
Sampainya di rumah, Anggit duduk di ruang tamu. Kemudian, Kavil duduk di sebelah kakaknya.
"Kenapa Kak Anggit tidak mengatakannya dari awal? kalau suami Kakak sudah berkhianat Kakak."
"Maafkan Kakak yang tidak berterus terang dari awal, karena Kakak tidak ingin karirmu hancur oleh suami Kakak."
"Maksudnya Kakak?"
"Apa kamu lupa, bahwa perusahaan yang kamu pimpin ada campur tangan dari keluarga Hambalan?"
"Keluarga Hambalan? dari siapa Kakak tahu?"
"Suami Kakak sendiri yang mengatakannya, juga Mama dan Papa." Jawab Anggit apa yang ia ketahui.
"Itu semua tidak ada yang benar, tidak ada hubungannya dengan keluarga Hambalan. Kakak sudah dibohongi. Asal Kak Anggit tahu, yang ikut campur tangan itu adalah pemilik perusahaan Antara Group, bukan Hambalan. Justru, keluarga Hambalan berhutang budi terhadap keluarga Zardian karena menjodohkan Kakak dengan lelaki bernama Leo. Sedangkan pernikahan Kak Anggit dengan Kak Leo semata semua karena persahabatan, tidak lebih." Ucap Kavil yang akhirnya membongkar kebenaran dari orang tuanya.
Seketika, Anggit bagai mendapat sengatan aliran listrik, begitu shock saat mendengar penjelasan dari adik laki-lakinya.
"Kakak tahu, perusahaan yang Kakak pimpin itu adalah milik Antara Group. Suatu saat nanti Kakak akan mengetahui siapa pemiliknya. Sekarang lebih baik Kakak istirahat di kamar, tidak perlu memikirkan suami Kakak yang bejat itu. Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik darinya." Ucap Kavil yang mencoba untuk menahan amarah saat kebenaran telah dibelokkan sebagai fitnah.
"Jadi, Mama sama Papa sudah bohongi Kakak? termasuk kamu?"
Kavil menganggukkan kepalanya.
"Benar, karena persahabatan, harus rela mengorbankan putrinya untuk menikahkan anaknya dengan anak dari sahabat. Kavil sudah mengetahuinya, dan tidak ada masalah bagi Kavil. Karena yang Kavil tahu, Kak Leo menyayangi Kakak, juga terlihat baik-baik saja hubungan kalian. Tapi kenyataannya, Kak Leo orang yang tidak tahu diri, juga tidak tahu rasa belas kasih." Jawab Kavil yang berusaha untuk tidak meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Suami Kakak benar-benar tega dan memanfaatkan Kakak dengan seenaknya, sungguh suami tidak tahu diri." Gumamnya dengan perasaan kecewa.
"Sekarang lebih baik Kakak istirahat, jangan terlalu banyak memikirkan masalah dengan Kak Leo. Kavil akan bertanggung jawab mengenai Kakak, bila perlu secepatnya Kak Anggit segera menceraikan Kak Leo. Lelaki seperti dia, sangat sulit untuk berubah. Jangankan untuk berubah, menyesal saja seperti tidak mungkin." Ucap Kavil dengan terpaksa ikut campur masalah kakaknya.
Sesuai pesan dari ibunya, Kavil diminta untuk menjaga kakaknya, juga membahagiakannya.
Anggit yang merasa pusing memikirkan masalahnya, bergegas ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Kavil sendiri menyibukkan diri di ruang kerjanya untuk mencari tahu siapa dalangnya yang sudah menjebak kakaknya.
Begitu juga di tempat lain, beberapa orang tengah menikmati keberhasilan atas jebakan yang sudah direncanakan untuk menghancurkan keluarga Hambalan.
Kavil yang tengah disibukkan dengan sebuah penyelidikan, kini mulai beraksi untuk memerintahkan beberapa anak buahnya.
"Cepat kerjakan perintahku, awas saja kalau kalian sampai lengah." Perintah Kavil lewat sambungan teleponnya.
Sedangkan di tempat lain, Leo tengah menghabiskan beberapa botol minuman yang ia dapatkan dari anak buahnya untuk menjadi teman kesialannya.
"Sayang, kamu ini kenapa lagi sih? sudah dong gak usah mikirin istrimu yang mura_han itu."
Leo yang mendengarnya, justru tertawa sambil menunjuk nunjuk istri keduanya dengan jari telunjuknya, juga badannya yang sempoyongan seperti mau jatuh.
"Kamu i-itu, enggak uu--sah! ngomongin istri pertama--ku. Kau, juga murah-han! sep-perti istriku yang perta---ma!" ucap Leo dengan suara setengah tidak sadarkan diri, dan juga dengan kepalanya yang goyang sana goyang sini, juga dengan jari telunjuknya yang berkali-kali menunjuk Amora.
Amora yang mendengarnya, pun dibuatnya kesal.
"Kamu ini mabok, ngomong juga asal bicara. Sudahlah, ayo kita ke kamar." Ucap Amora sambil memapah suaminya masuk ke kamar.
__ADS_1
"He--ei! tunggu! aa-ku mau tidur di ka-mar istriku tercin-ta! paham." Jawab Leo dan tersenyum gayanya orang mabok.
"Terserah kamu!" bentak Amora dan meminta asisten rumah yang laki-laki untuk membantu memapah suaminya sampai di kamar yang ditempati bersama Anggit.
Amora yang malas mengurus suaminya, segera pindah ke kamarnya, dan meminta Bi Mira untuk bertanggung jawab atas suaminya yang mabok.
Di lain sisi, Anggit merasa kecewa dengan kebohongan dari suaminya. Sudah di bohongi dengan ancaman, juga dibohongi lewat perselingkuhan, dan sekarang seolah dirinya dijadikan manfaat oleh suaminya sendiri.
"Aaaaaaa!" teriak Anggit sekencang mungkin, berharap bebannya sedikit berkurang.
"Kamu benar-benar tega denganku, kamu sudah melakukan kebohongan besar terhadap diriku. Bahkan, tidak hanya dalam satu kebohongan, tetapi banyak kebohongan lainnya yang kamu sembunyikan dariku." Ucap Anggit dengan lirih, juga dengan napasnya yang terasa berat.
Karena sudah lewat jam tengah malam, Anggit mulai merasa kantuk dan sudah terasa lengket kedua matanya.
Tidak ingin kesehatannya menurun, Anggit memilih untuk beristirahat. Berharap, paginya akan ia temukan titik terang untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya bersama Leo Jantrika.
Sedangkan di kediaman kekuatan Hambalan, Tuan Dorman belum juga bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya pun belum bisa tenang, bayang-bayang menantunya masih terngiang-ngiang di ingatannya.
"Sudahlah Pa, semua sudah terjadi. Ini salah kita yang tidak mengatakan yang sebenarnya jika keluarga Zardian tidaklah berhutang budi pada kita, tapi sebaliknya. Justru lewat mendiang ayahnya Anggit lah, kita bisa mendapat kesempatan sampai saat ini." Ucap ibunya Leo yang baru menyadari akan keteledoran atas kebenaran.
"Ya benar, ini salah kita, sampai-sampai membuat Leo menjadi besar kepala dan juga keras kepala. Andai saja Leo tahu yang sebenarnya, mungkin Leo akan berpikir dua kali untuk berselingkuh." Jawab Tuan Dorman yang baru menyadari titik temu yang sebenarnya.
"Semuanya sudah terjadi Pa, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusan dari pihak keluarga Zardian." Ucap ibunya Leo yang sudah buntu untuk mencari titik temunya.
"Sudah malam, ayo kita tidur. Besok masih ada waktu untuk memikirkan kembali untuk menyelesaikan masalah dengan keluarga Zardian." Jawab Tuan Dorman untuk mengajak istrinya beristirahat.
__ADS_1
Lain lagi dengan Kavil, kedua matanya ternyata masih terjaga kesadarannya, lantaran dirinya tengah disibukkan untuk menyelesaikan masalah yang tengah dirundung kesedian oleh kakak perempuannya.
Meski kesadarannya masih terjaga, tetap saja rasa kantuknya sulit untuk ia tahan. Pelan-pelan, kepalanya serasa mau jatuh dan pindah ke alam lain. Karena sudah hampir jam dua pagi, Kavil akhirnya menjatuhkan kepalanya di atas meja karena rasa kantuknya yang luar biasa.