juga sedikit terbata-bata saat harus mengatakannya dengan jujur.
Saat itu juga, air matanya lolos begitu saja tanpa ia sadari. Tidak hanya sebuah pengakuan, tetapi juga foto pernikahan yang harus disingkirkan di dalam rumah yang sudah ditempatinya bertahun-tahun lamanya.
"Maafkan kami, Nona." Ucap Mbak Yana yang tidak tega melihat majikannya bersedih, lebih lagi meneteskan air mata, tentunya tidak tega melihatnya.
Anggit yang tidak kuasa atas keputusan dari suaminya, hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk dari suami sendiri.
Setelah selesai membereskan foto yang menempel di dinding dengan ukuran bingkai yang cukup besar, sekarang pajangan itu sudah tidak ada lagi dan sudah diganti dengan lukisan lain oleh pekerja di rumah.
"Kalau begitu, kami permisi Nona." Ucap Mbak Yana berpamitan, Anggit mengangguk pelan seraya memberi persetujuan.
'Apa maksud dari suamiku dengan membuang semua foto pernikahan yang ada di kamar ini? apakah foto pernikahanku akan diganti dengan pernikahannya dengan Amora? benar-benar sangat menjijikkan.' Batin Anggit sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing.
"Kenapa suamiku begitu egois, dan melarang ku untuk bercerai? seharusnya dia sangat senang jika aku memintanya untuk bercerai, dan dia bisa menikahi Amora dan hidup dengan bahagia yang mereka ciptakan. Tapi, kenapa dia tidak mau?" gumamnya penuh tanya-tanya dengan kemauan suaminya.
Sedangkan di ruang kamar satunya, Amora yang membeli pakaian yang mempunyai tujuan untuk menyenangkan hatinya Leo, tengah tersenyum penuh kemenangan saat apa yang diinginkannya terpenuhi, termasuk untuk mengganti foto pernikahannya dengan Leo yang terpajang di sudut ruangan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya, sayang. Kamu sekarang sudah menjadi suamiku sepenuhnya, meski masih sebatas istri keduamu. Tapi tidak apa-apa lah, yang terpenting aku sudah tidak khawatir saat berjalan denganmu, maupun menginap di hotel bersamamu." Ucap Amora sambil melingkarkan kedua tangannya tepat di tengkuk leher Leo dengan tatapan penuh menggoda, lebih lagi Amora sudah mengganti pakaiannya yang baru saja ia beli dengan sengaja untuk menggoda Leo.
Lelaki mana yang tidak tergoda ketika disuguhkan pemandangan yang begitu menggoda dan mengga_irahkan, tentunya Leo sendiri siap melakukan aksinya sebagaimana yang sudah sering ia lakukan bersama Amora selama tujuh tahun lamanya tanpa sepengetahuan istrinya.
Amora yang sudah memasang CCTV di setiap ruangan maupun sudut-sudut lainnya, tidak dipungkiri jika dirinya selalu mengawasi kamar yang ditempati Amora bersama suaminya.
Rekaman CCTV yang terlihat begitu menjijikkan, serasa ingin muntah melihatnya. Keduanya bagi Anggit bagai sampah yang tak layak untuk di daur ulang.
Saat satu persatu sudah menanggalkan pakaiannya satu sama lain, Anggit langsung mematikan laptopnya. Sungguh sangat menyakitkan ketika pemandangan yang menjijikkan itu harus ia jumpai, bahkan pelakunya adalah suaminya sendiri.
Sedangkan yang tengah melakukan ritual panjangnya, keduanya sudah sama-sama dibutakan dengan cintanya masing-masing, dan lupa akan segalanya.
Anggit yang semakin sesak pada bagian dadanya saat untuk bernapas, dirinya langsung memilih untuk membersihkan diri agar pikirannya lebih tenang.
Lain lagi dengan Amora bersama Leo yang baru saja melakukan aktivitas ritualnya, kini keduanya tengah membersihkan diri bersama layaknya pengantin baru.
Selesai mandi, keduanya duduk bersantai di balkon sambil menikmati suasana di sore hari dengan melihat pemandangan yang jaraknya tidak begitu jauh. Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Amora bersama Leo tidak lepas dari rekaman CCTV.
"Sayang, aku benar-benar sangat bahagia bisa hidup tenang bersamamu, dan juga bersama Azura putri kita." Ucap Amora dengan percaya dirinya ketika berada dalam pelukan Leo.
Leo yang mendengarnya, pun langsung membungkukkan badannya sambil membisikkan sesuatu didekat telinga istri keduanya.
"Aku juga sangat bahagia bisa hidup bersamamu, aku mencintaimu sayang. Terimakasih atas hadiah yang sangat berharga untukku, yakni dengan hadirnya Azura ditengah-tengah kita." Jawab Leo setengah berbisik pada istrinya.
Kemudian, Amora memutar balikkan badannya dan menatap wajah Leo dengan lekat. Seolah keduanya sudah saling kecanduan bagai puber kedua, lagi-lagi Amora mencium bibir suaminya.
"Kamu ini ya, sudah mulai berani." Ucap Leo sambil mencubit gemas pada Amora.
"Ya dong, aku kan sudah menjadi istrimu. Soal istri pertamamu, aku tidak peduli. Bagiku siapa yang cepat dia yang dapat, salah sendiri kamu di anggurin." Jawab Amora sambil tersenyum manja.
__ADS_1